Minggu, 30 Maret 2014
Panggung Politik ala Panggung “YKS”
Acara YKS di TV sempat menjadi perbincangan yang ramai di banyak media termasuk Kompasiana. Muara dari diskusi yang terjadi adalah banyak yang menyayangkan tayangan YKS yang dianggap tidak mendidik, kurang berkualitas dan tidak pantas ditonton anak-anak, tidak berkonsep, asal nyeplos dan sebagainya. Akan tetapi fakta berbicara lain : YKS tetap menduduki rating acara yang cukup tinggi, yang artinya banyak dipilih penonton ketimbang acara lain di jam yang sama. Tampaknya trend rating acara TV berbanding terbalik dengan “kualitas” acara TV tersebut [kalau memang definisi kualitas adalah acara yang “mencerdaskan” penontonnya]. Semakin “berkualitas” acaranya, semakin kecil ratingnya.
Apakah kita harus prihatin? Bisa iya, bisa juga tidak. Di satu sisi TV seharusnya menjadi “agent of change” dan secara moral ikut memiliki peran membentuk budaya masyakarat. Bukankah apa yang terjadi di masyarakat seringkali terbentuk dari apa yang ditonton di televisi? Akan tetapi di sisi lain kita semua harus sadar bahwa kita semua menonton TV secara gratis, tidak membayar. Dengan demikian, pengelola TV swasta harus memutar otak agar ada pemasukan, yang tentu saja didapat dari pemasang iklan, yang biasanya memilih program dengan rating yang tinggi. Jadi, kadang tampak masuk akal juga kalau TV lebih mengejar konten dengan rating tinggi, agar penghasilan lebih tinggi. Dengan begitu, yang penting penonton suka, rating tinggi, acara jalan terus, iklan banyak. Demikian mekanisme sederhananya.
Mengapa ratingnya tinggi? Sebenarnya tidak sulit dimengerti. Memang ada sekelompok “elit” atau orang-orang yang kritis dan prihatin dengan maraknya acara yang demikian. Tapi apa daya, sebagian besar orang suka dengan acara itu. Barangkali, hidup sehari-hari masyarakat sudah lelah dengan berbagai persoalan, sehingga saat menyalakan TV tidak lagi mau dijejali dengan acara yang menambah beban pikiran. Masyarakat lebih butuh hiburan, yang ringan, mengundang tawa dan bahkan larut dalam goyang Cesar ala YKS. Jadi, pilihan mudahnya bagi para pengelola TV adalah mengikuti saja apa yang sedang trend sampai masyarakat bosan (rating turun) lalu membuat trend baru agar rating naik kembali. Seperti YKS yang tiba-tiba menggeser minat orang pada Sinetron, suatu saat nanti YKS pun akan tergeser pula dengan tayangan kreatif lainnya.
Lalu sebagai penonton yang bijak harus bagaimana? Kalau anda suka nontonlah, kalau tidak, ganti saja masih banyak channel lainnya. Kalau anak anda ikutan nonton, tinggal anda masih mau asyik bergoyang, atau ganti dengan channel film kartun, atau matikan saja TV anda dan ajaklah anak anda bermain. Bagi kita selalu ada pilihan, dan setiap pilihan tentu demi kebaikan kita sendiri. Demikianlah singkat cerita tentang TV dan YKS. Apa hubungannya dengan Partai?
Sebulan lagi Pileg dimulai, dan dilanjutkan dengan Pilpres. Seperti biasa, PEMILU selalu dimulai dengan kampanye. Sedari dulu, angan-angan banyak pengamat adalah membudayanya kampanye santun yang sarat pendidikan politik serta bernas dengan pemaparan visi dan misi partai oleh para caleg. Namun apa daya, pengerahan massa di jalanan serta panggung hiburan tampaknya masih menjadi andalan kampanye, sehingga barangkali artis-artis kita siap-siap kebanjiran order Parpol untuk menghibur masyarakat sebelum mendengar pidato politik. Semoga ada yang berubah di 2014 ini.
Barangkali fenomena semacam YKS masih dipercaya ampuh untuk mengumpulkan massa, dan menarik minat masyarakat untuk memeriahkan kampanye parpol. Masyarakat tidak didatangkan untuk dididik, tapi diiming-imingi hiburan dan ujung-ujungnya di kasih pidato dan diminta nyoblos pada hari pemilihan. Tapi, mana yang lebih nyantol, goyang penyanyi atau pidato si caleg, tidak ada yang tahu.
Bisa anda bayangkan pengumpulan massa yang hanya mendengar pidato politik saja saat ini? Tampaknya para caleg masih belum PD kalau tidak didampingi penyanyi dangdut. Hehe, takut bubar sebelum acara selesai. Situasi demikian seringkali membuat kita semua merasa kampanye politik tak lebih sekedar panggung hiburan, bukan media pendidikan politik yang mendorong kita semua semakin maju dalam berdemokrasi dan berpolitik. Jangan-jangan ketakutan parpol adalah kejadiannya akan sama juga dengan YKS: rating panggung kampanye politik berbanding terbalik dengan kualitas kampanye itu sendiri. Semakin berkualitas pendidikan politiknya, semakin sepi peminatnya.
Kalau situasinya ternyata nanti masih demikian, lha pendidikan politik itu tugas siapa? Barangkali para elit pengamat, kompasianer kolom politik, media dan mahasiswa sebagai pilar-pilar demokrasi tidak jemu-jemu untuk melakukannya, walaupun mungkin jauh di bawah sana suara anda terdengar sayup ditengah hingar bingar knalpot motor dan soundsystem musik. Atau barangkali (semoga) para caleg pun punya kesadaran bukan hanya soal terpilih atau tidak terpilih, namun mau berbicara dari hati ke hati dengan rakyat, mengerti persoalan mereka dan mencoba mengulurkan tangan dengan berkarya, bukan sekedar janji-janji panggung yang segera terlupakan saat munculnya goyangan si artis. Model kampanye Jokowi di pilkada Jakarta barangkali bisa dijadikan trend baru, langsung blusukan mendatangi masyarakat dan menggali persoalan mereka, bukannya mendatangkan masyarakat untuk mendengar janji-janji baru. Sudah terlalu banyak janji terlontar, sudah terlalu banyak janji terlupakan.
Lalu sebagai rakyat harus bagaimana? Kalau anda kritis dan peduli, barangkali anda mau berpartisipasi melakukan sesuatu sebagai upaya pendidikan politik bagi orang di dalam lingkaran pengaruh anda, dengan demikian anda secara sukarela ikut menjadi “agent of change” bagi pertumbuhan demokrasi di negeri ini. Kalaupun anda hanya suka goyang, ya sudah nikmati saja. Masalah milih, itu masalah hati nurani di bilik suara nanti. Barangkali anda termasuk orang yang sudah lelah dengan janji-janji, jadi paling tidak bisa joged ketimbang tidak dapat apa-apa.
Pokok-e Joget ! Pokok-e Joget !
Selasa, 25 Februari 2014
Hoax di Sekitar Letusan Gunung Kelud
Malam 13 Februari 2014, dari Solo sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari timur, yang sempat menggetarkan kaca jendela. Mulanya agak ragu mengkaitkan dengan berita di TV apa betul gemuruh letusan gunung Kelud sejauh itu terdengar? Suara gemuruh masih terdengar hingga pukul 00.30.
Berangkat tidur dengan tanda tanya, pagi-pagi bangun dikejutkan oleh hujan abu yang ternyata menyelimuti Solo Raya, hingga Klaten dan Jogjakarta. Dampak letusan Gunung Kelud rupanya dirasakan sampai ke Jawa Tengah, bahkan sebagian Jawa Barat. Informasi kawan di Blitar dan Kediri bahkan di sana terjadi hujan kerikil bercampur pasir. Situasi demikian menggambarkan dahsyatnya bencana alam gunung Kelud kali ini.
Di tengah situasi bencana ini, ternyata masih ada saja orang-orang yang tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab dengan membuat berita bohon (hoax), yang pada akhirnya cepat menyebar melalui orang-orang yang mungkin berniat baik memberi informasi, namun tidak melakukan cek dan re cek informasi yang disebarnya. Ini salah satu contoh hoax yang beredar pagi ini :
Info dari BMKG : “ 2 jam lagi akan ada letusan susulan, status AWAS II, diperkirakan letusan sejauh 20Km dari pusat magma dan diperkirakan terjadi gempa 6-8 skalalighter. Dan setelah ini listrik dipadamkan total untuk wilayah kediri. Lahar dinginmengalir sampai kademangan Blitar, hati2 untuk wilayah aliran lahar, hujan abu dan suara gelegar sampai kota Solo dan Klaten, sedangkan daerah kota Pare Kediri ke utara diselimuti bau belerang yang sangat menyengat. Tolong sebarkan info ini. Info : http//www.BMKG.com
Bila pesan berantai di atas di cermati, tampak sekali bahwa ini adalah hoax. Salah satu yang paling kentara adalah situs http//www.BMKG.com itu tidak ada. Anda tidak akan tersambung ke mana-mana dengan klik link tersebut, dan memang website BMKG bukan yang ini. Lagipula belum pernah ada gempa diukur dalam skalalighter. (cape deh)
Fenomena berita bohong selalu terjadi dalam setiap peristiwa bencana entah itu banjir, erupsi gunung berapi, gempa dan lainnya. Sungguh memprihatinkan saat orang bingung tertimpa bencana dan membutuhkan informasi justru mendapatkan pesan yang tidak jelas seperti ini, yang pada akhirnya hanya menambah kepanikan saja.
Oleh karena itu agar tidak tersesat, kita jangan mudah percaya bila menerima pesan BBM seperti di atas. Biasakan untuk melakukan cek ke berita lainnya di situs berita terpercaya semacam kompas.com atau detik.com, atau cek berita dan running text di TV. Saat kita benar-benar yakin akan kebenaran berita yang kita terima, barulah dengan bertanggung jawab menginformasikan kepada kawan dan kerabat.
Berangkat tidur dengan tanda tanya, pagi-pagi bangun dikejutkan oleh hujan abu yang ternyata menyelimuti Solo Raya, hingga Klaten dan Jogjakarta. Dampak letusan Gunung Kelud rupanya dirasakan sampai ke Jawa Tengah, bahkan sebagian Jawa Barat. Informasi kawan di Blitar dan Kediri bahkan di sana terjadi hujan kerikil bercampur pasir. Situasi demikian menggambarkan dahsyatnya bencana alam gunung Kelud kali ini.
Di tengah situasi bencana ini, ternyata masih ada saja orang-orang yang tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab dengan membuat berita bohon (hoax), yang pada akhirnya cepat menyebar melalui orang-orang yang mungkin berniat baik memberi informasi, namun tidak melakukan cek dan re cek informasi yang disebarnya. Ini salah satu contoh hoax yang beredar pagi ini :
Info dari BMKG : “ 2 jam lagi akan ada letusan susulan, status AWAS II, diperkirakan letusan sejauh 20Km dari pusat magma dan diperkirakan terjadi gempa 6-8 skalalighter. Dan setelah ini listrik dipadamkan total untuk wilayah kediri. Lahar dinginmengalir sampai kademangan Blitar, hati2 untuk wilayah aliran lahar, hujan abu dan suara gelegar sampai kota Solo dan Klaten, sedangkan daerah kota Pare Kediri ke utara diselimuti bau belerang yang sangat menyengat. Tolong sebarkan info ini. Info : http//www.BMKG.com
Bila pesan berantai di atas di cermati, tampak sekali bahwa ini adalah hoax. Salah satu yang paling kentara adalah situs http//www.BMKG.com itu tidak ada. Anda tidak akan tersambung ke mana-mana dengan klik link tersebut, dan memang website BMKG bukan yang ini. Lagipula belum pernah ada gempa diukur dalam skalalighter. (cape deh)
Fenomena berita bohong selalu terjadi dalam setiap peristiwa bencana entah itu banjir, erupsi gunung berapi, gempa dan lainnya. Sungguh memprihatinkan saat orang bingung tertimpa bencana dan membutuhkan informasi justru mendapatkan pesan yang tidak jelas seperti ini, yang pada akhirnya hanya menambah kepanikan saja.
Oleh karena itu agar tidak tersesat, kita jangan mudah percaya bila menerima pesan BBM seperti di atas. Biasakan untuk melakukan cek ke berita lainnya di situs berita terpercaya semacam kompas.com atau detik.com, atau cek berita dan running text di TV. Saat kita benar-benar yakin akan kebenaran berita yang kita terima, barulah dengan bertanggung jawab menginformasikan kepada kawan dan kerabat.
Borobudur : Keajaiban Dunia di Tengah Pasar
Liburan akhir tahun 2013 lalu, kami sekeluarga sedang dalam perjalanan dari Magelang ke arah Jogjakarta, tentu kurang afdol kalau tidak menyempatkan diri singgah ke Candi Borobudur, yang terletak di Kabupaten Magelang ini. Apalagi cuaca tampak sangat cerah, matahari bersinar terik. Candi Borobudur sangat kita banggakan karena masuk dalam salah satu dari 7 keajaiban dunia. Sekedar mengingat sejarah, Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada tahun 800-an Masehi pada masa kejayaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Candi Borobudur merupakan monumen, tempat yang suci bagi pemeluk agama Budha yang memiliki makna spiritual yang sangat tinggi.
Siang itu tanggal 26 Desember 2013 kira-kira pukul 12.30 kami sudah masuk wilayah Mungkid dekat Magelang meluncur ke arah Borobudur. Jalan beraspal halus dan lebar, tampak terawat. Namun mendekati wilayah Borobudur jalan menyempit. dan kami sempat mencari-cari arah karena tidak melihat (mungkin juga terlewat) petunjuk arah ke sana. Pada akhirnya setelah bertanya kiri-kanan, kami memperoleh petunjuk arah ke Borobudur. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya melihat papan kecil berwarna biru dengan petunjuk ke arah Candi Borobudur. Spontan saya membelokkan stir ke kanan namun kemudian terheran … kenapa ke candi Borobudur masuk ke kampung begini? Ternyata, kami masuk ke suatu kampung yang di rumah-rumah penduduk yang berhalaman cukup luas diobyekkan menjadi lahan pakrir, dan tampaknya dikelola bersama. Terbukti adanya karcis masuk sebesar Rp10.000,- per mobil, yang kemudian dicarikan parkir di halaman rumah yang kosong. Dari situ kami disarankan berjalan kaki ke Candi Borobudur, karena konon di lokasi sangat macet dan padat. Inilah kesan pertama yang sangat “menggoda”.
Karena malas berjalan, dan merasa kurang nyaman parkir berdesakan di gang-gang sempit, kami memutuskan keluar dan mencari lokasi parkir yang benar. Ternyata memang tak jauh dari lokasi tersebut kami temukan jalan masuk ke Candi Borobudur yang benar. Sesampai di lokasi, benar saja tampak lahan parkir yang penuh karena memang musim liburan. Cukup membayar Rp5.000 kami masuk lokasi, dan setelah berjuang dalam kesabaran, toh dapat parkir juga.
Kesan kedua, adalah cukup bingung juga mencari di mana ini candinya? Yang tampak di depan mata adalah deretan mobil parkir. Setelah lihat sana-sini, ketemulah satu papan petunjuk “entrace/pintu masuk” yang tertutup deretan warung makan dan kios-kios. Rasanya aneh juga memasuki salah satu keajaiban dunia melawati “pasar” begini. Rupanya setelah lapangan parkir masuk melewati deretan kios-kios berdinding papan, barulah kami masuk ke area yang lebih “tertata”, yaitu deretan kios-kios souvenir yang lebih bagus, dan tampak antrian orang di pintu masuk.
Setelah membeli tiket dan masuk ke dalam, barulah kami melihat kawasan Candi Borobudur yang memang lebih asri, tertata dengan baik. Taman yang hijau yang terawat, jalan setapak yang nyaman dan masuklah kami ke kawasan Candi. Di dalam selain mengunjungi Candi Borobudur, terdapat juga arena mengendarai gajah untuk anak, naik kereta semacam “sepur kelinci” yang dapat membawa kita berkeliling kompleks candi, serta tempat untuk nonton audio visual sejarah Candi Borobudur. Dari jalan setapak mulai tampak di kejauhan keagungan Candi Borobudur. Namun untuk mendapatkan view yang lebih luas, disarankan Anda berfoto di lokasi lapangan berumput di area sebelah kiri jalan setapak.
Anda dapat juga naik ke candi Borobudur, dengan terlebih dulu melewati pos, di mana dapat menggunakan sarung batik, sebagai bentuk penghormatan kita pada peninggalan bersejarah dan berbudaya tinggi ini. Dengan mengantri satu demi satu, kita dapat menyaksikan dari dekat relief candi, dengan memutar hingga sampai ke puncak. Dari relief itu, kita seolah memasuki perjalanan ziarah kehidupan, dalam perspektif agama Budha.
Dalam cuaca yang terik di siang hari, rasanya akan sangat panas di kepala. Karena itu, sebaiknya Anda siap membawa payung untuk dapat ke atas, atau kalau mau berbelanja topi yang banyak dijajakan oleh pengasong topi maupun di toko-toko souvenir dengan harga Rp20 - 40 ribu (nego) tergantung modelnya.
Setelah selesai, kita keluar dari kompleks Candi dan di pintu keluar kita mendapati kios-kios souvenir yang cukup banyak. Di situ kita dapat membeli oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di rumah yang bertemakan candi Borobudur. Mencapai lapangan parkir, cukup banyak orang yang mengatur lalu lintas parkir, yang cukup membantu kami untuk mencari jalan keluar dari lapangan parkir, dengan imbalan “seiklhasnya”.
Mencermati pengalaman perjalanan ini, sungguh sayang tidak optimalnya pengelolaan membuat keagungan Candi Borobudur jadi terganggu dengan munculnya beberapa “moment of truth” yang kurang pas di hati. Alangkah baiknya, kawasan ini lebih tertata dan terkelola secara lebih terkoordinasi dengan pihak yang berkepentingan, termasuk masyarakat sekitar yang menggantungkan rezeki dari wisatawan. Dibutuhkan manajemen yang lebih baik agar semua kepentingan terakomodasi tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan. Jangan sampai pengunjung merasa tidak nyaman dan kemudian menjadi sulit merekomendasikan untuk berkunjung ke Borobudur kepada teman-teman yang lain.
Siang itu tanggal 26 Desember 2013 kira-kira pukul 12.30 kami sudah masuk wilayah Mungkid dekat Magelang meluncur ke arah Borobudur. Jalan beraspal halus dan lebar, tampak terawat. Namun mendekati wilayah Borobudur jalan menyempit. dan kami sempat mencari-cari arah karena tidak melihat (mungkin juga terlewat) petunjuk arah ke sana. Pada akhirnya setelah bertanya kiri-kanan, kami memperoleh petunjuk arah ke Borobudur. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya melihat papan kecil berwarna biru dengan petunjuk ke arah Candi Borobudur. Spontan saya membelokkan stir ke kanan namun kemudian terheran … kenapa ke candi Borobudur masuk ke kampung begini? Ternyata, kami masuk ke suatu kampung yang di rumah-rumah penduduk yang berhalaman cukup luas diobyekkan menjadi lahan pakrir, dan tampaknya dikelola bersama. Terbukti adanya karcis masuk sebesar Rp10.000,- per mobil, yang kemudian dicarikan parkir di halaman rumah yang kosong. Dari situ kami disarankan berjalan kaki ke Candi Borobudur, karena konon di lokasi sangat macet dan padat. Inilah kesan pertama yang sangat “menggoda”.
Karena malas berjalan, dan merasa kurang nyaman parkir berdesakan di gang-gang sempit, kami memutuskan keluar dan mencari lokasi parkir yang benar. Ternyata memang tak jauh dari lokasi tersebut kami temukan jalan masuk ke Candi Borobudur yang benar. Sesampai di lokasi, benar saja tampak lahan parkir yang penuh karena memang musim liburan. Cukup membayar Rp5.000 kami masuk lokasi, dan setelah berjuang dalam kesabaran, toh dapat parkir juga.
Kesan kedua, adalah cukup bingung juga mencari di mana ini candinya? Yang tampak di depan mata adalah deretan mobil parkir. Setelah lihat sana-sini, ketemulah satu papan petunjuk “entrace/pintu masuk” yang tertutup deretan warung makan dan kios-kios. Rasanya aneh juga memasuki salah satu keajaiban dunia melawati “pasar” begini. Rupanya setelah lapangan parkir masuk melewati deretan kios-kios berdinding papan, barulah kami masuk ke area yang lebih “tertata”, yaitu deretan kios-kios souvenir yang lebih bagus, dan tampak antrian orang di pintu masuk.
Setelah membeli tiket dan masuk ke dalam, barulah kami melihat kawasan Candi Borobudur yang memang lebih asri, tertata dengan baik. Taman yang hijau yang terawat, jalan setapak yang nyaman dan masuklah kami ke kawasan Candi. Di dalam selain mengunjungi Candi Borobudur, terdapat juga arena mengendarai gajah untuk anak, naik kereta semacam “sepur kelinci” yang dapat membawa kita berkeliling kompleks candi, serta tempat untuk nonton audio visual sejarah Candi Borobudur. Dari jalan setapak mulai tampak di kejauhan keagungan Candi Borobudur. Namun untuk mendapatkan view yang lebih luas, disarankan Anda berfoto di lokasi lapangan berumput di area sebelah kiri jalan setapak.
Anda dapat juga naik ke candi Borobudur, dengan terlebih dulu melewati pos, di mana dapat menggunakan sarung batik, sebagai bentuk penghormatan kita pada peninggalan bersejarah dan berbudaya tinggi ini. Dengan mengantri satu demi satu, kita dapat menyaksikan dari dekat relief candi, dengan memutar hingga sampai ke puncak. Dari relief itu, kita seolah memasuki perjalanan ziarah kehidupan, dalam perspektif agama Budha.
Dalam cuaca yang terik di siang hari, rasanya akan sangat panas di kepala. Karena itu, sebaiknya Anda siap membawa payung untuk dapat ke atas, atau kalau mau berbelanja topi yang banyak dijajakan oleh pengasong topi maupun di toko-toko souvenir dengan harga Rp20 - 40 ribu (nego) tergantung modelnya.
Setelah selesai, kita keluar dari kompleks Candi dan di pintu keluar kita mendapati kios-kios souvenir yang cukup banyak. Di situ kita dapat membeli oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di rumah yang bertemakan candi Borobudur. Mencapai lapangan parkir, cukup banyak orang yang mengatur lalu lintas parkir, yang cukup membantu kami untuk mencari jalan keluar dari lapangan parkir, dengan imbalan “seiklhasnya”.
Mencermati pengalaman perjalanan ini, sungguh sayang tidak optimalnya pengelolaan membuat keagungan Candi Borobudur jadi terganggu dengan munculnya beberapa “moment of truth” yang kurang pas di hati. Alangkah baiknya, kawasan ini lebih tertata dan terkelola secara lebih terkoordinasi dengan pihak yang berkepentingan, termasuk masyarakat sekitar yang menggantungkan rezeki dari wisatawan. Dibutuhkan manajemen yang lebih baik agar semua kepentingan terakomodasi tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan. Jangan sampai pengunjung merasa tidak nyaman dan kemudian menjadi sulit merekomendasikan untuk berkunjung ke Borobudur kepada teman-teman yang lain.
Selasa, 31 Desember 2013
Tahun Baru = Kalender Baru Saja ?
Tahun baru 2014 baru saja kita masuki.
Pertama saya ucapkan selamat tahun baru bagi teman2 yang merayakannya.
Malam ini kebetulan kota Solo cerah, sehingga tidak ada salahnya melihat-lihat suasana, apalagi mall baru dekat rumah akan menyelenggarakan pesta kembang api. Tentu tidak ada ruginya menyaksikan hiburan gratis setahun sekali ini. Pukul 10 malam, suasana dalam mall sudah sepi kecuali area city walk yang sedang ada event musik. Kemeriahan suasana berpindah ke luar mall, dari area parkir sampai jalan raya di depan sana. Tampaknya orang sudah tidak sabar lagi menyaksikan pesta kembang api. Suasana lain yang mulai terasa adalah orang-orang mulai tumpah ruah ke jalanan. Ada yang bermobil, bersepeda motor dengan bunyi knalpot yang memekakkan telinga, dan tentu saja pasukan berjalan kaki yang berduyun-duyun menyerbu keramaian. Kemacetan mulai terjadi.Kebetulan cukup banyak event di kota Solo dan sekitar. Selain pesta kembang api, ada pula event car free night dan sekaten. Segala kemeriahan itu menjelaskan 1 hal : semua orang sedang bersukaria merayakan berakhirnya tahun 2013 dan menyambut 2014.
Satu pertanyaan usil yang sempat saya lontarkan : mengapa sih ganti kalender saja harus dirayakan, bukannya nanti tanggal 1 Januari 14 akan sama saja dengan 31 Desember 13? Sontak respon muncul : bukannya pergantian tahun harus kita syukuri? (lha memangnya kalau ganti hari tidak perlu disyukuri?) Tapi ya sudahlah, bukan bermaksud merusak suasana hati teman yang merayakan. kadang muncul pertanyaan dalam hati : mengapa kita harus merayakan tahun baru? Bukannya setiap hari selalu ada hari baru, akumulasi 7 hari jadi minggu baru, akumulasi 30 hari jadi bulan baru, akumulasi 12 bulan jadi tahun baru? Bukankah setiap detik yang akan kita lalui menjadi sesuatu yang baru buat kita ! Tahun baru dimulai tiap 1 Januari dipikir-pikir jadi tidak ada istimewanya bukan? Wajar kalau setiap bangun di pagi hari, kita menyambut hari baru, tantangan baru, masalah baru sekaligus peluang baru. Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita bergelut dengan semuanya itu. Alangkah leganya saat kita menutup hari dengan suasana hati yang nyaman karena telah mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan. Indahlah hari yang seperti itu.
Karena itu, merayakan tahun baru semoga bukan sekedar karena sudah menjadi tradisi yang disepakati secara internasional. Berbicara tahun baru bahkan kita tidak boleh lupa bahwa masih ada tahun baru yang lain, paling tidak kita mengenal di Indonesia masih ada tahun baru dalam penanggalan Hijriyah, penanggalan Jawa dan penanggalan Cina (tahun baru Imlek). Di balik semua peringatan itu, pastilah ada makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh para penggagasnya. Paling tidak, setiap orang dalam hidupnya membutuhkan suatu moment yang membuat dirinya dibangkitkan kembali, disentakkan kembali akan suatu tujuan besar dalam hidup, yang seringkali terpendam di saat rutinitas hidup mulai membelenggu. Karena itu, tahun baru adalah momentum untuk berhenti, dan melakukan 2 hal : merenungkan apa yang sudah kita lalui dan memperbarui komitmen untuk masa depan.
Jadi, kalau waktu setahun sekali itu kita tidak merasa perlu mereview hidup kita, apalagi memikirkan masa yang akan datang, sejatinya tahun baru itu ya sekedar undangan pesta perhelatan internasional saja. Ketika matahari 1 Januari meninggi, anda bangun tidur, tidak ada yang baru selain kalender baru. Hidup hari ini berjalan sepasti hidup yang kemarin, mengalir ke depan mengikuti air mengalir. Selamat Tahun Baru bagi yang merayakannya, semoga bukan sekedar mengalir bersama pesta, namun mengalami pencerahan hidup. Semoga nanti 31 Desember 2014 kita bisa tersenyum melihat diri kita yang sudah jauh bertumbuh lebih baik dari diri kita hari ini, dan kehadiran kita bermakna bagi orang lain.
Pertama saya ucapkan selamat tahun baru bagi teman2 yang merayakannya.
Malam ini kebetulan kota Solo cerah, sehingga tidak ada salahnya melihat-lihat suasana, apalagi mall baru dekat rumah akan menyelenggarakan pesta kembang api. Tentu tidak ada ruginya menyaksikan hiburan gratis setahun sekali ini. Pukul 10 malam, suasana dalam mall sudah sepi kecuali area city walk yang sedang ada event musik. Kemeriahan suasana berpindah ke luar mall, dari area parkir sampai jalan raya di depan sana. Tampaknya orang sudah tidak sabar lagi menyaksikan pesta kembang api. Suasana lain yang mulai terasa adalah orang-orang mulai tumpah ruah ke jalanan. Ada yang bermobil, bersepeda motor dengan bunyi knalpot yang memekakkan telinga, dan tentu saja pasukan berjalan kaki yang berduyun-duyun menyerbu keramaian. Kemacetan mulai terjadi.Kebetulan cukup banyak event di kota Solo dan sekitar. Selain pesta kembang api, ada pula event car free night dan sekaten. Segala kemeriahan itu menjelaskan 1 hal : semua orang sedang bersukaria merayakan berakhirnya tahun 2013 dan menyambut 2014.
Satu pertanyaan usil yang sempat saya lontarkan : mengapa sih ganti kalender saja harus dirayakan, bukannya nanti tanggal 1 Januari 14 akan sama saja dengan 31 Desember 13? Sontak respon muncul : bukannya pergantian tahun harus kita syukuri? (lha memangnya kalau ganti hari tidak perlu disyukuri?) Tapi ya sudahlah, bukan bermaksud merusak suasana hati teman yang merayakan. kadang muncul pertanyaan dalam hati : mengapa kita harus merayakan tahun baru? Bukannya setiap hari selalu ada hari baru, akumulasi 7 hari jadi minggu baru, akumulasi 30 hari jadi bulan baru, akumulasi 12 bulan jadi tahun baru? Bukankah setiap detik yang akan kita lalui menjadi sesuatu yang baru buat kita ! Tahun baru dimulai tiap 1 Januari dipikir-pikir jadi tidak ada istimewanya bukan? Wajar kalau setiap bangun di pagi hari, kita menyambut hari baru, tantangan baru, masalah baru sekaligus peluang baru. Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita bergelut dengan semuanya itu. Alangkah leganya saat kita menutup hari dengan suasana hati yang nyaman karena telah mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan. Indahlah hari yang seperti itu.
Karena itu, merayakan tahun baru semoga bukan sekedar karena sudah menjadi tradisi yang disepakati secara internasional. Berbicara tahun baru bahkan kita tidak boleh lupa bahwa masih ada tahun baru yang lain, paling tidak kita mengenal di Indonesia masih ada tahun baru dalam penanggalan Hijriyah, penanggalan Jawa dan penanggalan Cina (tahun baru Imlek). Di balik semua peringatan itu, pastilah ada makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh para penggagasnya. Paling tidak, setiap orang dalam hidupnya membutuhkan suatu moment yang membuat dirinya dibangkitkan kembali, disentakkan kembali akan suatu tujuan besar dalam hidup, yang seringkali terpendam di saat rutinitas hidup mulai membelenggu. Karena itu, tahun baru adalah momentum untuk berhenti, dan melakukan 2 hal : merenungkan apa yang sudah kita lalui dan memperbarui komitmen untuk masa depan.
Jadi, kalau waktu setahun sekali itu kita tidak merasa perlu mereview hidup kita, apalagi memikirkan masa yang akan datang, sejatinya tahun baru itu ya sekedar undangan pesta perhelatan internasional saja. Ketika matahari 1 Januari meninggi, anda bangun tidur, tidak ada yang baru selain kalender baru. Hidup hari ini berjalan sepasti hidup yang kemarin, mengalir ke depan mengikuti air mengalir. Selamat Tahun Baru bagi yang merayakannya, semoga bukan sekedar mengalir bersama pesta, namun mengalami pencerahan hidup. Semoga nanti 31 Desember 2014 kita bisa tersenyum melihat diri kita yang sudah jauh bertumbuh lebih baik dari diri kita hari ini, dan kehadiran kita bermakna bagi orang lain.
Senin, 30 September 2013
Serunya Punya Golongan Darah Langka
Pertama kali menjadi kenal aktivitas menjadi pendonor darah dari kegiatan donor darah yang diselenggarakan secara rutin di kantor. Tadinya ikut-ikutan saja, dan mencoba untuk rutin 2 – 3 kali setahun. Mengapa akhirnya jadi rutin? Karena menjadi pendonor darah selain bermanfaat bagi orang yang sedang membutuhkan, rupanya bermanfaat bagi pendonor sendiri. Beberapa manfaat menjadi pendonor antara lain : dengan mendonorkan darah, kita dapat “memperbarui” darah yang ada di dalam tubuh kita. Selain itu untuk setiap darah yang di donorkan, selalu dilakukan pemeriksaan apakah darah kita terinfeksi virus seperti hepatitis dan HIV atau tidak, berapa tekanan darah kita, apakah kadar HB kita normal atau tidak, dan lainnya. Dengan demikian, saat darah kita lolos, berarti juga kita sehat. Adanya pemeriksaan dan nanti ditambah lagi dengan cara penyimpanannya membuat penerima donor harus membayar sejumlah uang. Itu bukan untuk membeli darah, namun untuk mengganti biaya pemeriksaan dan penyimpanannya.
Setelah beberapa lama menjadi donor, suatu ketika ada orang tua seorang rekan yang membutuhkan darah. Karena golongan darah saya sama-sama AB, dan kebetulan bukan golongan darah “favorit” yang banyak ditemukan, berangkatlah saya ke PMI dengan 2 orang teman lainnya. Sesampainya di PMI, seperti biasa diambil sampel darah, lalu kami menunggu kurang lebih 2 jam untuk menunggu hasil pemeriksaan.
Setelah hasil pemeriksaan selesai, dan kami mengantri untuk diambil darah, seorang petugas PMI menghubungi saya dan mengatakan bahwa darah saya tidak jadi di ambil. Tentu informasi ini sangat mengejutkan, dan sudah terbayang apakah ada masalah dengan saya? Ternyata bukan itu persoalannya. Menurut petugas PMI tersebut, darah saya tidak diambil karena dalam pemeriksaan diketemukan ternyata golongan darah AB saya itu tidak biasa di Indonesia, karena ber-rhesus negatif. Konon untuk orang Indonesia, tidak lebih dari 1% orang golongan darahnya dengan rhesus negatif. Akhirnya petugas PMI tersebut merekam data-data pribadi saya, dan memasukkan saya di kelompok “donor darah langka”. Mengapa tidak diperbolehkan menjadi donor sukarela? Karena kelangkaannya, saya hanya boleh diambil bila ada kebutuhan darah yang sama persis, AB Negatif. Akhirnya sampai saat ini, saya bukan lagi pendonor aktif, namun menjadi donor bila hanya ada permintaan.
Memiliki golongan darah langka, membuat saya berpikir, akan menjadi kondisi yang berat buat saya bila suatu saat membutuhkan darah. Namun hal ini dapat teratasi, karena PMI telah memiliki data saya, sehingga dapat menemukan orang dengan golongan darah yang sejenis. Di sisi lain saya bersyukur dan menganggap ini sebagai anugerah, karena entah kapan dan di mana saat ada orang yang berkebutuhan khusus, mungkin saya cocok untuk menjawab kebutuhan itu. Saya hanya berharap, Tuhan tetap menganugerahkan kesehatan kepada saya, dan melaluinya saya dapat membantu meringankan penderitaan orang lain.
Belakangan saya makin bersyukur, ternyata selain rekaman data di PMI, saya menemukan sebuah situs http://www.rhesusnegatif.com/ yang merupakan komunitas orang-orang dengan golongan darah ber rhesus negatif. Di situ ada banyak pengetahuan, informasi dan jalinan komunikasi di antara sesama pemilik golongan darah langka. Jadi, kalau ada diantara kompasioner yang sama-sama memiliki golongan darah langka, barangkali dapat masuk dan bergabung di sini.
Sekedar untuk pengetahuan kita, dari artikel yang saya baca di sini diperoleh informasi sbb :
rhesus darah adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Mereka yang mempunyai faktor protein ini disebut rhesus positif. Sedangkan yang tidak memiliki faktor protein ini disebut rhesus negatif.
Mengenali rhesus khususnya rhesus negatif menjadi begitu penting karena di dunia ini hanya sedikit orang yang memiliki rhesus negatif. Persentase jumlah pemilik rhesus negatif berbeda-beda antar kelompok ras. Pada ras bule (seperti warga Eropa, Amerika, dan Australia), jumlah pemilik rhesus negatif sekitar 15 – 18%. Sedangkan pada ras Asia, persentase pemilik rhesus negatif jauh lebih kecil. Menurut data Biro Pusat Statistik 2010, hanya kurang dari satu persen penduduk Indonesia, atau sekitar 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negatif. Karena persentasenya sangat kecil, jumlah pendonor pun amat langka, sehingga bila memerlukan donor darah agak sulit.
Di dalam sistem rhesus terdapat aturan khusus dalam urusan sumbang-terima darah. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditranfusi dengan darah rhesus positif. Ini dikarenakan sistem pertahanan tubuh si reseptor (penerima donor) akan menganggap darah (rhesus positif) dari donor itu sebagai “benda asing” yang perlu dilawan seperti virus atau bakteri. Sebagai bentuk perlawanan, tubuh reseptor akan memproduksi antirhesus. Saat transfusi pertama, kadar antirhesus masih belum cukup tinggi sehingga relatif tak menimbulkan masalah serius. Tapi pada tranfusi kedua, akibatnya bisa fatal karena antirhesus mencapai kadar yang cukup tinggi. Antirhesus ini akan menyerang dan memecah sel-sel darah merah dari donor, sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel darah merah itu. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan tranfusi darah tak tercapai, tapi malah memperparah kondisi si reseptor sendiri.
Menarik bukan?
LCGC : Murah Belum Tentu Laris
Ditandatanganinya (PP) Program Kendaraan Emisi Rendah (LECP), yang diantaranya mengatur insentif khusus bagi mobil ramah lingkungan seperti hibrida, listrik, teknologi mesin bensin atau diesel turbo dan gas akan mendapatkan insentif khusus, yaitu pengurangan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM). Dengan catatan, mobil dirakit di Indonesia dan memenuhi standar minimum kandungan lokal yang telah ditentukan. PP ini menjadi titik tolak diluncurannya mobil murah semacam Agya, Alya, dan menyusul Brio Satya, Datsun Go+ dan Suzuki Wagon R.
Diskusi yang kemudian menjadi hangat, karena tampaknya akan mendapat sambutan yang sangat meriah dari pasar, ditambah lagi slogan Menteri terkait yang menyatakan inilah mobilnya rakyat kecil, karena murah harganya. Tentu kita tidak perlu memperdebatkan seberapa mahal seberapa murah, karena hakikatnya murah dan mahal itu relatif, tergantung kondisi keuangan, dan performance yang kita dapat dari barang yang dibeli. Antusiasme masyarakat di awal sepertinya cukup tinggi, sehingga dalam beberapa jam saja peluncuran di Jakarta Toyota meraup inden 1500 unit Agya.
Bermacam diskusi sudah banyak mengulas dari sisi potensi masalah kemacetan, urgensi transportasi publik, tepat tidaknya PP LCGC, bener tidaknya arah kebijakan, kerugian negara akibat pengurangan PPnBM dan aspek politisnya. Faktanya produk mobil murah sudah diluncurkan, dan masih akan menyusul merk lainnya. Karena itu, tulisan ini mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, yaitu dari sisi karakter konsumen Indonesia, seberapa antusias menerima produk ini? Apakah city car hatchback dengan harga murah ini nantinya akan benar-benar meledak fantastis?
Data penjualan 20 besar model mobil terlaris di Indonesia seperti pernah dilansir oleh kompas.com, terlihat pada tabel berikut (sumber : kompas.com) :
Dari tabel (dengan mengabaikan jenis kendaraan niaga) dapat kita lihat fakta-fakta menarik :
Dilihat dari jenisnya, mobil-mobil terlaris adalah MPV 7 penumpang (lihat saja : Avanza, Inova, Xenia, Grand Livina, Freed, Ertiga), SUV (Rush, Terios, bahkan Fortuner dan Pajero), hatchback 1500 CC ke atas (Yaris, Jazz) dan minibus/van (APV).
Inova, sekalipun bermain di harga 250-300 jutaan, tetap bercokol di no.3 tidak jauh dari Daihatsu Xenia yang jelas-jelas mirip Avanza.
Tidak muncul jenis city car dalam data tersebut.
Sumber lain (di sini) mengatakan, menurut Gaikindo penjualan city car selama setahun (2012) hanya berkontribusi 3,92% dari total pasar mobil. Penjualan tertinggi diraup Honda Brio (8.002 unit dalam waktu 5 bulan Agustus – Desember 2013), disusul March (7.740), Picanto (7.675), Splash(5.890) dan Sirion(5.474).
Data diatas membuat kita berpikir ulang, apakah karena murah, LCGC ini nanti kemudian akan serta-merta booming dan melenggang di pasar? Berdasarkan data di atas, dapat diraba karakter konsumen mobil di Indonesia paling tidak menimbang kriteria-kriteria tertentu dalam membeli mobil, diantaranya :
Kembali pada heboh LCGC ini, tampaknya segmen city car yang nanti paling banyak terpengaruh, itupun data mengatakan bahwa Brio yang terlaris justru merk yang termahal di kategori tersebut. Artinya, di segmen bawah pun, pertimbangan bukan semata-mata harga, namun juga kualitas.
Secara total, pertarungan sesungguhnya di pasar mobil adalah di pasar low MPV (Avanza, Xenia, Ertiga, Spin, Grand Livina dan konon Honda sudah bersiap masuk ke segmen ini). Dengan demikian, dari semua varian mobil murah yang sedang dan akan masuk ke pasar, yang justru patut untuk diamati adalah Datsun Go+, yang satu-satunya mobil murah meriah berjenis MPV 7 seater.
Lalu ke mana LCGC model city car akan dijual ? Tampaknya segmen yang disasar adalah pembeli mobil pertama, bisa keluarga baru yang tidak butuh akomodasi luas, anak muda/mahasiswa, mobil kedua dalam keluarga, dan mungkin juga wanita yang males ribet dengan mobil ukuran besar yang semuanya didukung oleh satu keadaan : budget terbatas. Kalau budget anda lebih, pilihan bisa meluas ke city car lainnya bukan? Dilihat dari sisi wilayah –namanya juga city car– tentu potensi pasarnya ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang rawan kemacetan.
Wacana baru yang mengatakan bahwa mobil ini akan dikuota penjualannya per daerah agar tidak memperparah kemacetan Jakarta, akan menjadi tantangan tersendiri bagi produsen. Mungkin Pak Menteri karena di protes sana sini mulai berubah pikiran dan lagi-lagi mengajukan solusi simplenya (di sini) yaitu mencoba membatasi distribusi. Solusi ini bila benar diterapkan, akan membuat produsen pusing delapan keliling. Mengapa?
Saya ingin tutup tulisan ini dengan satu pertanyaan : katakanlah anda punya uang untuk beli mobil sebesar Rp. 110 juta, pilih mana : sebuah Agya baru, atau Xenia berumur 2 tahun ?
Diskusi yang kemudian menjadi hangat, karena tampaknya akan mendapat sambutan yang sangat meriah dari pasar, ditambah lagi slogan Menteri terkait yang menyatakan inilah mobilnya rakyat kecil, karena murah harganya. Tentu kita tidak perlu memperdebatkan seberapa mahal seberapa murah, karena hakikatnya murah dan mahal itu relatif, tergantung kondisi keuangan, dan performance yang kita dapat dari barang yang dibeli. Antusiasme masyarakat di awal sepertinya cukup tinggi, sehingga dalam beberapa jam saja peluncuran di Jakarta Toyota meraup inden 1500 unit Agya.
Bermacam diskusi sudah banyak mengulas dari sisi potensi masalah kemacetan, urgensi transportasi publik, tepat tidaknya PP LCGC, bener tidaknya arah kebijakan, kerugian negara akibat pengurangan PPnBM dan aspek politisnya. Faktanya produk mobil murah sudah diluncurkan, dan masih akan menyusul merk lainnya. Karena itu, tulisan ini mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, yaitu dari sisi karakter konsumen Indonesia, seberapa antusias menerima produk ini? Apakah city car hatchback dengan harga murah ini nantinya akan benar-benar meledak fantastis?
Data penjualan 20 besar model mobil terlaris di Indonesia seperti pernah dilansir oleh kompas.com, terlihat pada tabel berikut (sumber : kompas.com) :
Dari tabel (dengan mengabaikan jenis kendaraan niaga) dapat kita lihat fakta-fakta menarik :
Dilihat dari jenisnya, mobil-mobil terlaris adalah MPV 7 penumpang (lihat saja : Avanza, Inova, Xenia, Grand Livina, Freed, Ertiga), SUV (Rush, Terios, bahkan Fortuner dan Pajero), hatchback 1500 CC ke atas (Yaris, Jazz) dan minibus/van (APV).
Inova, sekalipun bermain di harga 250-300 jutaan, tetap bercokol di no.3 tidak jauh dari Daihatsu Xenia yang jelas-jelas mirip Avanza.
Tidak muncul jenis city car dalam data tersebut.
Sumber lain (di sini) mengatakan, menurut Gaikindo penjualan city car selama setahun (2012) hanya berkontribusi 3,92% dari total pasar mobil. Penjualan tertinggi diraup Honda Brio (8.002 unit dalam waktu 5 bulan Agustus – Desember 2013), disusul March (7.740), Picanto (7.675), Splash(5.890) dan Sirion(5.474).
Data diatas membuat kita berpikir ulang, apakah karena murah, LCGC ini nanti kemudian akan serta-merta booming dan melenggang di pasar? Berdasarkan data di atas, dapat diraba karakter konsumen mobil di Indonesia paling tidak menimbang kriteria-kriteria tertentu dalam membeli mobil, diantaranya :
- Merk : dalam hal ini ciri Toyota minded masih terasa. Kalaupun belakangan sudah mulai masuk merk-merk lain, namun terlihat market share Toyota masih sangat dominan. Faktor kuatnya merk Toyota barangkali selain sudah berkiprah lama, service dan sparepart yang ada di mana-mana dan yang jelas re-sale value yang tinggi (memang aneh tapi nyata : baru beli sudah mikir harga jualnya nanti). Pernah dengan mobil Cherry QQ ? Pada waktu diluncurkan harganya 80-an juta saja. Tapi kurang mendapat sambutan karena merk nya bukan? Atau barangkali meluncur terlalu dini. Jadi, akankah Agya dan Ayla meledak karena faktor Toyota dan Daihatsu?
- Akomodasi : paling tidak muat untuk 5 – 7 orang, bagasi mencukupi. Mengapa ini penting? Karena kalau anda hanya mampu memiliki 1 mobil, maka syaratnya harus all ini one, bisa dipakai sehari-hari, serumah bisa keangkut, asyik di dalam kota, handal untuk perjalanan luar kota, keren dibawa mudik lebaran.
- Harga bukan menjadi pertimbangan utama, tapi kenyamanan juga penting. Misalnya : sama-sama akomodasi mencukupi, MPV lebih dipilih dibandingkan dengan van. Ingat jaman dulu? Tahun 70-an mobil di jalan didominasi Colt T-120. Kemudian era 80-an berganti Suzuki Carry, dan trend bergeser ke Kijang. Hari ini mobil jenis van seperti APV dan Luxio masih ada. Bahkan Suzuki Carry pun masih ada, dengan harga Rp. 100-juta an. Mengapa kalah bersaing dengan duo Avanza–Xenia? Di segmen city car sendiri, ternyata yang terlaris adalah Honda Brio, yang ternyata bukan produk termurah di katergorinya. Hal ini menunjukkan naiknya pendapatan masyarakat golongan menengah ke atas dan beragamnya penawaran merk dan jenis mobil membuat pergeseran preferensi beli mobil dari yang awalnya fungsional bergeser mencari kenyamanan berkendara.
Kembali pada heboh LCGC ini, tampaknya segmen city car yang nanti paling banyak terpengaruh, itupun data mengatakan bahwa Brio yang terlaris justru merk yang termahal di kategori tersebut. Artinya, di segmen bawah pun, pertimbangan bukan semata-mata harga, namun juga kualitas.
Secara total, pertarungan sesungguhnya di pasar mobil adalah di pasar low MPV (Avanza, Xenia, Ertiga, Spin, Grand Livina dan konon Honda sudah bersiap masuk ke segmen ini). Dengan demikian, dari semua varian mobil murah yang sedang dan akan masuk ke pasar, yang justru patut untuk diamati adalah Datsun Go+, yang satu-satunya mobil murah meriah berjenis MPV 7 seater.
Lalu ke mana LCGC model city car akan dijual ? Tampaknya segmen yang disasar adalah pembeli mobil pertama, bisa keluarga baru yang tidak butuh akomodasi luas, anak muda/mahasiswa, mobil kedua dalam keluarga, dan mungkin juga wanita yang males ribet dengan mobil ukuran besar yang semuanya didukung oleh satu keadaan : budget terbatas. Kalau budget anda lebih, pilihan bisa meluas ke city car lainnya bukan? Dilihat dari sisi wilayah –namanya juga city car– tentu potensi pasarnya ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang rawan kemacetan.
Wacana baru yang mengatakan bahwa mobil ini akan dikuota penjualannya per daerah agar tidak memperparah kemacetan Jakarta, akan menjadi tantangan tersendiri bagi produsen. Mungkin Pak Menteri karena di protes sana sini mulai berubah pikiran dan lagi-lagi mengajukan solusi simplenya (di sini) yaitu mencoba membatasi distribusi. Solusi ini bila benar diterapkan, akan membuat produsen pusing delapan keliling. Mengapa?
- Potensi pasar terbesar justru ada di Jakarta, karena orang Jakarta (dan kota besar lainnya) lah yang paling mungkin butuh city car : mobil kecil yang lincah dalam kemacetan dan bisa dibawa masuk ke jalur alternatif (gang-gang sempit).
- Orang kota besarlah (Jakarta salah satunya) yang memang memiliki daya beli kuat karena disitu pula perekonomian berputar. Di sini pula banyak orang merasa perlu punya mobil kedua, atau mobil untuk masing-masing anggota keluarga, karena 1 mobil tidak mampu mengatasi operasional harian untuk seluruh anggota keluarga. Bapak kerja di mana, ibu kerja di mana, anak kuliah di mana : routenya beda-beda. Jadi merasa perlu punya 1 mobil utama plus 1-2 mobil tambahan.
- Di kota besarlah (terutama Jakarta) orang paling merasa butuh punya mobil biar murah asal mobil karena jarak yang ditempuh dalam sehari cukup jauh dari rumah, dan belum tentu bisa ditempuh dengan nyaman dengan kendaraan umum (misal : berdesakan, beberapa kali ganti kendaraan, pakai taksi mahal sekali).
- Jadi, dari catatan di atas, tampaknya LCGC yang baru diluncurkan ini akan cukup significant mendorong pertumbuhan pasar city car, namun tidak untuk keseluruhan pasar mobil, karena membeli mobil bukan hanya soal harga, tapi banyak variabel yang dipertimbangkan.
Saya ingin tutup tulisan ini dengan satu pertanyaan : katakanlah anda punya uang untuk beli mobil sebesar Rp. 110 juta, pilih mana : sebuah Agya baru, atau Xenia berumur 2 tahun ?
Rakyat Kecil Berhak Punya Mobil ! Memangnya Kenapa?
Heboh !!
Satu kata yang paling cocok untuk melukiskan gegap gempita launching duo LCGC produksi Daihatsu dan Toyota. Kehebohan yang dibumbui perang komentar Gubernur Jakarta Jokowi dan menteri perindustrian MS Hidayat (di sini), menjadi publisitas atau iklan gratis yang manis bagi mulusnya penjualan kedua produk LCGC tersebut . Bukankah demikian? Seorang teman yang sempat mengunjungi pameran di kota Solo hari Minggu 15/9/13 kemarin, menuturkan kalau indent hari itu, estimasi delivery bulan Maret tahun 2014. Berita peluncuran Toyota Agya sebelumnya konon diberitakan dalam waktu hanya 3 jam menghasilkan penjualan lebih dari 1.500 unit. Berikut kutipan beritanya dari kompas.com :
Toyota Astra Motor (TAM) meluncurkan Agya di Senayan, Jakarta, Senin (9/9/2013). Setelah peresmian dihadapan media, malam harinya, di lokasi yang sama digelar acara khusus konsumen yang dihadiri sekitar 5.000 undangan. Dalam gelaran tersebut pengunjung dihibur oleh performa panggung dari Once, Ungu, Gigi dan Kotak. Selain menyaksikan hiburan pengunjung juga bisa melihat dari dekat semua varian Agya yang ditemani oleh wiraniaga.
“Animo pengunjung sangat besar, bahkan dalam 3 jam, sejak acara dimulai hingga selesai, pesanan mencapai 1.547 unit. Sistemnya masih sama, mereka harus membayar uang tanda jadi yang nominalnya ditentukan oleh dealer,” ujar Widyawati Soedigdo, GM Corporate Planning & Public Relation, GM Customer Service TAM, dalam acara media gathering di Jakarta, kemarin (10/9/2013).
Membaca berita di atas, tampaknya sulit untuk mengkaitkan dengan pernyataan di bawah ini :
Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan tidak setuju jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengenakan pajak khusus terhadap mobil murah yang diluncurkan pemerintah. Salah satu alasannya, mobil murah ditujukan kepada rakyat kecil.
Rakyat kecil?
Tentu murah saja tidak cukup untuk membuat mobil LCGC ini menjadi “hak” rakyat kecil untuk membelinya. Mengapa ?
Kalau yang disebut rakyat kecil adalah mereka pengguna motor yang diiming-imingi untuk beralih menjadi pengguna mobil, rasanya tidak akan semudah itu. Faktanya sebagian besar pembelian motor dilakukan secara kredit, dan nominal uang untuk mengangsur kredit motor dibandingkan dengan mengangsur kredit mobil adalah beda kelas, tidak dapat disamakan begitu saja.
Harga mobil Rp. 80-100an juta selama ini sebenarnya merupakan wilayah pasar jual beli mobil bekas, sehingga sesungguhnya kehadiran LCGC ini akan lebih mengambil konsumen mobil bekas (terutama jenis City Car). Malah nanti para makelar mobil (yang sebagian juga rakyat juga kecil) jadi pusing kepala. (… hehehe …)
Konon kebijakan mobil LCGC yang secara teoritis sangat irit akan disertai kebijakan keharusan menggunakan BBM non subsidi. Dalam hal ini tampaknya cukup relevan dengan keinginan untuk membatasi penggunaan BBM subsidi. Dalam konteks kantong “rakyat kecil” semestinya kebijakan ini menjadi salah satu pertimbangan beli mobil baru, bukan sekedar harga mobilnya yang “murah.” Masih jauh lebih murah beli BBM untuk motor kalau begitu.
Jadi apakah benar rakyat kecil punya hak untuk membeli mobil murah? Tentu saja berhak, walaupun boleh dibilang masih jauh dari terjangkau. “Rakyat kecil” tampaknya masih hanya sebagai jargon yang dilontarkan agar seolah kebijakan ini demi rakyat kecil, pro rakyat kecil, untuk rakyat kecil.
Melihat animo yang cukup besar, dan bahkan inden yang langsung menutup kapasitas produksi sampai dengan akhir tahun menunjukkan pemesan mobil murah ini tetap saja orang berduit. Siapakah mereka ?
Menurut produsen, target pasar mereka adalah kelas menengah baru, yang tergolong “new entry” pada pasar mobil, yang berencana membeli mobil pertama. Sekalipun daya belinya relatif rendah di pasar mobil tidak lalu berarti mereka benar-benar “kecil”. Katakanlah untuk membeli Daihatsu Ayla (yang bakal termurah di kelas ini) seharga Rp. 76.500.000,- dengan DP 30%, berdasarkan simulasi kredit di www.oto.co.id pembayaran pertama yang harus dilakukan (DP+asuransi+angsuran pertama) senilai Rp. 33.721.400,- dan akan mengangsur senilai Rp. 1.835.000,- per bulan selama 35 bulan berikut. Biaya ini belum termasuk anggran Pertamax tiap bulannya. Kalau dengan UMR Rp. 2,2 juta saja buruh Jakarta masih menuntut kenaikan upah, kira-kira siapa yang sanggup keluar uang Rp. 33 juta di awal dan mengangsur Rp. 1,8 juta per bulan? Paling tidak orang yang memiliki penghasilan minimal Rp. 6 juta per bulan. Itupun harus berpikir ulang kalau sudah berkeluarga dan anak bersekolah bukan? Silahkan hitung sendiri.
Segmen kedua, adalah mereka yang mencari mobil ke dua. Kalau anda punya mobil SUV atau MPV 2000 CC di rumah, yang ber body bongsor dan merasakan galaunya rasio konsumsi bahan bakar 7-8 km per 1 liter bensin, barangkali akan berpikir untuk beli LCGC sebagai mobil kedua. Investasi besar di awal, tapi bisa berhitung untuk beberapa keuntungan : mobil praktis untuk mengantar anak ke sekolah lanjut ke pasar atau sekedar nge-mall untuk para ibu rumah tangga, beli mobil untuk anak yang sudah mulai kuliah, relatif lebih hemat bahan bakar (sekalipun diisi pertamax) dibanding SUV 2000 CC yang dibawa kerja, kecil dan lincah bermanuver di kemacetan (yang akhirnya menambah kemacetan gara-gara main serobot), lincah pula melewati gang-gang sempit sebagai jalur alternatif, cocok untuk yang tinggal di kawasan perumahan atau pemukiman padat.
Segmen ke tiga adalah para spekulan. Dalam kondisi indent yang lama, biasanya para spekulan beradu cepat untuk membeli di awal agar dapat memperoleh keuntungan dari secondary market, yaitu dijual kepada mereka yang tidak sabar antri. Selain itu, berdasarkan pengalaman, sebagai pembeli pada harga launching, akan mendapat keuntungan dari harga jual bekasnya, karena nanti kalau sudah laku biasanya harga akan terkerek naik. Kalau diamati, mobil-mobil baru Rp. 150 jutaan sekarang, waktu peluncurannya dulu harganya tidak lebih dari Rp. 100 juta juga. Dengan menimbang infasi dan umur kendaraan, dihitung-hitung masih untung.
Justru alasan yang sekiranya patut dipertimbangkan Pemerintah adalah, dengan kebijakan mobil murah dalam negeri ini, seberapa besar kans para produsen untuk dapat bersaing di pasar bebas ASEAN 2015, khususnya melawan Thailand yang tidak dapat diremehkan perkembangan industri otomotif nya. Hanya saja, kalau kemudian mobil produksi Thailand dan Indonsia bermain pada merk-merk yang itu-itu juga, sebenarnya bagiamana “persaingan” yang sesungguhnya nanti akan terjadi? Apa beda Honda/Toyota made in Thailand dengan Honda/Toyota made in Indonesia? Bisakah keduanya bersaing? Ataukah justru berkolaborasi mengatur pasar sehingga belum tentu menguntungkan Indonesia? Seharusnya kita mulai sadar untuk memainkan peran Mobil Nasional, yang dalam hal ini harus mengakui kesiapan Malaysia ketimbang Indonesia.
Jadi ?
Semuanya ini adalah soal bisnis, dan bisnis adalah tentang permintaan dan penawaran. Bisnis adalah soal uang. Siapa yang punya uang, harga cocok, anda boleh beli. Kalau anda merasa sebagai rakyat kecil dan mampu beli, ya belilah. Kalau anda kaya dan ingin beli, ya beli saja.
Begitu saja kok repot.
Satu kata yang paling cocok untuk melukiskan gegap gempita launching duo LCGC produksi Daihatsu dan Toyota. Kehebohan yang dibumbui perang komentar Gubernur Jakarta Jokowi dan menteri perindustrian MS Hidayat (di sini), menjadi publisitas atau iklan gratis yang manis bagi mulusnya penjualan kedua produk LCGC tersebut . Bukankah demikian? Seorang teman yang sempat mengunjungi pameran di kota Solo hari Minggu 15/9/13 kemarin, menuturkan kalau indent hari itu, estimasi delivery bulan Maret tahun 2014. Berita peluncuran Toyota Agya sebelumnya konon diberitakan dalam waktu hanya 3 jam menghasilkan penjualan lebih dari 1.500 unit. Berikut kutipan beritanya dari kompas.com :
Toyota Astra Motor (TAM) meluncurkan Agya di Senayan, Jakarta, Senin (9/9/2013). Setelah peresmian dihadapan media, malam harinya, di lokasi yang sama digelar acara khusus konsumen yang dihadiri sekitar 5.000 undangan. Dalam gelaran tersebut pengunjung dihibur oleh performa panggung dari Once, Ungu, Gigi dan Kotak. Selain menyaksikan hiburan pengunjung juga bisa melihat dari dekat semua varian Agya yang ditemani oleh wiraniaga.
“Animo pengunjung sangat besar, bahkan dalam 3 jam, sejak acara dimulai hingga selesai, pesanan mencapai 1.547 unit. Sistemnya masih sama, mereka harus membayar uang tanda jadi yang nominalnya ditentukan oleh dealer,” ujar Widyawati Soedigdo, GM Corporate Planning & Public Relation, GM Customer Service TAM, dalam acara media gathering di Jakarta, kemarin (10/9/2013).
Membaca berita di atas, tampaknya sulit untuk mengkaitkan dengan pernyataan di bawah ini :
Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan tidak setuju jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengenakan pajak khusus terhadap mobil murah yang diluncurkan pemerintah. Salah satu alasannya, mobil murah ditujukan kepada rakyat kecil.
Rakyat kecil?
Tentu murah saja tidak cukup untuk membuat mobil LCGC ini menjadi “hak” rakyat kecil untuk membelinya. Mengapa ?
Kalau yang disebut rakyat kecil adalah mereka pengguna motor yang diiming-imingi untuk beralih menjadi pengguna mobil, rasanya tidak akan semudah itu. Faktanya sebagian besar pembelian motor dilakukan secara kredit, dan nominal uang untuk mengangsur kredit motor dibandingkan dengan mengangsur kredit mobil adalah beda kelas, tidak dapat disamakan begitu saja.
Harga mobil Rp. 80-100an juta selama ini sebenarnya merupakan wilayah pasar jual beli mobil bekas, sehingga sesungguhnya kehadiran LCGC ini akan lebih mengambil konsumen mobil bekas (terutama jenis City Car). Malah nanti para makelar mobil (yang sebagian juga rakyat juga kecil) jadi pusing kepala. (… hehehe …)
Konon kebijakan mobil LCGC yang secara teoritis sangat irit akan disertai kebijakan keharusan menggunakan BBM non subsidi. Dalam hal ini tampaknya cukup relevan dengan keinginan untuk membatasi penggunaan BBM subsidi. Dalam konteks kantong “rakyat kecil” semestinya kebijakan ini menjadi salah satu pertimbangan beli mobil baru, bukan sekedar harga mobilnya yang “murah.” Masih jauh lebih murah beli BBM untuk motor kalau begitu.
Jadi apakah benar rakyat kecil punya hak untuk membeli mobil murah? Tentu saja berhak, walaupun boleh dibilang masih jauh dari terjangkau. “Rakyat kecil” tampaknya masih hanya sebagai jargon yang dilontarkan agar seolah kebijakan ini demi rakyat kecil, pro rakyat kecil, untuk rakyat kecil.
Melihat animo yang cukup besar, dan bahkan inden yang langsung menutup kapasitas produksi sampai dengan akhir tahun menunjukkan pemesan mobil murah ini tetap saja orang berduit. Siapakah mereka ?
Menurut produsen, target pasar mereka adalah kelas menengah baru, yang tergolong “new entry” pada pasar mobil, yang berencana membeli mobil pertama. Sekalipun daya belinya relatif rendah di pasar mobil tidak lalu berarti mereka benar-benar “kecil”. Katakanlah untuk membeli Daihatsu Ayla (yang bakal termurah di kelas ini) seharga Rp. 76.500.000,- dengan DP 30%, berdasarkan simulasi kredit di www.oto.co.id pembayaran pertama yang harus dilakukan (DP+asuransi+angsuran pertama) senilai Rp. 33.721.400,- dan akan mengangsur senilai Rp. 1.835.000,- per bulan selama 35 bulan berikut. Biaya ini belum termasuk anggran Pertamax tiap bulannya. Kalau dengan UMR Rp. 2,2 juta saja buruh Jakarta masih menuntut kenaikan upah, kira-kira siapa yang sanggup keluar uang Rp. 33 juta di awal dan mengangsur Rp. 1,8 juta per bulan? Paling tidak orang yang memiliki penghasilan minimal Rp. 6 juta per bulan. Itupun harus berpikir ulang kalau sudah berkeluarga dan anak bersekolah bukan? Silahkan hitung sendiri.
Segmen kedua, adalah mereka yang mencari mobil ke dua. Kalau anda punya mobil SUV atau MPV 2000 CC di rumah, yang ber body bongsor dan merasakan galaunya rasio konsumsi bahan bakar 7-8 km per 1 liter bensin, barangkali akan berpikir untuk beli LCGC sebagai mobil kedua. Investasi besar di awal, tapi bisa berhitung untuk beberapa keuntungan : mobil praktis untuk mengantar anak ke sekolah lanjut ke pasar atau sekedar nge-mall untuk para ibu rumah tangga, beli mobil untuk anak yang sudah mulai kuliah, relatif lebih hemat bahan bakar (sekalipun diisi pertamax) dibanding SUV 2000 CC yang dibawa kerja, kecil dan lincah bermanuver di kemacetan (yang akhirnya menambah kemacetan gara-gara main serobot), lincah pula melewati gang-gang sempit sebagai jalur alternatif, cocok untuk yang tinggal di kawasan perumahan atau pemukiman padat.
Segmen ke tiga adalah para spekulan. Dalam kondisi indent yang lama, biasanya para spekulan beradu cepat untuk membeli di awal agar dapat memperoleh keuntungan dari secondary market, yaitu dijual kepada mereka yang tidak sabar antri. Selain itu, berdasarkan pengalaman, sebagai pembeli pada harga launching, akan mendapat keuntungan dari harga jual bekasnya, karena nanti kalau sudah laku biasanya harga akan terkerek naik. Kalau diamati, mobil-mobil baru Rp. 150 jutaan sekarang, waktu peluncurannya dulu harganya tidak lebih dari Rp. 100 juta juga. Dengan menimbang infasi dan umur kendaraan, dihitung-hitung masih untung.
Justru alasan yang sekiranya patut dipertimbangkan Pemerintah adalah, dengan kebijakan mobil murah dalam negeri ini, seberapa besar kans para produsen untuk dapat bersaing di pasar bebas ASEAN 2015, khususnya melawan Thailand yang tidak dapat diremehkan perkembangan industri otomotif nya. Hanya saja, kalau kemudian mobil produksi Thailand dan Indonsia bermain pada merk-merk yang itu-itu juga, sebenarnya bagiamana “persaingan” yang sesungguhnya nanti akan terjadi? Apa beda Honda/Toyota made in Thailand dengan Honda/Toyota made in Indonesia? Bisakah keduanya bersaing? Ataukah justru berkolaborasi mengatur pasar sehingga belum tentu menguntungkan Indonesia? Seharusnya kita mulai sadar untuk memainkan peran Mobil Nasional, yang dalam hal ini harus mengakui kesiapan Malaysia ketimbang Indonesia.
Jadi ?
Semuanya ini adalah soal bisnis, dan bisnis adalah tentang permintaan dan penawaran. Bisnis adalah soal uang. Siapa yang punya uang, harga cocok, anda boleh beli. Kalau anda merasa sebagai rakyat kecil dan mampu beli, ya belilah. Kalau anda kaya dan ingin beli, ya beli saja.
Begitu saja kok repot.
Langganan:
Postingan (Atom)
