Senin, 22 April 2013

Kartini dan Kebayanya




Presiden Soekarno yang mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. (wikipaedia)

Kepahlawanan Raden Ajeng Kartini, sekalipun masih menimbulkan kontroversi di beberapa kalangan, namun saat ini secara umum hari Kartini masih juga dirayakan. Kegiatan yang pada umumnya dapat dengan mudah ditemukan dalam rangka peringatan hari Kartini, adalah kesetaraan gender, dengan mengangkat tema emansipasi, namun diwujudkan dengan dandanan cantik berkebaya. Pendek kata, hari Kartini adalah hari istimewa para wanita; yang dewasa berkebaya cantik ala Kartini, yang kecil pun berlenggok di atas catwalk bertemakan kebaya dan batik. Tentu melestarikan kebudayaan adalah hal yang sangat baik, namun bukankah bukan itu konteks hari Kartini ?

Kartini dijadikan pahlawan nasional tentu bukan karena kebayanya. Kartini dijadikan pahlawan Nasional karena pemikiran dan tindakannya. Barangkali gagasan Kartini hari ini adalah hal yang biasa, namun pada masanya sangatlah kontroversial. Kartini adalah figur wanita cerdas dan kritis. Karenanya sekalipun merelakan pendidikan formal nya terputus karena budaya pada masanya memang demikian, semangat belajar Kartini tidaklah pupus. Kartini melanjutkan belajarnya dengan membaca surat kabar dan berkorespondensi dengan sahabat Belandanya. Barangkali persinggungan antara permikiran Barat dengan semangat belajar Kartini pada akhirnya membuatnya kritis terhadap segala hal : tentang lingkungan budaya Jawa di mana dia hidup, tentang hasratnya untuk bersekolah di negeri Belanda, tentang cita-citanya agar kaum wanita mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Menghayati kepahlawanan Kartini adalah mencoba menyelami hasrat yang mendalam untuk maju, niat yang kuat untuk meraih cita-cita. Kartini dengan pemikiran dan cita-citanya semestinya menjadi inspirasi, bukan hanya bagi kaum wanita, namun juga bagi bangsa yang sedang merindukan banyak hal, yang masih berkutat dengan berbagai macam persoalan ini. Semoga dalam konteks ini kita tidak hanya cukup puas nyaman menjadi penonton dan membicarakan, namun juga mau mengambil hikmah darinya agar tidak tenggelam dalam wacana yang tak berkesudahan.

Kartini bukan sekedar kebaya dan sanggulnya. Kalau inspirasi Kartini diwujudkan hanya dengan mengenakan kembali sanggul dan kebaya Kartini saja, rasanya kita ini masih sekedar menjadi fans Kartini, tidak lebih dari si kecil yang menari berkostum K-Pop setelah menonton tarian gadis-gadis Korea di TV. Memperingati hari Kartini adalah mengingat semangat Kartini untuk menjadikan dirinya lebih baik, lebih bermakna bagi orang lain, dan yang paling penting bertindak untuk memperjuangkannya. Dengan demikian, berbicara tentang Kartini seharusnya bukan lagi berbicara masalah gender semata, namun mengenai semangat Kartini yang dapat menjadi milik semua orang. Kalau hari ini banyak wanita pintar, berpendidikan tinggi dan sukses, itulah hasil dari penghayatan semangat Kartini dari generasi terdahulu. Kartini telah pergi, tapi semangatnya tetap hidup dan menjadi inspirasi.

Selamat Hari Kartini !

Kamis, 17 Januari 2013

Jempolmu Adalah Harimaumu


Kalau anda pengguna Blackberry (BB), dan tiba-tiba BB berbunyi, munculah pesan dari BBM diawali dengan kalimat sakti “Sorry BC” atau “sorry BM”, maka terangkailah kata-kata yang indah dengan penutup yang terkesan menakutkan “sebarkan kalau anda peduli”. Pada akhirnya banyak orang yang lalu ikut-ikutkan memanfaatkan fasilitas sakti “broadcast message” di blackberry itu untuk mengirimkan pesan ke seluruh contact atau kelompok contact tertentu, hanya dengan beberapa step sederhana dengan menggunakan jempol anda.
Broadcast message merupakan salah satu terobosan teknologi di blackberry messenger yang pasti sangat bermanfaat, apalagi kalau dikaitkan positioning blackberry sebagai gadget yang mumpuni sebagai “mobile office”, melengkapi fasilitas lainnya yang tidak kalah menarik, yaitu push email. Dengan broadcast message katakanlah seorang sales manager dapat dengan mudah menyampaikan satu instruksi kepada semua sales force nya dalam waktu singkat tanpa harus memilih kontak dan copy paste message satu demi satu. Namun demikian, dalam prakteknya tidak semua BM (broadcast message) yang kita terima itu bermanfaat, atau memang diharapkan.
Ada bermacam-macam BC yang mungkin bisa kita terima :
  • BC Kekanak-kanakan (atau memang dikirim anak-anak) : biasanya berisi semacam “add PIN temanku ini XXXXXX, maka kamu akan mendapatkan PIN artis-artis terkenal” atau bisa juga “nanti pukul 12.00 malam akan datang seorang anak kecil ke dalam mimpimu dan dia akan mengajakmu bermain”.  Kalau sering BC seperti ini, lebih baik cek jangan-jangan anak anda sudah membagi PIN anda ke teman-temannya.

  • BC  jualan : “ada yang mau tas LV KW 2, murah, please PING me.” Bisa bermanfaat buat yang suka shopping, tapi bisa juga nyebelin kalau dapet iklan terus-terusan.

  • BC kalimat bijak/religius : biasanya berisi kalimat-kalimat motivasi atau ayat-ayat kitab suci dan renungan hidup, buat saya merupakan bacaan yang sangat bermanfaat untuk memulai hari. Mungkin ada baiknya menyimpan  BC yang seperti ini.

  • BC hoax : mungkin maksudnya baik, tapi tidak cek dan re-cek informasi, sehingga secara tidak sadar menyebarkan berita yang tidak benar. Misalnya saja, terkait banjir Jakarta 16 Januari 2013, muncul BC yang maksudnya baik meminta orang waspada, tapi ditambahi kalimat serem “Jakarta akan terendam banjir terbesar di Indonesia yang akan dimulai sore ini pukul 18:00 wib pintu air katulampa akan dibuka sebab sudah tidak dapat menampung ketinggian air” …  Maksudnya baik, tapi datanya patut diragukan. Atau mungkin pernah dapat BC yang mendaur ulang email atau SMS hoax ini : “berikut ini daftar obat yang tidak boleh dikonsumsi karena mengandung PPA … “  Bukankah obat-obat tersebut masih beredar dan ada no reg BPOM ?

  • BC humor : misalnya yang baru saja beredar hari ini : “ sekilas info : karna banyaknya berita akan terjadinya banjir besar2an di Jakarta, maka tahun baru Imlek khusus di Jakarta, kata gong xi fat choi, diubah menjadi ngung si yuk choi … !! Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan”.  BC humor yang konteksual, walaupun kalau dibaca orang yang kebanjiran pastilah diiringi senyum kecut “kok ni orang ga punya empati sama sekali ya sama orang yang lagi kena musibah”. Atau mungkin juga BC kutipan humor yang beredar di internet dan disebarkan via BBM. Tinggal copy – paste, jadi deh.

  • BC politik : biasanya berisi sikap politik atau cacian terhadap pernyataan kontroversial seorang tokoh. Misalnya saja reaksi masyarakat atas pernyataan rasis seorang pengacara baru-baru ini, muncul BC kecaman dengan embel-embel “sebarkan terus sampai si X itu membacanya”. Atau juga BC dimanfaatkan untuk kampanye politik tim sukses calon pemimpin, entah itu walikota, gubernur, atau kades, biasanya berisi link artikel rekam jejak calon, diakhiri dengan slogan : “jangan salah pilih, coblos pasangan X dan Y demi kota Z yang lebih baik”

  • BC link artikel : biasanya salah satu cara penulis  mempromosikan tulisannya deh ini. Hehehe.

  • BC info bermanfaat : nah, kadang ada juga BC yang bermanfaat semacam yang beredar hari ini (17/1/13): “Buat teman-teman yang membutuhkan evakuasi, bisa menghubungi 6344215 (Jak Pus), 43931063 (Jak Ut), 5682284(Jak Bar), 7515054(Jak Sel), 85904904(Jak Tim)”. Mungkin juga anda pernah dapat informasi tentang modus kejahatan baru di ATM atau juga barangkali copy paste berita kompas.com untuk update lokasi-lokasi genangan banjir.  Berita atau catatan begini barangkali bisa bermanfaat, namun sebelum ikut forward ke contact kita, ada baiknya cek ke sumber lain di internet, benar atau tidaknya informasi tersebut, supaya kita tidak berpotensi meneruskan kesalahan.
Bagaimanapun teknologi BBM diciptakan untuk kemudahan, kepraktisan dan kenyamanan, namun manfaatnya  kita sendirilah yang menentukannya. Apa yang kita sebarkan, menggambarkan kepribadian kita. Jadi berpikirlah dulu sebelum jempol bertindak.
Jempolmu adalah harimaumu.

Selasa, 08 Januari 2013

Pajak UMKM 1% dari Omzet : Bukan Sekedar Masalah Uang


Dirjen Pajak sedang merencanakan untuk memberlakukan pengenaan pajak untuk UMKM sebagaimana dicatat kompas.com di sini :

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany menyatakan akan memberlakukan pajak kepada usaha kecil dan menengah (UKM). Pajak yang dikenakan sebesar satu persen dari total omzet setahun.”Yang punya usaha tetap akan dikenakan pajak penghasilan sebesar satu persen dari omzet,” ucap Fuad saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/1/2013).

Pengenaan pajak 1 persen dari omzet ini apabila nanti ditetapkan berpotensi mengundang kontroversi. Paling tidak akan muncul tiga pertanyaan ini :

Pertama, pengenaan pajak yang proporsional dari usaha beromset Rp. 0 – 4,8 miliar, mengandung berpotensi memberatkan terutama bagi usaha kecil, apalagi memproduksi produk yang sejenis dengan usaha menengah. Memang Dirjen Pajak pernah menyebut akan ditetapkan hanya 0,5% untuk omset dibawah Rp. 300 juta per tahun, namun pernyataan ini sedikit membingungkan karena pernyataan awalnya 1% dikenakan untuk omset Rp. 0 – 4,8 miliar; bukan >Rp. 300 juta – 4,8 miliar. Untuk melindungi usaha kecil (dan mikro), justru ada kebutuhan pemberian insentif pajak bagi mereka, agar terus mengalami pertumbuhan usaha.Dorongan pada usaha kecil ini dapat menjadi cara Pemerintah untuk menekan angka pengangguran, karena selain mendorong pertumbuhan entrepreneur baru, keberadaan mereka akan menyerap lebih banyak tenaga kerja, karena usaha mikro – kecil lebih labour intensive.

Kedua, pengenaan pajak yang didasarkan pada omzet juga dapat menimbulkan persoalan tersendiri. Seperti kita ketahui, setiap jenis usaha atau industri pasti memiliki struktur permodalan, keuangan dan laba tersendiri. Ada jenis usaha yang mempunyai margin laba besar dan volumenya kecil, ada sebaliknya jenis usaha yang bermargin laba kecil namun mengandalkan volume dan nilai waktu dari uang. Dengan demikian pengenaan pajak yang dipukul rata berdasarkan omset ini akan menimbulkan ketidakadilan.  Usaha yang mendapatkan margin laba besar akan dikenai pajak yang relatif kecil dibandingkan dengan margin labanya, sebaliknya jenis usaha yang bermargin laba kecil akan kena pajak cukup besar relatif ke margin labanya.

Sebagai ilustrasi, usaha dengan omset  Rp. 1.000, dan margin laba 30% memperoleh laba bersih Rp. 300, dipotong pajak 1% dari Rp.1.000,- atau sebesar Rp.10,-, maka dia akan memperoleh pendapatan bersih Rp. 290,-, dimana nilai pajaknya adalah 10/300, atau sebesar 3,3%. Sebaliknya, usaha dengan omset yang sama sebesar Rp. 1.000,- namun dengan margin laba 5% akan mendapatkan laba bersih Rp. 50,-, dipotong pajak 1% dari Rp. 1.000,- atau sebesar Rp.10,-, maka dia akan memperoleh pendapatan bersih Rp. 40,-, dimana nilai pajaknya adalah 10/50, atau sebesar 20%.

Ketiga, belum lagi nanti bila dikaitkan dengan usaha-usaha yang baru muncul, yang tentu saja omset tidak menggambarkan tingkat keuntungan, bahkan boleh dikatakan masih merugi jika ditilik dari investasi awal yang dikeluarkan. Untuk mereka seharusnya akan lebih menarik dan bersemangat melakukan ekspansi usaha bila pembayaran pajak dimulai saat mendapatkan profit.

Melihat potensi persoalan ini, bilamana tetap akan dikenakan ujung-ujungnya pajak sebesar 1 persen ini bisa jadi akan dibebankan ke konsumen untuk mempertahankan kinerja dan kemampulabaan usaha. Pemindahan risiko ke konsumen ini berupa kenaikan harga, yang belum tentu nilainya 1%, namun bisa lebih. Masih lagi ditambah dengan kenaikan biaya lainnya sudah di depan mata : kenaikan UMP, kenaikan TDL, kemungkinan kenaikan harga BBM, dan efek dari kenaikan harga di industri hulu (bahan baku/kemasan) serta kenaikan biaya distribusi/transportasi. Pertanyaannya adalah : dalam kondisi demikian bagaimanakah UMKM mempertahankan daya saingnya ?

Catatan di atas semestinya menjadi pertimbangan untuk penetapan kebijakan  pajak ke UMKM ini, supaya selain dapat memenuhi target, namun juga tidak mengusik rasa keadilan masyarakat. Jadi semestinya ini bukan ditafsirkan sebagai penolakan membayar pajak, namun lebih kepada bagaimana pengenaan pajak itu tidak memberatkan yang kecil dan cukup adil bagi mereka. Lalu pertanyaannya : bukankah hanya 1% dan bukankah akan lebih sederhana dibandingkan harus menyusun laporan keuangan, menetapkan profit dan menghitung pajaknya? Apakah alasan-alasan di atas jadi tampak mengada-ada ?
Memang yang menjadi persoalan bila pajak UMKM dihitung berdasarkan profit maka akan terkendala dengan bagaimana kemampuan UMKM itu dalam menyusun laporan keuangan, dan menghitung pajaknya sendiri. Justru inilah yang menjadi persoalan, siapa yang mau mendidik mereka untuk dapat menghitung pajaknya sendiri dengan baik, benar dan jujur? Bukankah kalaupun nanti pajak disederhanakan dengan langsung dikenakan 1% dari omset, siapa yang dapat menentukan nilai omset sesungguhnya kalau tidak ada pencatatan? Masalahnya akan sama kalau tidak diajarin.

Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bukan sekedar membayar pajaknya, namun termasuk juga bagaimana nantinya pemenuhan ekspektasi masyarakat terhadap pengenaan pajak ini. Seberapa yakin para pelaku usaha khususnya UMKM terhadap imbal balik atas kewajiban membayar pajak, apakah akan diimbangi dengan hak untuk :
  • Menikmati infrastruktur yang baik sehingga biaya menjadi lebih efisien,

  • Mendapatkan pelayanan birokrasi yang ramah dan tidak berbelit-belit,

  • Menikmati  kebijakan yang masuk akal dan memenuhi rasa keadilan masyarakat

  • Yakin terhadap kesungguhan komitmen terhadap pemberantasan korupsi
Selanjutnya, menimbang daya dukung UMKM terhadap laju perekonomian, maka yang perlu dipikirkan selain menarik pajak dari mereka, justru upaya-upaya apa yang dapat dilakukan agar UKM dapat berkembang. Beberapa hal yang dapat dipikirkan :
  • Kemudahan perkreditan bagi UMKM. Sepertinya sudah banyak program untuk ini, tinggal sejauh mana sosialisasi dan realisasinya.

  • Ruang untuk berkembang bagi UMKM, antara lain dengan memfasilitasi pemasaran hasil-hasil produksi UMKM, dan bantuan standarisasi mutu agar dapat bersaing tidak hanya di dalam negeri namun juga secara global, sehingga dapat menjadi salah satu penopang ekspor

  • Meningkatkan peran KPPU agar UMKM mendapat ruang dalam persaingan usaha. Sebagai contoh di sektor retail penetrasi hypermarket yang bebas di perkotaan dan pertumbuhan minimarket berjaringan yang sudah jauh masuk ke pedesaan, bahkan berdiri di sekitar pasar tradisional, pastilah terasa dampaknya bagi retail tradisional disekitarnya. Seberapa urgent hal seperti ini untuk segera diatur ?

  • Menyediakan informasi dan akses bagi UMKM untuk dapat saling bekerja sama membangun jaringan baik dalam hal pemasaran bersama maupun saling suply bila hasil produksi mereka saling berhubungan. Misal  adanya asosiasi produsen acessories mobil, dapat di difasilitasi untuk pemasaran bersama ke dealer-dealer mobil, atau saling melengkapi satu dengan yang lain.
Bilamana UMKM dapat didorong menjadi salah satu lokomotif perekonomian, maka keuntungannya adalah selain menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran, juga pada akhirnya meningkatkan penerimaan negara dari pajak dan devisa bila berhasil menembus pasar global.

Jadi, masalahnya tidak sederhana lagi bukan ?

Kamis, 03 Januari 2013

Maut Mengintip Keceriaan Liburan di Pantai


Liburan  sekolah adalah saat-saat yang dinantikan, karena pada waktu itulah anak-anak sekolah sejenak meninggalkan kesibukan belajar, atau para pekerja meninggalkan rutinitas kerja dan memanfaatkan waktu untuk berekreasi bersama keluarga.

Bermain di pantai, adalah salah satu pilihan favorit. Bermain air, merupakan permainan yang mengasyikkan, tidak pernah membosakankan. Apalagi Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan, sudah pasti memiliki banyak sekali pantai dan wisata laut yang indah, dari yang sudah mendunia seperti pantai Kuta, Bunaken, atau Belitung maupun banyak lagi nama yang kita kenal seperti Parangtritis, Baron, Kukup, Indrayanti di pesisis selatan DIY, Pantai Teleng Ria Pacitan, Tanjung Kodok Lamongan, Pantai Kartini dan Bandengan di Jepara, Pantai Ngliyep di Malang, Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Carita, Karimunjawa, Pulau Seribu dan masih banyak lagi. Namun berita menyedihkan kita baca di media, pada liburan akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 ini. Telah terjadi beberapa kecelakaan, di mana keceriaan berenang atau bermain di air berubah menjadi bencana. Inilah beberapa kutipan beritanya :

Kejadian nahas itu bermula saat para santri Pondok Pesantren Raudlatul Falah, Gembong, Pati, Jateng, mengisi liburan di Pantai Bandengan, pada Minggu, 23 Desember kemarin. Tujuh santri berkelompok bermain menggunakan perahu karet. Namun, ombak besar datang dan menghempas perahu yang mereka tumpangi hingga terbalik. Para santri yang tidak mengenakan pelampung itu pun tenggelam. Lima orang hilang ditelan ombak, sementara dua lainnya berhasil menyelamatkan diri. http://jogja.okezone.com/read/2012/12/24/513/736356/tujuh-santri-tenggelam-di-laut-4-tewas-1-hilang

Miswari (15) seorang santri Ponpes Iskarima, Karangpandan, Karanganyar, Jateng hilang tergulung ombak saat berenang bersama 7 rekannya di Pantai Pancer, Pacitan, Kamis (27/12/2012) pagi. Dalam kejadian itu seorang korban korban lain, Fatih (12) warga Ciamis, Jawa Barat kritis dan dilarikan ke RSUD setempat.http://surabaya.detik.com/read/2012/12/28/095514/2128543/475/santri-hilang-ditelan-ombak-pantai-pancer-ditemukan

Semula hanya ingin merayakan liburan akhir tahun, namun naas bagi empat pengunjung pantai selatan karena Selasa (1/1) dikabarkan hilang ditelan ganasnya ombak pantai selatan. Tiga hanyut di Pantai Simedeng, Kabupaten Gunungkidul di antaranya, Dodo (23) warga Kuningan, Aji (23) mahasiswa asal Karawang, Jawa Barat, dan dan Tridadi (30), karyawan restotan yang ada di Pantai Indrayani, tempat para korban menginap. Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan di tempat kejadian menyebutkan, semula Kedua korban masing-masing Dodo (23), dan Aji (23) asyik mandi di tepi pantai atau yang berdekatan dengan Pantai Indrayani. Semula gelombang laut biasa-biasa saja, namun ketika keduanya baru asyik mandi, tiba-tiba datang ombak besar langsung menggulung keduanya. Kejadian ini diketahui Tridadi (30), karyawan restoran di Pantai Indrayanti, berniat menolongnya namun naas ombak besar justru turut menggulungnya pula.http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/01/01/139950/Empat-Wisatawan-Hanyut-Ditelan-Ombak-Pantai-Selatan

Asep Supriatna (48), wisatawan asal Cirebon, diduga tenggelam di Pantai Citepus, Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat saat berenang, dan hingga Selasa (01/01) petang belum ditemukan.
“Pencarian terhadap jasad korban belum membuahkan hasil karena hari sudah mulai gelap dan kondisi gelombang cukup tinggi,” kata Ketua Forum Komunikasi SAR Daerah (FKSD), Okih Fajri, Selasa (01/01).http://www.beritasatu.com/mobile/nasional/90200-wisatawan-hilang-di-pantai-citepus.html

Membaca berita di atas, tentu sangat membawa kesedihan yang mendalam. Bagaimana tidak, keluar dari rumah dengan maksud berekreasi, bergembira bersama, namun bencana mengubahnya menjadi kesedihan dan tangisan keluarga.
Di sisi lain, bermain di pantai biasanya jadi kurang asyik kalau tidak bermain air, entah itu sekedar membasahi kaki, berenang atau memanfaatkan fasilitas permainan air yang ada seperti banana boat, jet ski, kano, atau berperahu karet. Namun adanya beberapa kecelakaan tadi, apakah memang bermain air di pantai menjadi demikian menakutkan ? Tentu saja tidak, asal kita tetap waspada dan berhati-hati. Berikut ini beberapa tips yang mungkin bermanfaat untuk kita saat berekreasi di pantai :
  • Jangan lupa berdoa.

  • Perhatikan kondisi badan. Kalau anda lagi tidak fit, atau memang tidak bisa berenang  tidak perlu memaksakan diri untuk berenang atau bermain olahraga air. Masih banyak aktifitas lain yang dapat dilakukan di pantai. Misalnya bermain sepakbola, volley pantai, atau untuk anak-anak dapat membangun istana pasir atau berburu batu karang atau kulit kerang untuk hiasan akuarium di rumah, atau sekedar bersantai dengan menyewa tikar dan berkeliling belanja souvenir.

  • Perhatikan cuaca dan ombak, apakah saat itu ombak sedang besar dan berangin atau tenang. Biasanya ombak di pagi hari relatif lebih tenang daripada sore hari.

  • Perhatikan lokasi-lokasi dengan tanda-tanda larangan berenang. Patuhilah tanda-tanda tersebut, karena dibuat untuk keselamatan pengunjung yang tidak menguasai medan. Lokasi yang ditandai biasanya merupakan area yang lebih dalam, dan mengandung bahaya bila berenang atau bermain sampai di situ. Tanda yang dipakai biasanya berupa bendera atau papan peringatan.

  • Sekalipun pandai berenang, bukan jaminan kita pasti baik-baik saja. Berenang di laut berbeda kondisinya dengan berenang di kolam renang.

  • Bila sedang bermain dengan perahu, banana boat, kano atau jetski, pastikan kita menggunakan pelampung dan perlengkapan keselamatan lainnya, sudah melakukan pemeriksaan kondisi peralatan dan memastikannya bekerja dengan baik, selalu pahami instruksi penggunaan, dan mintalah didampingi petugas bila perlu.

  • Jangan menggunakan perahu atau kano melebihi kapasitas. Katakanlah kalau kita ber enam, dan kapasitas perahu hanya untuk empat orang, lebih baik sewa dua perahu daripada memaksakan satu perahu untuk enam orang.

  • Tetap waspada. Bila kita pergi bersama keluarga atau rombongan teman-teman, pastikan mereka tahu kita berada di lokasi mana. Jangan bermain sendiri terpisah dari rombongan, sehingga bila terjadi sesuatu dengan kita, akan segera terdeteksi.

  • Di setiap pantai, biasanya tersedia fasilitas penjaga pantai atau menara pengawas. Namun demikian, berpikirlah bahwa tanggung jawab keselamatan kita secara pribadi sepenuhnya ada di tangan kita. Apalagi pada waktu musim liburan di mana pantai sedang penuh sesak, tidak mungkin sejumlah penjaga pantai dapat mengawasi pengunjung satu demi satu.
Demikianlah, semoga bermanfaat. Tidak lupa dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat tahun baru, semoga tahun 2013 ini kita dapat lebih bertumbuh dan berkarya. Bagi yang suka ke pantai, silahkan ikut berbagi pengalaman dan tips di bagian komentar.

Selasa, 25 Desember 2012

Bertumbuh Dalam Rencana-Nya

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Lukas 2:52)

Baru saja kita merayakan Natal, memperingati hadirnya Yesus ke dunia di kandang domba Betlehem. Dalam injil Lukas 2, dicatat bagaimana bayi itu akhirnya bertumbuh besar. Berbicara mengenai pertumbuhan, pada dasarnya mengandung berbagai dimensi, yang satu dengan lainnya tidak terpisahkan. Seperti apa yang dicatat di Lukas 2:52, dilukiskan bagaimana Yesus bertumbuh. Pertumbuhan Yesus tidak sekedar diukur dari berapa usianya sekarang, berapa tinggi dan besar badan-Nya, namun juga bertumbuh dalam hikmat-Nya, besar-Nya, dan dikasihi Allahs serta manusia.

Pertumbuhan atau bertambah besar yang didefinisikan oleh Lukas merupakan kesatuan dari paling tidak empat dimensi. Pertama, jelas sekali disebutkan adanya pertumbuhan fisik, yang dituliskan sebagai bertambah besar. Tubuh manusia dengan gizi yang baik tentu secara alamiah akan bertumbuh besar, dari fisik bayi, kanak-kanak, remaja dan menjadi dewasa. Kedua, Yesus juga bertambah dalam hikmat-Nya, yaitu bertumbuh dalam kecerdasan intelektualitas, sekaligus kearifan dan kebijaksanaan. Ketiga, Yesus bertumbuh semakin dikasihi oleh Allah, menunjukkan adanya pertumbuhan spiritual, bukan sekedar hikmat beragama, namun juga hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Keempat, Yesus semakin disukai oleh manusia, dalam arti memiliki pertumbuhan kecerdasan emosional, sehingga memiliki kehidupan sosial yang baik.

Dari gambaran tersebut, baik kita secara pribadi maupun sebagai jemaat perlu merenungkan kembali makna pertumbuhan dalam kekristenan kita. Seringkali dalam gereja kita membanggakan dengan pertambahan jemaat sehingga gereja penuh sesak, gereja yang terus menambah bangunan, dan banyak kegiatan. Namun apakah kita sudah mengimbanginya dengan memikirkan bagaimana pertumbuhan iman setiap jemaat, aktifis dan orang-orang yang melayani dan memiliki kerinduan datang ke gereja ? Saat kita mencoba untuk mempedulikan pertumbuhan iman, apakah kita melihatnya sekedar dalam pengetahuan tentang teologi saja, ataukah kita mengajak jemaat menikmati dan merasakan adanya hubungan yang lebih baik dengan Allah? Kalau kita merasa bahwa sebagai jemaat telah menyembah dan beribadah dengan baik, yang perlu kita lihat, apakah hati kita telah berubah memiliki hati Kristus dan memancarkannya hingga dapat dirasakan oleh orang lain, Ataukah jangan-jangan ukuran iman kita itu sekedar dari perkembangan ritual agamawi, namun kering dalam spiritualitas ?

Biarlah itu semua menjadi pergumulan kita sebagai pribadi maupun sebagai jemaat, sekaligus hamba-Nya. Pertumbuhan itu memiliki banyak dimensi, yang harus bertumbuh bersama-sama. Hendaklah kita merenungkan kembali nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose ini : Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (Kolose 3:15). Ya, hendaklah Kristus menjadi Raja, memerintah dalam hati kita, supaya kita bertumbuh dewasa, sebagaimana gambaran Kristus yang bertumbuh dewasa, yang bertambah hikmat-Nya, besar-Nya, dikasihi Allah dan manusia.

Mari kita renungkan : Siapakah Raja dalam hatiku hari ini ?

Minggu, 23 Desember 2012

NATAL : Tradisi, Komersialisasi, Ritual, Spiritual

Bagi umat Kristiani, merayakan Natal menjadi moment yang di tunggu. Natal bisa juga berarti liburan jelang akhir tahun, waktunya mudik, ke gereja di malam Natal dan disambung dengan makan malam bersama keluarga. Pohon Natal berkelip di sudut rumah, hadiah-hadiah untuk anak-anak yang tersusun rapi, yang konon adalah kado dari Sinterklas untuk anak-anak yang sepanjang tahun berkelakuan manis. Di televisi, film-film yang berhubungan dengan Sinterklas, Elf dan Rudolf maupun film keluarga dengan tema kasih sayang dengan setting salju, pohon terang dan ornamen Natal lainnya mulai ditayangkan.

Tentu sebagai moment yang istimewa, Natal tidak luput dari irisan dengan dunia bisnis. Natal menjadi salah satu waktu di mana ada orang yang merayakannya, dan tentu saja banyak kebutuhan yang harus dipenuhi untuk perayaan itu. Di bulan Desember, mall di sekitar kita mulai berbenah dengan ornamen Natal, memutar lagu Natal dan tidak lupa menawarkan diskon untuk pembelian pakaian baru, ornamen dan pohon Natal, dan ke-kue bernuansa Natal. Belum lagi banyaknya tawaran liburan Natal, parcel Natal, dan artist performance di hotel berbintang. Itu semua adalah sisi gemerlap yang sering kita saksikan disekitar kita.

Natal bukanlah sekedar perayaan dan tradisi. Bukankah Natal itu memiliki makna religius yang sangat mendalam, sebagai peristiwa hadirnya Yesus Kristus ke dunia ini? Oleh karenanya Natal haruslah dihayati dalam suatu ibadah dengan penuh ucapan syukur. Tak heran, ibadah malam Natal, atau ibadah Natal selalu menjadi moment yang sangat religius, di mana orang Kristiani berbondong-bondong ke gereja, dan mengikuti ibadah dengan khidmat, menyimak dan menghayati pesan Natal. Sekalipun ritualnya tidak selalu sama antara gereja yang satu dengan gereja lainnya, ibadah Natal selalu menjadi moment penting bagi  agama Kristiani pada umumnya.

Namun berbicara tentang Natal semestinya jangan sekedar menjadi  ritual agamawi tahunan yang harus di ikuti sebagai umat Kristiani. Natal bukanlah sekedar kemeriahan perayaannya maupun kedalaman penghayatannya, namun juga sebagai ekspresi iman. Natal adalah saat Kristus lahir di dalam hati, bertakhta di situ sebagai Raja dan mengubahnya menjadi baru. Inilah spiritualitas Natal itu : kasih karunia Tuhan yang direspon dengan penyerahan diri kepada Tuhan untuk mau dibentuk dan diperbaharui oleh-Nya. Barangkali inilah arti dari mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan segenap akal budi, dan supaya kita dapat mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.

Kepada seluruh sahabat, teman dan saudaraku yang merayakannya  : Selamat menyambut Natal. Semoga Natal tahun ini bukan sekedar ulangan dari tradisi, belanja, dan ritual yang sama dengan tahun sebelumnya, namun semoga Kristus benar-benar lahir di dalam hati kita, dan Dia mengubahnya menjadi baru. Semoga kita memiliki hati yang berbelas kasih seperti Dia telah mengasihi kita, serta yang memiliki sukacita dan damai sejahtera seperti Dia yang membawa damai.

Minggu, 25 November 2012

Pertamina Go International dengan Sponsori AC Milan


Berita menarik datang dari Pertamina, sehubungan dengan rencananya untuk melakukan kerjasama sponsorship dengan klub AC Milan Italia pada kompetisi liga seri A Italia musim mendatang. Dalam pemberitaan di media massa dijelaskan bahwa tujuan dari kejasama ini adalah dalam rangka strategi Pertamina dalam menancapkan merek Pertamina di Eropa. Konon, Pertamina Lubricants merambah pasar Eropa melalui ekspor perdana ke pasar Swiss yang menjadi negara tujuan ekspor ke-23. Adapun salah satu bentuk sponsorshipnya adalah terpampangnya logo Pertamina di layar LED di pinggir lapangan San Siro, yang kalau itu jadi maka logo Pertamina berpeluang disaksikan penggemar AC Milan di seluruh dunia saat laga kandang. Dibandingkan dengan sasarannya untuk merambah pasar Eropa, tentu strategi Pertamina ini sepertinya tepat.

Tentu satu hal yang kemudian berpotensi menjadi polemik di dunia sepakbola Indonesia, khususnya para penggemar timnas dan kompetisi liga nasional kita adalah kok Pertamina jauh-jauh memberikan sponsor ke AC Milan bukannya mendukung timnas Indonesia?

Tentu saja jawabannya sederhana, business is businees. Kalau kembali pada objective Pertamina adalah masuk ke pasar dunia, tentu saja tidak mungkin dapat dicapai dengan sponsorship kepada timnas, yang masih baru bisa berbicara di skala lokal dan regional Asia Tenggara saja. Lain halnya kalau sponsorship ke timnas dikaitkan dengan objective Pertamina untuk kepentingan bisnis di dalam negeri. Tapi tampaknya hal ini tidak perlu dilakukan dalam jangka pendek karena di dalam negeri Pertamina masih mendominasi pasar oli dan BBM bukan?

Kalau kemudian kesulitan pendanaan timnas dikaitkan dengan strategi pertamina ini dengan menyayangkan, mempertanyakan bahkan menuduh Pertamina mengabaikan timnas tampaknya ini kurang pada tempatnya, karena urusan timnas dan kompetisi sepakbola dalam negeri sama sekali bukan tanggung jawab Pertamina, tapi tanggung jawab PSSI dan kementerian pemuda dan olah raga yang menaunginya, apakah memang ada keseriusan untuk membangun sepakbola Indonesia dengan rencana jangka panjang yang matang ? Bukankah untuk membereskan pengorganisasiannya saja masih banyak yang perlu dibenahi ? Hasil apa yang bisa diharapkan? Yang menjadi PR dari PSSI sekarang adalah bagaimana supaya sepakbola Indonesia dapat menjadi kompetisi yang menguntungkan secara bisnis, dan menarik minat sponsor untuk menanamkan modal dengan prinsip saling menguntungkan. Kalau kompetisi dalam negeri dan timnas sudah berjalan dengan baik dan berprestasi internasional, dengan sendirinya sponsor akan berdatangan, bukan hanya dari dalam negeri tapi juga investor asing yang hendak mengembangkan bisnis di Indonesia.

Kembali ke Pertamina, seharusnya kita justru perlu mendukung langkah Pertamina go internasional. Sponsorship Pertamina ke AC Milan tidak berbicara soal sepakbola, tapi urusannya adalah pengembangan bisnis Pertamina dan ujungnya adalah perekonomian Nasional. Peningkatan keuntungan Pertamina dari pelebaran bisnisnya di Eropa pada akhirnya akan menghasilkan devisa bagi negara.

Untuk Pertamina, semoga sukses go Internasional. Barangkali suatu saat kerjasama dengan AC Milan ini dapat berdampak positif bagi persepakbolaan nasional, minimal dengan mendatangkan pelatih dari Italia untuk melatih sekolah sepakbola Pertamina Soccer School dapat menghasilkan pemain nasional yang berkualitas.