Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

Brand Extension : Baju Kotak Jokowi di Jabar


Berita politik yang cukup menarik kemarin (sabtu 10/11/2012) adalah dimulainya episode baru Pilkada, yaitu Pilkada Jawa Barat. Selain bertaburan artis, satu sisi menariknya adalah upaya branding dari salah satu kandidat, yaitu Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang secara mengejutkan muncul dengan seragam kotak-kotak ala Jokowi – Ahok, yang baru saja menjadi Gubernur dan Wagub DKI, sebagaimana diberitakan kompas.com di sini. Karena saya bukan warga Jawa Barat, tulisan ini bukan bermaksud mendukung salah satu calon, namun hanya ingin sedikit berpikir, apakah sukses kotak-kotak di DKI akan disusul oleh sukses kotak-kotak di Jabar ?

Apa yang ada di benak kita saat melihat atau mendengar tentang “baju kotak-kotak” ? Barangkali dalam konteks kita di Indonesia, sebelum hiruk-pikuk Pilkada Jakarta memandang baju kotak-kotak sebagai salah satu mode pakaian saja, atau baju khas koboi bila dikombinasikan dengan celana jeans. Namun Pilkada Jakarta mengubah paradigma baju kotak-kotak menjadi salah satu brand elemen dari Jokowi-Ahok, bahkan kalau kita bertanya pada warga Jakarta pada waktu itu, baju kotak-kotak pasti akan diasosiasikan ke pasangan Jokowi-Ahok. Baju kotak-kotak menjadi simbol dari Jokowi-Ahok, yang dimaknai dengan spirit baru, yaitu : kesiapan menyingsingkan lengan baju, segera bekerja untuk permasalahan DKI yang kompleks dan bermacam-macam. Tema ini menjadi relevan bila dibenturkan dengan formalitas ala Foke yang oleh warga Jakarta dipandang kurang berhasil memajukan Jakarta.

Akankah tuah baju kotak-kotak ini mampu mengatarkan Rieke-Teten untuk melawan baju putih berkacu Dede Yusuf ?

Strategi brand extension ala Jokowi – Rieke ini barangkali menjadi trend yang cukup populer di dunia marketing. Kekuatan Jokowi dengan baju kotak-kotak menggoda tim sukses pasangan Rieke-Teten untuk menggunakan ekuitas Jokowi sebagai kendaraan untuk mendongkrak awareness sekaligus elektabilitas Reike. Strategi ini barangkali cukup cerdas untuk mengemat “biaya iklan” mengingat sudah diciptakan dan dipopulerkan dulu oleh Jokowi di DKI, dan (semoga) pesan semangat perubahan (dan kemenangan) Jokowi di Jakarta yang diusung Rieke ini juga berdampak positif signifikan pada elektabilitas Rieke. Apalagi bila didukung rekam jejak Rieke sebagai politisi Senayan dan Teten Masduki di ICW, sekaligus juga secara cepat menghapus image Rieke yang dulu pernah identik dengan “Oneng Bajuri” menjadi Rieke yang cerdas dan piawai berpolitik.

Namun strategi brand extension bukannya tidak memiliki risiko. Paling tidak ada beberapa hal yang dapat menjadi masalah. Pertama, pada umumnya produk hasil brand extension jarang sekali bisa menyamai (apalagi lebih besar) dari induknya. Biar bagaimanapun kotak-kotak adalah ekuitas Jokowi, bukan Rieke. Sulit sekali membayangkan secara tiba-tiba orang bisa beralih top of mind kotak-kotak secara tiba-tiba dari Jokowi ke Rieke. Dengan demikian, dampak kotak-kotak ke Rieke kemungkinan besar tidak akan sebesar dampaknya ke Jokowi. Kedua, masalah orisinalitas. Biasanya ide yang orisinil dan berdampak besar, belum tentu berhasil bila diulang. Dampaknya pun tidak sebesar pada waktu diluncurkan dan berhasil. Ketiga, aspek kultural, dimana tema kotak-kota yang kena di hati masyarakat DKI yang metropolis dan terbuka serta beraneka ragam, belum tentu berdampak sama di Jawa Barat, khususnya diluar kota-kota besarnya, dimana masyarakatnya lebih homogen. Barangkali pada sisi ini pendekatan kultural Dede Yusuf bisa jadi lebih berhasil. Keempat, membangun koneksi Jokowi – Rieke dengan jembatan baju kotak-kotak  barangkali akan sulit terjadi secara instan, supaya pengaruhnya signifikan, karena tugas beratnya adalah memastikan bahwa semangat, kapabilitas, elektabilitas Jokowi adalah juga milik Rieke. Biar bagaimanapun kotak-kotak adalah sekedar simbol, tapi sesungguhnya roh kotak-kotak itu adalah rekam jejak, integritas dan sukses Jokowi-Ahok.

Namun demikian, tampaknya Pikada Jabar akan berlangsung dengan seru, karena bukan sekedar pertarungan politik, namun popularitas selebriti. Sepertinya berkendaraan baju kotak-kotak saja tidaklah cukup menopang elektabilitas Rieke, justru tantangan sesungguhnya adalah sejauh mana pasangan ini dapat menunjukkan ke khas-an jatidiri, komitmen dan visi terhadap Jawa Barat ke depan. Semoga apapun hasilnya nanti bukan sekedar disokong oleh popularitas semata, namun semangat memajukan Jawa Barat.

Selamat ber Pilkada.

Kamis, 23 Agustus 2012

Pilkada Jakarta : Barometer Kedewasaan Berpolitik Kita !


Pagi tadi (23/8) beredar via blackberry messenger pesan berbunyi demikian :
—————-
COBA ANALISA DATA INI:
Apakah ada hubungan antara perolehan suara Foke dan Jokowi di masing2 wilayah tempat terjadinya kebakaran? Kenapa di tempat suara Jokowi unggul mutlak selalu terjadi KEBAKARAN?  Apakah ada hubungannya dengan pernyataan emosional Foke pada korban kebakaran di salah satu wilayah Jakarta  ”kalo lo pilih Jokowi, pindah saja ke Solo”
1. Cideng (Terbakar 22/8/)     Jml suara Foke: 26,07%   Jml suara Jokowi: 55,26 %
2. Kapuk Muara (terbakar 22/8)   suara Foke: 25,02%. suara Jokowi: 62,49%.
3. Karet Tengsin (terbakar 16/8)  suara Foke: 36,01%  suara Jokowi: 39,36%
4. Pdk Bambu (terbakar 15/8)  suara Foke: 35,66%  suara Jokowi: 39,14%.
5. Glodok (terbakar 12/8) suara Foke: 16,63% suara Jokowi: 77,30%.
6. Pekojan (terbakar 8/8) suara Foke: 26,73% suara Jokowi: 61,35%.
7. Pinangsia (terbakar 12/08)  suara Foke: 33,02% suara Jokowi: 56,45%
Ayo analisa dengan cerdas dan berbasis data!! Jika terjadi 7 kali berturut-turut apakah itu suatu KEBETULAN atau KESENGAJAAN?———————————–
Apa analisis anda terhadap data di atas ?

Ada 2 variable : pertama, kampung di mana Jokowi menang. Kedua, kampung itu terbakar. Persoalannya bagaimana menghubungan, atau menghubungpaksakan dua variabel yang jelas tidak berhubungan ini ? Kalau bicara menang kalah dihubungkan dengan basis pendukung partai  atau kebakaran dihubungkan arus pendek listrik, mungkin masih terhubung. Tapi menghubungkan 2 variabel di atas, tampaknya harus memiliki variabel atau asumsi tambahan, yaitu bahwa faktor politik bisa menyebabkan kebakaran, sehingga menggiring kita yang membaca untuk berkesimpulan ada kemungkinan kesengajaan. Kalau sengaja, siapa pelakunya ? Tentu saja bukan Jokowi, karena secara hitungan politik bukankah dia yang dirugikan. Foke kah pelakunya ? Tampaknya itu yang lalu menjadi kesimpulan banyak orang, walaupun belum tentu demikian.

Saya hanya berharap, BBM tersebut bukan berasal dari tim sukses Jokowi, karena menunjukkan permainan politik kekanak-kanakan. Ini bukan type Jokowi yang tidak banyak bicara tapi suka bekerja. Kalau ini dilakukan oleh orang yang mencoba membantu Jokowi, ingatlah bukannya membantu, tapi menjerumuskan, sama menjerumuskannya dengan pelempar isyu SARA yang dituding keluar dari kubu Foke.

Beberapa waktu yang lalu, kita sudah dikejutkan dengan lemparan topik SARA yang dihubungkan dengan calon pemimpin Jakarta. Sempat menjadi polemik di berbagai media massa, termasuk di Kompasiana karena selain hangat isyunya, hangat juga orang yang melemparkannya : selebriti kita bang Haji Rhoma Irama. Belum lagi ada yang menghubungkan calon pemimpin dengan daerah asal dan kesukuannya. Kalaulah kemudian masalah kebakaran di Jakarta ini lalu diangkat juga sebagai salah satu senjata untuk menyerang salah satu calon, lengkaplah sudah kehancuran demokrasi negeri ini.

Menyikapi masalah kebakaran di Jakarta walaupun tampak sekali banyak kebetulan, baiknya para politisi, tim sukses, maupun pendukung harus mulai bijaksana melempar statement. Media pun seharusnya juga bijak merilis berita, walaupun diakhiri dengan tanda tanya (?), seperti di TV One sore ini (23/8) yang mempertanyakan : kebakaran atau dibakar ? Akhirnya ramailah orang berspekulasi. Coba kalau kemudian tidak terbukti bahwa kebakaran itu disengaja, siapa yang malu ? Sikap yang benar untuk menyikapi masalah ini ya tentu saja lapor ke Polisi untuk melakukan investigasi, mencari kemungkinan kesengajaan. Atau kalau perlu sekalian lapor Pak Dahlan Ikhsan untuk meminta PLN melakukan pengecekan terhadap kelayakan instalasi listrik, terutama di area padat penduduk di Jakarta, bukannya melempar spekulasi ke masyarakat. Semoga benar adanya, pernyataan tim sukses Jokowi yang mengatakan tidak akan membawa-bawa peristiwa kebakaran di Jakarta ke ranah politik dengan mengkaitkannya dengan faktor kemenangan Jokowi di daerah yang terbakar.

Dalam berdemokrasi yang sehat, seharusnya kedua kubu calon Gubernur lebih banyak mengangkat persoalan-persoalan Jakarta dan menawarkan penyelesaiannya.  Biarlah rakyat yang menilai program siapa yang lebih dapat membawa Jakarta menjadi lebih baik. Hal inilah yang menjadi tantangan tim sukses maupun pendukung masing-masing calon untuk lebih dewasa berdemokrasi. Saya bermimpi, Jokowi - Foke dapat bersama dalam 1 panggung, membicarakan bagaimana menjadikan Jakarta lebih baik. Dan pada akhirnya nanti siapapun yang menang memimpin Jakarta akan mendapat dukungan penuh dari yang kalah. Itulah esensi dari berdemokrasi yaitu penghormatan kepada suara rakyat, menempatkan pemimpin sebagai hamba rakyat.

Kalau model demokrasi yang berbasis isyu yang tidak substansial seperti ini dianggap sebagai barometer 2014, tampaknya calon pemenang pemilu adalah partai Golput.