Jumat, 28 September 2012

KEMURAHAN DAN KEBAIKAN HATI



Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (Kolose 3:12)

Kemurahan dan kebaikan, adalah dua kata yang muncul dalam 9 buah Roh. Dengan demikian, salah satu dasar dari kemurahan hati manusia, dan setiap kebaikan manusia harus kita sadari berasal dari karya Roh Kudus di dalam hati kita. Sebagai manusia berdosa, kita telah mengalami kemurahan hati Tuhan, yang mengembalikan harkat manusia sebagai ciptaan yang sungguh amat baik, berkenan di hadapan Allah, melalui kasih karunia keselamatan kita. Disebut kasih karunia karena kita menerima apa yang seharusnya bukan menjadi bagian kita, apa yang seharusnya tidak layak kita terima, apa yang tak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan manusia. Dengan begitu karena kemurahan Allah kita dimampukan untuk dapat menjadi murah hati karena karya Roh Kudus. Karena kebaikan Allah yang kita alami, melalui karya Roh Kudus pula kita dimampukan untuk mampu mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Kemurahan pada umumnya diartikan sebagai tindakan yang penuh kasih. Hati yang digerakkan oleh belas kasihan untuk dapat memberi dan berbagi pada sesama. Karena kemurahan semata-mata didasari oleh kasih, kemurahan tidak menuntut balasan. Belas kasih tanpa pamrih, itulah yang diajarkan oleh Allah kepada kita, melalui kasih karunia-Nya yang besar bagi kita. Kebaikan berbicara tentang budi pekerti yang baik, namun tidak hanya hal yang baik dirasakan oleh orang lain namun mengandung unsur kasih, ketulusan dan kebenaran. Dengan demikian, Allah yang baik karena Dia sempurna, melalui perbuatan dan karya-Nya adalah juga demi mendatangkan kebaikan bagi dunia.

Dengan demikian, kemurahan dan kebaikan hati, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Kasih Allah dan karya Roh Kudus memampukan kita berbuah kemurahan hati  sama seperti Allah yang telah bermurah hati kepada kita. Kemurahan Allah mendorong kita untuk memiliki kemurahan hati yang penuh belas kasih pada sesama. Kemurahan itu akan dapat dirasakan melalui segala perbuatan baik yang kita lakukan. Tentu saja, setiap kebaikan yang kita lakukan adalah bukan sekedar segala hal yang baik di mata manusia, namun juga dilandasi oleh kasih kepada sesama, ketaatan pada ketetapan dan hukum Allah, kehendak dan perkenan Allah, sehingga pada akhirnya setiap perbuatan kita mencerminkan kebaikan Allah, dan melaluinya Allah sumber segala kebaikan dapat dimuliakan tinggi. 

Marilah kita mau menyatakan karya Roh Kudus dengan hidup berbuah kemurahan dan kebaikan agar kemurahan dan kebaikan Allah dirasakan oleh sesama kita dan dengan demikian Allah semakin dipermuliakan.

Kamis, 20 September 2012

DAMAI SEJAHTERA


Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:7)

Hidup dalam damai sejahtera adalah dambaan setiap orang. Damai sejahtera atau shalom, seringkali dilukiskan sebagai situasi yang penuh dengan damai, tidak ada persoalan, keselarasan, dan kemapanan. Namun menjadi pertanyaan kita, kapan dan di manakah damai sejahtera dapat muncul dan kita rasakan di tengah dunia yang berdosa dan penuh ketidakadilan?

Sejak semula dunia dengan segala isinya termasuk manusia diciptakan dalam damai sejahtera, untuk mengalami damai sejahtera di taman Eden. Allah melihat semua ciptaan-Nya itu sungguh amat baik, dalam suatu harmoni di mana manusia dipercaya sebagai pengelolanya. Namun  damai sejahtera itu menjadi rusak, saat manusia terpisah dari Allah karena kejatuhannnya ke dalam dosa. Adam dan Hawa menjadi kehilangan damai sejahtera dan saling menuding. Manusia kehilangan damai sejahtera karena menjadi takut atas kesalahannya, dan akhirnya terpisah dari Allah. Keselarasan manusia dengan alam pun menjadi rusak, sehingga manusia harus berpeluh untuk mendapatkan makanannya.

Karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka tidak ada lagi damai sejahtera. Namun Allah yang penuh kasih, mengutus sang Raja Damai, yaitu Yesus Kristus Tuhan kita. Karena anugerah keselamatan dari sang Raja Damai, manusia dapat memperoleh kembali damai sejahteranya, yaitu saat dapat kembali dipersatukan dengan Allah. Dengan demikian, damai sejahtera yang sejati diperoleh bukan sekedar mengenal Kristus sang Raja Damai, namun lebih jauh lagi damai sejahtera itu menjadi nyata dalam kehidupan saat kita menyatu dengan Kristus.

Agar dapat bersatu dengan Kristus, kita perlu merespon anugrah keselamatan yang Allah telah berikan oleh Allah karena iman kita, yaitu damai sejahtera surgawi, yang bersumber dari Allah sendiri. Selanjutnya kita berpindah dari hidup yang gelap karena dosa, menuju hidup dalam damai sejahtera Allah yang memperoleh bimbingan dari Roh Kudus. Dengan menerima dan merespon damai sejahtera surgawi itulah hidup kita diharapkan semakin sempurna menuju keserupaan dengan Kristus, dan mampu menghadirkan damai sejahtera bagi dunia yang gelap ini. Dengan demikian, janganlah takut hidup di dunia ini, namun hiduplah menghadirkan damai sejahtera, karena damai sejahtera-Nya memelihara kita. Ingatlah pesan rasul Paulus ini : Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:7)

Shalom !

KESABARAN DALAM SEGALA HAL



"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa!"  (Roma 12:12)

Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengucapkan atau mendengar kata “sabar”. Kesabaran, seringkali dikonotasikan dengan beberapa keadaan. Sabar bisa berarti menjaga emosi, tidak mudah marah, tidak terburu nafsu dalam menghadapi segala situasi. Sabar juga dapat berarti kehidupan yang tabah menghadapi segala macam persoalan yang menimpa. Sekalipun berat, namun tetap kuat menjalaninya. Kesabaran menuntut seseorang untuk tangguh menghadapi tantangan dan persoalan yang sebenarnya tidak diinginkan terjadi.

Dalam iman kita, kesabaran adalah salah satu dari buah Roh, mencerminkan salah satu buah kehidupan yang seturut dengan kehendak Bapa. Tentu ini bukan berarti karena kehidupan kita telah terlepas dari segala macam persoalan, tapi justru dengan hidup bersandar kepada Tuhan, kita dapat memandang persoalan hidup ini dengan cara yang berbeda. Itulah cara Tuhan membentuk kita, Dia mengerti persoalan hidup kita, dan memampukan kita untuk mengadapinya.

Dalam surat Roma 12:12, Rasul Paulus memberikan nasihat mengenai kesabaran. Yang menarik adalah, kesabaran itu selalu terkait dengan pengharapan dan doa. Dengan demikian, pada waktu Rasul Paulus meminta jemaat untuk selalu bersabar dalam kesesakan, itu bukan berarti menahan penderitaan semata, namun kita bersabar karena sabar itu berdampingan dengan doa, di mana kita dapat membawa segala persoalan kita dalam penyerahan diri kepada Tuhan, dan Dia yang akan memberikan kekuatan. Kita bersabar dalam menghadapi segala persoalan hidup di dunia ini, juga karena sebagai orang percaya kita memiliki pengharapan, yaitu akan tiba waktunya Kristus datang kembali ke dunia ini dan membawa umat yang berkenan dihadapan-Nya masuk ke dalam Kerajaan Surga yang mulia. Untuk sebuah pengharapan yang demikian mulia, apalah arti persoalan hidup kita di dunia ini ?

Karena itu, marilah kita hidup dalam kesabaran, karena Tuhan selalu memberi kekuatan dan menopang saat kita jatuh, untuk menjalani dinamika hidup selama penantian akan pengharapan kita untuk masuk dalam kehidupan kekal.

Jumat, 07 September 2012

SUKACITA DALAM SEGALA HAL


SUKACITA DALAM SEGALA HAL

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)

Bagaimana pada umumnya orang menggambarkan tentang sukacita ? Kebanyakan akan menghubungkan sukacita dengan perasaan senang, karena apa yang sedang dialami membawa dampak yang  positif. Barangkali sukacita karena mendapatkan hadiah, sukacita karena lulus ujian, sukacita dalam suatu keberhasilan, atau sukacita karena merasa dicintai. Tentu tidak salah, karena sukacita, senang, bahagia, memiliki kedekatan makna. Namun bagaimana kalau kemudian sukacita itu dihubungkan dengan hal-hal  seperti penjara, kekurangan, kehilangan, atau bahkan dalam situasi-situasi yang menurut banyak orang adalah penderitaan dan kerasnya hidup? Mungkinkah?

Sukacita dalam gambaran di atas, adalah sukacita yang bersandar pada perasaan kita yang merespon peristiwa yang terjadi pada kita, terjadi di sekitar kita dan berdampak pada kita. Namun bila sukacita itu berhenti sampai di situ saja, maka sukacita itu akan sangat mudah berubah menjadi dukacita, karena perasaan kita tertuju pada diri dan apa yang ada disekitar kita. Sukacita yang demikian, bukanlah sukacita yang sejati. Surat Filipi, di mana kalimat “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”  ditulis,  dalam pandangan manusiawi kita barangkali akan tampak sangat ironis. Judul-judul perikopnya berbicara tentang sukacita dan ucapan syukur, namun sejatinya ditulis dari dalam penjara. Tentu kita jadi bertanya-tanya, sukacita semacam apakah yang dialami Paulus, dan oleh pengalaman itu Paulus dapat menguatkan jemaat Filipi ?

Sukacita yang sejati, bukanlah sekedar kesenangan, atau sekedar perasaan positif kita terhadap sesuatu. Sukacita sejati memiliki dimensi rohani, yaitu mindset yang dinaungi oleh iman dan pengharapan akan Kristus. Sukacita yang sejati tidak tergantung pada situasi apa yang kita hadapi, namun berorientasi surgawi, yaitu sukacita yang tertuju kepada Kristus, mengucap syukur karena Kristus, hidup bagi Kristus, dan melakukan apa yang Kristus kehendaki untuk kita kerjakan. Di bagian lain Paulus menegaskannya demikian : Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. (Filipi 3:7-8a)

 Hidup yang bersukacita adalah hidup bagi kemuliaan Kristus, dan memancarkan kemuliaan-Nya. Saat hidup kita tertuju pada Kristus dan Dia tinggal di dalam kita, maka sukacita yang meluap dari dalam diri kita bukan lagi bersandar pada apa yang fana, namun pada kekekalan. Kita sudah mendapatkan sukacita karena iman kepada Kristus yang akan membawa kita pada hidup kekal, jadi sukacita apa lagi yang dapat melebihinya ?

Karena itu, bersukacitalah senantiasa dalam segala hal !

Kamis, 30 Agustus 2012

KASIH YANG SEMPURNA



Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40)

“Kasih yang sempurna telah kutrima dari-Mu, bukan karna kebaikanku, hanya oleh kasih karunia-Mu kau pulihkan, layakkanku tuk dapat memanggil-Mu Bapa...” Demikianlah sepenggal lirik lagu rohani yang sering kita dengar dan kita nyanyikan. Lagu tersebut membicarakan tentang kasih yang istimewa, yaitu kasih yang sempurna, yang karena kebaikan Allah, telah memberikan kasih karunia yang paling berharga, yaitu keselamatan kita yang ditebus-Nya dengan darah Kristus di atas kayu salib. Mengapa kasih itu disebut sempurna ? Karena tiada kasih yang lebih besar dari kasih yang rela memberikan nyawa bagi mereka yang sebenarnya tidak layak dikasihi. Inilah kasih tak bersyarat, yang dipraktekkan oleh Allah sendiri bagi umat yang dikasihi-Nya.

Kasih Allah yang dikaruniakan kepada kita, menjadikan kita anak-Nya. Pada waktu kita mendapatkan kasih karunia itu, kita menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kasih Allah, karena Dia ada di dalam kita. Kasih Allah bukanlah sekedar apa yang dilakukan oleh Allah, namun kasih adalah hakikat adalah Allah sendiri. Karena itulah, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Mat 22:37-40) adalah rangkuman dari seluruh hukum Taurat dan kisah para nabi. Ketaatan kepada hukum Allah seharusnya didasarkan pada karakter “kasih” yang merupakan cerminan Allah yang tinggal di dalam kita, bukan lagi ketaatan yang didasarkan pada perasaan takut dan keterikatan pada hukum itu sendiri. Allah yang adalah kasih tinggal di dalam kita, dan kita mencermikan keillahian-Nya dengan mengasihi. Kasih yang adalah hakikat Allah seharusnya menjadi karakter kita umat-Nya. Inilah inti dari keserupaan dengan Kristus, di mana Kristus yang harus semakin bertambah mewarnai karakter kita, dan kita yang harus semakin berkurang, yaitu ego kita.

Sebagai umat yang berkarakter Kristus, kita meneladani dan menuju kesempurnaan Kristus. Karena itu, kita memegang hukum kasih sebagai dasar pertumbuhan karakter kita. Melalui kasih kepada Allah dengan segenap hati, pikiran dan akal budi, kita menempatkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan kita, dan dengan mengasihi sesama, tentu dengan sendirinya tidak akan melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Saat kita hidup didalam terang kasih yang sempurna itu, hidup dan karakter kita pun boleh semakin disempurnakan.

Berbicara tentang “Kekristenan” artinya kita sedang berbicara tentang kasih, karena menjadi Kristen bukanlah tentang beragama, namun hidup berkarakter Kristus, yaitu KASIH.

Sabtu, 25 Agustus 2012

“Cintailah Ploduk-Ploduk Indonesia ... “

“Cintailah ploduk-ploduk Indonesia ... “ barangkali klaim iklan tersebut cukup populer di telinga kita. Tidak ada kesengajaan ataupun kesalahan ucap, tapi memang demikian style bintang iklan, sekaligus pemilik dari PT Maspion, Bapak Alim Markus, yang walaupun sudah sepuh, namun tampak sangat energik. Mengapa saya tiba-tiba menuliskan ini ? Karena buat saya iklan produk Uchida dari Maspion ini termasuk fenomenal, mungkin diluar pakem brand building ala advertising agency.

Iklan produk Uchida yang sering muncul di televisi didesign dengan storyboard sederhana. Iklan hanya menampilkan jenis produk yang diiklankan, menjelaskan fungsinya, dengan endorser penyanyi dan pencipta lagu Titiek Puspa didampingi Alim Markus sendiri, ditutup dengan tagline yang menurut saya sangat menohok, “Cintailah ploduk-ploduk Indonesia ... “ bukan karena kalimatnya, tapi karena cara mengucapkannya, sehingga kalau anda googling “cintailah ploduk” maka akan muncul tak kurang dari 10.200 hasil pencarian. Yang menarik lagi, belakangan muncul versi baru, di mana Alim Markus tidak berdampingan dengan Titiek Puspa, namun dengan ketua DPR Marzuki Alie, yang membuka iklan dengan himbauan untuk mencintai produk Indonesia, disambung dengan produk-produk Uchida, dan tentu ditutup dengan Alim Markus dengan tagline nya : “Cintailah ploduk-ploduk Indonesia”

Dari sisi branding, barangkali pendekatan yang dilakukan Uchida ini tampak kuno, tapi sesungguhnya sangat “out of the box”. Justru salah satu kekuatan iklan ini bukanlah pada produk, namun personal branding Alim Markus sendiri, selaku pemilik group Maspion. Barangkali analoginya seperti di pasar tradisional yang masih mengutamakan unsur kepercayaan, personal guarantee dari penjual yang sekaligus pemilik toko sangat dipertimbangkan oleh pembeli. Dalam konteks tersebut, menurut hemat saya hadirnya Titiek Puspa yang mungkin dalam skenarionya akan dijadikan figur yang kuat untuk menjadi brand ambassador Uchida, dalam eksekusinya tampak bukan menjadi endorser utama, kalah dengan awareness terhadap profil Alim Markus sendiri. Strategi komunikasi Uchida ini sungguh jauh berbeda dari pesaing-pesaingnya seperti Panasonic dan Sharp untuk produk-produk households, yang mungkin lebih menerapkan kaidah-kaidah branding, namun justru menjadi generik : membangun kekuatan brand dengan menjual inovasi teknologi sebagai yang unik, terdepan, tercanggih. Strategi Uchida cukup jitu dalam posisisnya sebagai produk me-too yang lebih fungsional sekaligus juga ekonomis.

Satu lagi terobosan Uchida adalah pesan moral dari iklannya yang tegas mengusung tema untuk selalu mencintai dan menggunakan produk-produk Indonesia. Tentu mengedepankan kecintaan pada produk Indonesia bagi kelompok masyarakat tertentu bukannya tanpa resiko. Kalau berbicara produk-produk yang bersentuhan dengan teknologi, banyak orang yang mempersepsikan Indonesia bukanlah pelopor teknologi atau inovator. Akibatnya mereka lebih Jepang, Korea, Amerika atau Eropa minded, padahal kita tahu bahwa anak bangsa ini bahkan sudah bisa membangun pesawat terbang. Mengusung tema mencintai produk Indonesia oleh Uchida, lebih mengedepankan empati keindonesiaan kita, mengusik rasa nasionalisme kita bahwa bangsa kita sudah mampu memproduksi produk-produk yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

Kampanye untuk mencintai dan menggunakan produk-produk Indonesia menjadi sangat relevan bagi kita. Bukan hanya dalam konteks iklan produk Uchida saja, tapi dalam berbagai bidang industri yang sedang berkembang di Indonesia. Memang belum semua produk bisa dibuat di Indonesia, namun kita perlu fair dan obyektif bahwa sekarang ini banyak produk Indonesia yang berkualitas tinggi, tidak kalah dengan produk asing. Oleh karena itu, ikut mendorong kampanye mencintai produk Indonesia dan memilih menggunakan produk Indonesia, sejatinya kita ikut mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Memang strategi mengedepankan “made in Indonesia” sering kali masih belum digunakan sebagai key message oleh para pebisnis kita, sehingga kita sendiri tidak selalu dapat mengenali produk asli Indonesia. Ambil contoh : J-Co donuts, yang barangkali tidak semua orang tahu bahwa waralaba tersebut asli Indonesia, milik Johnny Andrean. Atau Polytron yang sekilas seperti produk Jepang, ternyata diproduksi di Kudus, bagian dari group Djarum.

Kembali ke Uchida. Pada tanggal 18 Agustus kemarin muncul berita, Alim Markus menerima Satyalencana Pembangunan melalui keputusan Presiden no 59/TK/2012, karena dianggap berjasa membangun perekonomian nasional melalui produk berkualitas terbaik yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, juga berhasil menggerakkan masyarakat untuk menggunakan produk Nasional dengan slogan “Cintailah Produk Indonesia”. Silahkan cek beritanya di sini

Selamat untuk Pak Alim Markus, semoga tetap semangat mengkampanyekan “cinta produk Indonesia”. 

Kamis, 23 Agustus 2012

Pilkada Jakarta : Barometer Kedewasaan Berpolitik Kita !


Pagi tadi (23/8) beredar via blackberry messenger pesan berbunyi demikian :
—————-
COBA ANALISA DATA INI:
Apakah ada hubungan antara perolehan suara Foke dan Jokowi di masing2 wilayah tempat terjadinya kebakaran? Kenapa di tempat suara Jokowi unggul mutlak selalu terjadi KEBAKARAN?  Apakah ada hubungannya dengan pernyataan emosional Foke pada korban kebakaran di salah satu wilayah Jakarta  ”kalo lo pilih Jokowi, pindah saja ke Solo”
1. Cideng (Terbakar 22/8/)     Jml suara Foke: 26,07%   Jml suara Jokowi: 55,26 %
2. Kapuk Muara (terbakar 22/8)   suara Foke: 25,02%. suara Jokowi: 62,49%.
3. Karet Tengsin (terbakar 16/8)  suara Foke: 36,01%  suara Jokowi: 39,36%
4. Pdk Bambu (terbakar 15/8)  suara Foke: 35,66%  suara Jokowi: 39,14%.
5. Glodok (terbakar 12/8) suara Foke: 16,63% suara Jokowi: 77,30%.
6. Pekojan (terbakar 8/8) suara Foke: 26,73% suara Jokowi: 61,35%.
7. Pinangsia (terbakar 12/08)  suara Foke: 33,02% suara Jokowi: 56,45%
Ayo analisa dengan cerdas dan berbasis data!! Jika terjadi 7 kali berturut-turut apakah itu suatu KEBETULAN atau KESENGAJAAN?———————————–
Apa analisis anda terhadap data di atas ?

Ada 2 variable : pertama, kampung di mana Jokowi menang. Kedua, kampung itu terbakar. Persoalannya bagaimana menghubungan, atau menghubungpaksakan dua variabel yang jelas tidak berhubungan ini ? Kalau bicara menang kalah dihubungkan dengan basis pendukung partai  atau kebakaran dihubungkan arus pendek listrik, mungkin masih terhubung. Tapi menghubungkan 2 variabel di atas, tampaknya harus memiliki variabel atau asumsi tambahan, yaitu bahwa faktor politik bisa menyebabkan kebakaran, sehingga menggiring kita yang membaca untuk berkesimpulan ada kemungkinan kesengajaan. Kalau sengaja, siapa pelakunya ? Tentu saja bukan Jokowi, karena secara hitungan politik bukankah dia yang dirugikan. Foke kah pelakunya ? Tampaknya itu yang lalu menjadi kesimpulan banyak orang, walaupun belum tentu demikian.

Saya hanya berharap, BBM tersebut bukan berasal dari tim sukses Jokowi, karena menunjukkan permainan politik kekanak-kanakan. Ini bukan type Jokowi yang tidak banyak bicara tapi suka bekerja. Kalau ini dilakukan oleh orang yang mencoba membantu Jokowi, ingatlah bukannya membantu, tapi menjerumuskan, sama menjerumuskannya dengan pelempar isyu SARA yang dituding keluar dari kubu Foke.

Beberapa waktu yang lalu, kita sudah dikejutkan dengan lemparan topik SARA yang dihubungkan dengan calon pemimpin Jakarta. Sempat menjadi polemik di berbagai media massa, termasuk di Kompasiana karena selain hangat isyunya, hangat juga orang yang melemparkannya : selebriti kita bang Haji Rhoma Irama. Belum lagi ada yang menghubungkan calon pemimpin dengan daerah asal dan kesukuannya. Kalaulah kemudian masalah kebakaran di Jakarta ini lalu diangkat juga sebagai salah satu senjata untuk menyerang salah satu calon, lengkaplah sudah kehancuran demokrasi negeri ini.

Menyikapi masalah kebakaran di Jakarta walaupun tampak sekali banyak kebetulan, baiknya para politisi, tim sukses, maupun pendukung harus mulai bijaksana melempar statement. Media pun seharusnya juga bijak merilis berita, walaupun diakhiri dengan tanda tanya (?), seperti di TV One sore ini (23/8) yang mempertanyakan : kebakaran atau dibakar ? Akhirnya ramailah orang berspekulasi. Coba kalau kemudian tidak terbukti bahwa kebakaran itu disengaja, siapa yang malu ? Sikap yang benar untuk menyikapi masalah ini ya tentu saja lapor ke Polisi untuk melakukan investigasi, mencari kemungkinan kesengajaan. Atau kalau perlu sekalian lapor Pak Dahlan Ikhsan untuk meminta PLN melakukan pengecekan terhadap kelayakan instalasi listrik, terutama di area padat penduduk di Jakarta, bukannya melempar spekulasi ke masyarakat. Semoga benar adanya, pernyataan tim sukses Jokowi yang mengatakan tidak akan membawa-bawa peristiwa kebakaran di Jakarta ke ranah politik dengan mengkaitkannya dengan faktor kemenangan Jokowi di daerah yang terbakar.

Dalam berdemokrasi yang sehat, seharusnya kedua kubu calon Gubernur lebih banyak mengangkat persoalan-persoalan Jakarta dan menawarkan penyelesaiannya.  Biarlah rakyat yang menilai program siapa yang lebih dapat membawa Jakarta menjadi lebih baik. Hal inilah yang menjadi tantangan tim sukses maupun pendukung masing-masing calon untuk lebih dewasa berdemokrasi. Saya bermimpi, Jokowi - Foke dapat bersama dalam 1 panggung, membicarakan bagaimana menjadikan Jakarta lebih baik. Dan pada akhirnya nanti siapapun yang menang memimpin Jakarta akan mendapat dukungan penuh dari yang kalah. Itulah esensi dari berdemokrasi yaitu penghormatan kepada suara rakyat, menempatkan pemimpin sebagai hamba rakyat.

Kalau model demokrasi yang berbasis isyu yang tidak substansial seperti ini dianggap sebagai barometer 2014, tampaknya calon pemenang pemilu adalah partai Golput.