Kamis, 09 Mei 2013

Catatan Masa Kecil : Juwana, Ketika Banjir Mengalir Sampai Jauh

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata “Juwana”? Barangkali sebagian besar orang akan menjawab “bandeng”. Juwana identik dengan bandeng, karena adanya salah satu pusat oleh-oleh di kota Semarang yang berlabel Bandeng Juwana. Dan rasanya memang tidak salah, karena sejak jaman dulu, Juwana terkenal sebagai penghasil bandeng yang konon enak karena tidak “bau tanah”. Juwana bukanlah sekedar bandeng presto, tapi merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Pati yang terletak di 80 kilometer ke arah timur dari kota Semarang. Mengapa tiba-tiba saya menulis tentang Juwana? Banyak yang istimewa dari kota ini, tapi satu diantaranya karena saya besar di sana.

Juwana adalah kecamatan yang dinamis, karena secara ekonomi sangat strategis bagi kabupaten Pati. Selain karena posisinya berada di jalur Pantura yang sudah ramai sejak zaman dulu karena dilalui jalan Deandles, Juwana dengan sungai Juwana atau sungai Silugonggo yang merupakan salah satu muara laut utara Jawa telah lama menjadi salah satu jalur perdagangan kayu dari Kalimantan, memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menampung hasil laut dari kapal-kapal nelayan yang ada. Selain itu Juwana juga merupakan daerah hasil tambak udang dan bandeng yang cukup dikenal, termasuk hasil produksi kerupuk udang dan terasinya yang lezat. Tidak ketinggalan, Juwana pernah dikenal sebagai salah satu pusat industri logam kuningan dan batik khas desa Bakaran. Belum lagi kuliner hasil lautnya yang mak nyus. Inilah yang membuat Juwana yang kecil itu menjadi sangat dinamis.

Sebelum adanya waduk Kedungombo, salah satu trademark dari Juwana adalah banjir tahunan. Jadi, pada waktu itu kalau seseorang dikenal berasal dari Juwana dan tidak bisa berenang, dengan bergurau orang mengatakan, “bagaimana mungkin setiap tahun pekarangan rumah menjadi kolam renang, sampai gede belum juga bisa berenang?” hehe …

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang banjir. Seperti saya ceritakan di atas, banjir merupakan event tahunan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Istimewanya lagi, karena Juwana adalah daerah muara yang menerima semua banjir limpahan dari hulu, biasanya banjir bisa berlangsung lama, bahkan lebih dari seminggu. Untung saja, sejak dibangunnya waduk Kedungombo, banjir tidak lagi datang setiap tahun, tapi hanya kalau debit air benar-benar besar saja. Sisa-sisanya dapat dilihat hari ini, yaitu rumah-rumah warga yang dekat dengan DAS Sungai Juwana biasanya dibangun cukup tinggi dari jalan, karena dipersiapkan sebagai rumah yang kebanjiran. Pada masa itu, stasiun kota Juwana yang lama tidak difungsikan, sering menjadi lokasi pengungsian banjir, terlebih saat banjir besar, seperti tahun 1981 misalnya. Hampir sebagian besar kecamatan Juwana terendam banjir. Tentu banjir menimbulkan kerugian yang cukup besar, namun ada sisi-sisi unik dari warga dalam menghadapi banjir, karena dalam situasi banjir itu, tidak semua warga mengungsi. Biasanya warga yang rumahnya terendam kurang dari 1 meter lebih memilih tidak mengungsi, tapi menikmati saja banjirnya.

Beberapa keunikan dalam menyiasati hidup bersama banjir misalnya :
  • Selalu menyediakan beberapa “dingklik” kayu yang difungsikan sebagai jembatan yang tersebar di dalam rumah, sehingga kaki tidak basah dengan air kotor. Setelah mandi di sumur atau di kamar mandi, tinggal naik ke jembatan dingklik, mencuci kaki dengan air bersih dan bebas berjalan dari satu dingklik ke dingklik lainnya. 

  • Selalu memasang palang bambu atau kayu terapung di depan pintu rumah. Bukan sebagai anti maling, tapi dipakai sebagai penghalang agar sampah yang terbawa banjir di depan rumah tidak masuk ke dalam rumah. 

  • Selalu menyediakan ban dalam mobil bekas, yang dimanfaatkan untuk bermain air atau belajar berenang untuk anak-anak. Tidak perlu ke sungai atau mencari kolam renang (karena memang tidak ada), cukup belajar berenang di depan rumah. 

  • Kalau ban dalamnya kebetulan adalah ban dalam truk, bisa dimanfaatkan sebagai perahu anak kecil, cukup memasukkan 1 buah ember cuci pakaian ke lubang di tengah ban, jadilah sebuah perahu. Atau kalau punya lebih dari 1 ban truk, cukup dirangkai menjadi rakit dengan meletakkan selembar daun pintu di atasnya 

  • Tidak punya ban dalam ? Solusi belajar berenang atau naik rakit adalah dengan memanfaatkan batang pohon pisang. Alhasil, di musim banjir banyak pohon pisang yang ditebang untuk dimanfaatkan batangnya 

  • Untuk anak-anak sekolah yang kebanjiran dan kebetulan sekolahnya tidak banjir, maka solusi untuk dapat tetap berangkat sekolah adalah dengan berlangganan ojek perahu. Biasanya perahu dapat menampung 5 – 8 anak, menjemput dari satu rumah ke rumah lain dan membawa anak-anak sampai ke tempat terdangkal dekat sekolah. Dengan demikian, walaupun bersandal jepit, anak-anak dapat tetap bersekolah dengan seragam lengkap 

Itulah sekelumit kisah masa lalu, di mata saya sebagai anak kecil pada waktu itu. Dalam setiap bencana, memang terjadi banyak duka dan kesedihan, namun juga dapat dinikmati sebagai kesenangan dan bahkan dinantikan. Namun selalu ada hikmah dan perjuangan untuk survive, dan pada akhirnya orang dapat hidup bersama bencana itu.

Kamis, 02 Mei 2013

CSR sebagai Content Brand Building : Ayo Menabung Pohon


Dalam suatu seminar bertajuk 10 karakter dan perilaku khas konsumen Indonesia, founder Frontier Handy Irawan menyatakan berdasarkan temuan data-data marketing research Frontier, salah satu dari 10 ciri khas konsumen Indonesia itu adalah kurang peduli lingkungan (low consciousness towards environment). Walaupun penelitian ini sudah dilakukan lebih dari 5 tahun yang lalu, tampaknya masih cukup relevan saat ini kalau ukurannya isyu-isyu lingkungan di sekitar kita. Dari yang sederhana : membuang sampah. Masih banyak kita jumpai sungai yang beralih fungsi menjadi tempat sampah raksasa. Dengan santainya sebuah sepeda motor yang melintas berhenti sejenak, melempar sekantung plastik sampah ke sungai, dan melenggang santai tanpa rasa bersalah. Kasus yang lebih kompleks : pencemaran. Berapa banyak industri yang concern terhadap pengolahan limbahnya? Atau soal hutan, yang konon adalah paru-paru bumi. Semakin maraknya bencana banjir dan tanah longsor salah satunya dikontribusi oleh penggundulan hutan. Dengan setengah berseloroh, salah satu peserta seminar itu mengatakan “kalau begitu campaign iklan dengan mengangkat isyu lingkungan tidak bakalan laku dong di Indonesia” Bisa jadi.

Oleh karena itu, sekilas melirik tema campaign Bank Niaga yang mengangkat tema Nabung Pohon Yuk, sejenak membuat saya berpikir, ini tema komunikasi yang sangat menantang. Janji Bank Niaga untuk mengajak Nasabahnya mencintai lingkungan dengan cara untuk setiap pembukaan Rekening Tabungan Junior ataupun TabunganKu, CIMB Niaga akan mendonasikan satu bibit pohon, secara bisnis memang menjadi penuh tanda tanya, sekalipun sebagai CSR Bank Niaga patut kita acungi jempol. Bukankah mainstream strategy menarik nasabah baru adalah menawarkan hadiah undian gemerlap atau memberikan bunga tabungan yang lebih tinggi 0,5% - 1% per tahun dibandingkan suku bunga Bank lain ? Selain itu CIMB Niaga juga telah menyediakan rekening CIMB Niaga Peduli Lingkungan. Melalui rekening ini, CIMB Niaga mengajak masyarakat untuk bisa berkontribusi terhadap lingkungan hidup, dengan mendonasikan dananya ke rekening tersebut. Dalam kegiatan CIMB Niaga Peduli Lingkungan ini CIMB Niaga bekerja sama dengan Yayasan KEHATI untuk pelestarian lingkungan di daerah Jawa yaitu di Pesanggrahan Sangga Buana dan Taman Kehati di wilayah Sumatera dengan nilai program senilai total Rp500.000.000.

Oleh karena itu, marilah kita melihatnya dari perspektif yang lain : keperdulian.

Keperdulian, apalagi terhadap lingkungan barangkali menjadi hal yang “mahal” untuk diwujudkan, namun kalau tidak ada yang memulai, dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi di masa mendatang? Bisa jadi lagu Koes Plus Nusantara yang menggambarkan Indonesia yang subur makmur tinggalah kenangan, yang tersisa adalah hamparan beton yang kering, hutan yang gundul dan bencana alam tak berkesudahan. Mengerikan sekali membayangkan sementara peningkatan produktifitas tanaman pangan masih terbatas, ditambah lagi masih terjadinya konversi lahan pertanian menjadi lahan property, atau barangkali pemanfaatan kayu di hutan yang tidak diimbangi dengan konservasi hutan yang memadai. Dari sisi ini kita patut merenung bahwa perilaku kita hari ini menggambarkan yang sedang kita persiapkan sebagai warisan bagi generasi mendatang, termasuk bagaimana kita memperlakukan lingkungan kita. Rusaknya keseimbangan lingkungan hari ini, akan berdampak pada menurunnya kualitas hidup generasi mendatang. Relakah kita ?

Mengangkat isyu lingkungan, barangkali baru menyentuh keperdulian kalangan terbatas, namun selalu harus ada yang memulai. Seringkali pertimbangan bisnis yang berhitung sukses – gagal secara material membuat enggan para pemasar untuk mengangkat isyu lingkungan sebagai tema utama. Namun ternyata itu bukan berarti tidak mungkin. Salah satu contohnya Body Shop yang konsisten mengangkat isyu lingkungan ternyata dapat membentuk market dan konsumen loyalnya sendiri, dan secara bisnis dapat berkembang.

Sekali lagi keperdulian. Semoga ini bukan sekedar tema CSR, namun benar-benar berasal dari hati yang memiliki keperdulian bagi masa depan, melalui kecintaan pada lingkungan. Sekalipun belum populer, namun selalu harus ada yang memulai.

Selamat untuk CIMB Niaga, Anda telah memulai satu langkah kecil menuju masa depan Indonesia yang lebih ramah lingkungan.

Senin, 22 April 2013

Kartini dan Kebayanya




Presiden Soekarno yang mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. (wikipaedia)

Kepahlawanan Raden Ajeng Kartini, sekalipun masih menimbulkan kontroversi di beberapa kalangan, namun saat ini secara umum hari Kartini masih juga dirayakan. Kegiatan yang pada umumnya dapat dengan mudah ditemukan dalam rangka peringatan hari Kartini, adalah kesetaraan gender, dengan mengangkat tema emansipasi, namun diwujudkan dengan dandanan cantik berkebaya. Pendek kata, hari Kartini adalah hari istimewa para wanita; yang dewasa berkebaya cantik ala Kartini, yang kecil pun berlenggok di atas catwalk bertemakan kebaya dan batik. Tentu melestarikan kebudayaan adalah hal yang sangat baik, namun bukankah bukan itu konteks hari Kartini ?

Kartini dijadikan pahlawan nasional tentu bukan karena kebayanya. Kartini dijadikan pahlawan Nasional karena pemikiran dan tindakannya. Barangkali gagasan Kartini hari ini adalah hal yang biasa, namun pada masanya sangatlah kontroversial. Kartini adalah figur wanita cerdas dan kritis. Karenanya sekalipun merelakan pendidikan formal nya terputus karena budaya pada masanya memang demikian, semangat belajar Kartini tidaklah pupus. Kartini melanjutkan belajarnya dengan membaca surat kabar dan berkorespondensi dengan sahabat Belandanya. Barangkali persinggungan antara permikiran Barat dengan semangat belajar Kartini pada akhirnya membuatnya kritis terhadap segala hal : tentang lingkungan budaya Jawa di mana dia hidup, tentang hasratnya untuk bersekolah di negeri Belanda, tentang cita-citanya agar kaum wanita mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Menghayati kepahlawanan Kartini adalah mencoba menyelami hasrat yang mendalam untuk maju, niat yang kuat untuk meraih cita-cita. Kartini dengan pemikiran dan cita-citanya semestinya menjadi inspirasi, bukan hanya bagi kaum wanita, namun juga bagi bangsa yang sedang merindukan banyak hal, yang masih berkutat dengan berbagai macam persoalan ini. Semoga dalam konteks ini kita tidak hanya cukup puas nyaman menjadi penonton dan membicarakan, namun juga mau mengambil hikmah darinya agar tidak tenggelam dalam wacana yang tak berkesudahan.

Kartini bukan sekedar kebaya dan sanggulnya. Kalau inspirasi Kartini diwujudkan hanya dengan mengenakan kembali sanggul dan kebaya Kartini saja, rasanya kita ini masih sekedar menjadi fans Kartini, tidak lebih dari si kecil yang menari berkostum K-Pop setelah menonton tarian gadis-gadis Korea di TV. Memperingati hari Kartini adalah mengingat semangat Kartini untuk menjadikan dirinya lebih baik, lebih bermakna bagi orang lain, dan yang paling penting bertindak untuk memperjuangkannya. Dengan demikian, berbicara tentang Kartini seharusnya bukan lagi berbicara masalah gender semata, namun mengenai semangat Kartini yang dapat menjadi milik semua orang. Kalau hari ini banyak wanita pintar, berpendidikan tinggi dan sukses, itulah hasil dari penghayatan semangat Kartini dari generasi terdahulu. Kartini telah pergi, tapi semangatnya tetap hidup dan menjadi inspirasi.

Selamat Hari Kartini !

Kamis, 17 Januari 2013

Jempolmu Adalah Harimaumu


Kalau anda pengguna Blackberry (BB), dan tiba-tiba BB berbunyi, munculah pesan dari BBM diawali dengan kalimat sakti “Sorry BC” atau “sorry BM”, maka terangkailah kata-kata yang indah dengan penutup yang terkesan menakutkan “sebarkan kalau anda peduli”. Pada akhirnya banyak orang yang lalu ikut-ikutkan memanfaatkan fasilitas sakti “broadcast message” di blackberry itu untuk mengirimkan pesan ke seluruh contact atau kelompok contact tertentu, hanya dengan beberapa step sederhana dengan menggunakan jempol anda.
Broadcast message merupakan salah satu terobosan teknologi di blackberry messenger yang pasti sangat bermanfaat, apalagi kalau dikaitkan positioning blackberry sebagai gadget yang mumpuni sebagai “mobile office”, melengkapi fasilitas lainnya yang tidak kalah menarik, yaitu push email. Dengan broadcast message katakanlah seorang sales manager dapat dengan mudah menyampaikan satu instruksi kepada semua sales force nya dalam waktu singkat tanpa harus memilih kontak dan copy paste message satu demi satu. Namun demikian, dalam prakteknya tidak semua BM (broadcast message) yang kita terima itu bermanfaat, atau memang diharapkan.
Ada bermacam-macam BC yang mungkin bisa kita terima :
  • BC Kekanak-kanakan (atau memang dikirim anak-anak) : biasanya berisi semacam “add PIN temanku ini XXXXXX, maka kamu akan mendapatkan PIN artis-artis terkenal” atau bisa juga “nanti pukul 12.00 malam akan datang seorang anak kecil ke dalam mimpimu dan dia akan mengajakmu bermain”.  Kalau sering BC seperti ini, lebih baik cek jangan-jangan anak anda sudah membagi PIN anda ke teman-temannya.

  • BC  jualan : “ada yang mau tas LV KW 2, murah, please PING me.” Bisa bermanfaat buat yang suka shopping, tapi bisa juga nyebelin kalau dapet iklan terus-terusan.

  • BC kalimat bijak/religius : biasanya berisi kalimat-kalimat motivasi atau ayat-ayat kitab suci dan renungan hidup, buat saya merupakan bacaan yang sangat bermanfaat untuk memulai hari. Mungkin ada baiknya menyimpan  BC yang seperti ini.

  • BC hoax : mungkin maksudnya baik, tapi tidak cek dan re-cek informasi, sehingga secara tidak sadar menyebarkan berita yang tidak benar. Misalnya saja, terkait banjir Jakarta 16 Januari 2013, muncul BC yang maksudnya baik meminta orang waspada, tapi ditambahi kalimat serem “Jakarta akan terendam banjir terbesar di Indonesia yang akan dimulai sore ini pukul 18:00 wib pintu air katulampa akan dibuka sebab sudah tidak dapat menampung ketinggian air” …  Maksudnya baik, tapi datanya patut diragukan. Atau mungkin pernah dapat BC yang mendaur ulang email atau SMS hoax ini : “berikut ini daftar obat yang tidak boleh dikonsumsi karena mengandung PPA … “  Bukankah obat-obat tersebut masih beredar dan ada no reg BPOM ?

  • BC humor : misalnya yang baru saja beredar hari ini : “ sekilas info : karna banyaknya berita akan terjadinya banjir besar2an di Jakarta, maka tahun baru Imlek khusus di Jakarta, kata gong xi fat choi, diubah menjadi ngung si yuk choi … !! Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan”.  BC humor yang konteksual, walaupun kalau dibaca orang yang kebanjiran pastilah diiringi senyum kecut “kok ni orang ga punya empati sama sekali ya sama orang yang lagi kena musibah”. Atau mungkin juga BC kutipan humor yang beredar di internet dan disebarkan via BBM. Tinggal copy – paste, jadi deh.

  • BC politik : biasanya berisi sikap politik atau cacian terhadap pernyataan kontroversial seorang tokoh. Misalnya saja reaksi masyarakat atas pernyataan rasis seorang pengacara baru-baru ini, muncul BC kecaman dengan embel-embel “sebarkan terus sampai si X itu membacanya”. Atau juga BC dimanfaatkan untuk kampanye politik tim sukses calon pemimpin, entah itu walikota, gubernur, atau kades, biasanya berisi link artikel rekam jejak calon, diakhiri dengan slogan : “jangan salah pilih, coblos pasangan X dan Y demi kota Z yang lebih baik”

  • BC link artikel : biasanya salah satu cara penulis  mempromosikan tulisannya deh ini. Hehehe.

  • BC info bermanfaat : nah, kadang ada juga BC yang bermanfaat semacam yang beredar hari ini (17/1/13): “Buat teman-teman yang membutuhkan evakuasi, bisa menghubungi 6344215 (Jak Pus), 43931063 (Jak Ut), 5682284(Jak Bar), 7515054(Jak Sel), 85904904(Jak Tim)”. Mungkin juga anda pernah dapat informasi tentang modus kejahatan baru di ATM atau juga barangkali copy paste berita kompas.com untuk update lokasi-lokasi genangan banjir.  Berita atau catatan begini barangkali bisa bermanfaat, namun sebelum ikut forward ke contact kita, ada baiknya cek ke sumber lain di internet, benar atau tidaknya informasi tersebut, supaya kita tidak berpotensi meneruskan kesalahan.
Bagaimanapun teknologi BBM diciptakan untuk kemudahan, kepraktisan dan kenyamanan, namun manfaatnya  kita sendirilah yang menentukannya. Apa yang kita sebarkan, menggambarkan kepribadian kita. Jadi berpikirlah dulu sebelum jempol bertindak.
Jempolmu adalah harimaumu.

Selasa, 08 Januari 2013

Pajak UMKM 1% dari Omzet : Bukan Sekedar Masalah Uang


Dirjen Pajak sedang merencanakan untuk memberlakukan pengenaan pajak untuk UMKM sebagaimana dicatat kompas.com di sini :

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany menyatakan akan memberlakukan pajak kepada usaha kecil dan menengah (UKM). Pajak yang dikenakan sebesar satu persen dari total omzet setahun.”Yang punya usaha tetap akan dikenakan pajak penghasilan sebesar satu persen dari omzet,” ucap Fuad saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/1/2013).

Pengenaan pajak 1 persen dari omzet ini apabila nanti ditetapkan berpotensi mengundang kontroversi. Paling tidak akan muncul tiga pertanyaan ini :

Pertama, pengenaan pajak yang proporsional dari usaha beromset Rp. 0 – 4,8 miliar, mengandung berpotensi memberatkan terutama bagi usaha kecil, apalagi memproduksi produk yang sejenis dengan usaha menengah. Memang Dirjen Pajak pernah menyebut akan ditetapkan hanya 0,5% untuk omset dibawah Rp. 300 juta per tahun, namun pernyataan ini sedikit membingungkan karena pernyataan awalnya 1% dikenakan untuk omset Rp. 0 – 4,8 miliar; bukan >Rp. 300 juta – 4,8 miliar. Untuk melindungi usaha kecil (dan mikro), justru ada kebutuhan pemberian insentif pajak bagi mereka, agar terus mengalami pertumbuhan usaha.Dorongan pada usaha kecil ini dapat menjadi cara Pemerintah untuk menekan angka pengangguran, karena selain mendorong pertumbuhan entrepreneur baru, keberadaan mereka akan menyerap lebih banyak tenaga kerja, karena usaha mikro – kecil lebih labour intensive.

Kedua, pengenaan pajak yang didasarkan pada omzet juga dapat menimbulkan persoalan tersendiri. Seperti kita ketahui, setiap jenis usaha atau industri pasti memiliki struktur permodalan, keuangan dan laba tersendiri. Ada jenis usaha yang mempunyai margin laba besar dan volumenya kecil, ada sebaliknya jenis usaha yang bermargin laba kecil namun mengandalkan volume dan nilai waktu dari uang. Dengan demikian pengenaan pajak yang dipukul rata berdasarkan omset ini akan menimbulkan ketidakadilan.  Usaha yang mendapatkan margin laba besar akan dikenai pajak yang relatif kecil dibandingkan dengan margin labanya, sebaliknya jenis usaha yang bermargin laba kecil akan kena pajak cukup besar relatif ke margin labanya.

Sebagai ilustrasi, usaha dengan omset  Rp. 1.000, dan margin laba 30% memperoleh laba bersih Rp. 300, dipotong pajak 1% dari Rp.1.000,- atau sebesar Rp.10,-, maka dia akan memperoleh pendapatan bersih Rp. 290,-, dimana nilai pajaknya adalah 10/300, atau sebesar 3,3%. Sebaliknya, usaha dengan omset yang sama sebesar Rp. 1.000,- namun dengan margin laba 5% akan mendapatkan laba bersih Rp. 50,-, dipotong pajak 1% dari Rp. 1.000,- atau sebesar Rp.10,-, maka dia akan memperoleh pendapatan bersih Rp. 40,-, dimana nilai pajaknya adalah 10/50, atau sebesar 20%.

Ketiga, belum lagi nanti bila dikaitkan dengan usaha-usaha yang baru muncul, yang tentu saja omset tidak menggambarkan tingkat keuntungan, bahkan boleh dikatakan masih merugi jika ditilik dari investasi awal yang dikeluarkan. Untuk mereka seharusnya akan lebih menarik dan bersemangat melakukan ekspansi usaha bila pembayaran pajak dimulai saat mendapatkan profit.

Melihat potensi persoalan ini, bilamana tetap akan dikenakan ujung-ujungnya pajak sebesar 1 persen ini bisa jadi akan dibebankan ke konsumen untuk mempertahankan kinerja dan kemampulabaan usaha. Pemindahan risiko ke konsumen ini berupa kenaikan harga, yang belum tentu nilainya 1%, namun bisa lebih. Masih lagi ditambah dengan kenaikan biaya lainnya sudah di depan mata : kenaikan UMP, kenaikan TDL, kemungkinan kenaikan harga BBM, dan efek dari kenaikan harga di industri hulu (bahan baku/kemasan) serta kenaikan biaya distribusi/transportasi. Pertanyaannya adalah : dalam kondisi demikian bagaimanakah UMKM mempertahankan daya saingnya ?

Catatan di atas semestinya menjadi pertimbangan untuk penetapan kebijakan  pajak ke UMKM ini, supaya selain dapat memenuhi target, namun juga tidak mengusik rasa keadilan masyarakat. Jadi semestinya ini bukan ditafsirkan sebagai penolakan membayar pajak, namun lebih kepada bagaimana pengenaan pajak itu tidak memberatkan yang kecil dan cukup adil bagi mereka. Lalu pertanyaannya : bukankah hanya 1% dan bukankah akan lebih sederhana dibandingkan harus menyusun laporan keuangan, menetapkan profit dan menghitung pajaknya? Apakah alasan-alasan di atas jadi tampak mengada-ada ?
Memang yang menjadi persoalan bila pajak UMKM dihitung berdasarkan profit maka akan terkendala dengan bagaimana kemampuan UMKM itu dalam menyusun laporan keuangan, dan menghitung pajaknya sendiri. Justru inilah yang menjadi persoalan, siapa yang mau mendidik mereka untuk dapat menghitung pajaknya sendiri dengan baik, benar dan jujur? Bukankah kalaupun nanti pajak disederhanakan dengan langsung dikenakan 1% dari omset, siapa yang dapat menentukan nilai omset sesungguhnya kalau tidak ada pencatatan? Masalahnya akan sama kalau tidak diajarin.

Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bukan sekedar membayar pajaknya, namun termasuk juga bagaimana nantinya pemenuhan ekspektasi masyarakat terhadap pengenaan pajak ini. Seberapa yakin para pelaku usaha khususnya UMKM terhadap imbal balik atas kewajiban membayar pajak, apakah akan diimbangi dengan hak untuk :
  • Menikmati infrastruktur yang baik sehingga biaya menjadi lebih efisien,

  • Mendapatkan pelayanan birokrasi yang ramah dan tidak berbelit-belit,

  • Menikmati  kebijakan yang masuk akal dan memenuhi rasa keadilan masyarakat

  • Yakin terhadap kesungguhan komitmen terhadap pemberantasan korupsi
Selanjutnya, menimbang daya dukung UMKM terhadap laju perekonomian, maka yang perlu dipikirkan selain menarik pajak dari mereka, justru upaya-upaya apa yang dapat dilakukan agar UKM dapat berkembang. Beberapa hal yang dapat dipikirkan :
  • Kemudahan perkreditan bagi UMKM. Sepertinya sudah banyak program untuk ini, tinggal sejauh mana sosialisasi dan realisasinya.

  • Ruang untuk berkembang bagi UMKM, antara lain dengan memfasilitasi pemasaran hasil-hasil produksi UMKM, dan bantuan standarisasi mutu agar dapat bersaing tidak hanya di dalam negeri namun juga secara global, sehingga dapat menjadi salah satu penopang ekspor

  • Meningkatkan peran KPPU agar UMKM mendapat ruang dalam persaingan usaha. Sebagai contoh di sektor retail penetrasi hypermarket yang bebas di perkotaan dan pertumbuhan minimarket berjaringan yang sudah jauh masuk ke pedesaan, bahkan berdiri di sekitar pasar tradisional, pastilah terasa dampaknya bagi retail tradisional disekitarnya. Seberapa urgent hal seperti ini untuk segera diatur ?

  • Menyediakan informasi dan akses bagi UMKM untuk dapat saling bekerja sama membangun jaringan baik dalam hal pemasaran bersama maupun saling suply bila hasil produksi mereka saling berhubungan. Misal  adanya asosiasi produsen acessories mobil, dapat di difasilitasi untuk pemasaran bersama ke dealer-dealer mobil, atau saling melengkapi satu dengan yang lain.
Bilamana UMKM dapat didorong menjadi salah satu lokomotif perekonomian, maka keuntungannya adalah selain menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran, juga pada akhirnya meningkatkan penerimaan negara dari pajak dan devisa bila berhasil menembus pasar global.

Jadi, masalahnya tidak sederhana lagi bukan ?

Kamis, 03 Januari 2013

Maut Mengintip Keceriaan Liburan di Pantai


Liburan  sekolah adalah saat-saat yang dinantikan, karena pada waktu itulah anak-anak sekolah sejenak meninggalkan kesibukan belajar, atau para pekerja meninggalkan rutinitas kerja dan memanfaatkan waktu untuk berekreasi bersama keluarga.

Bermain di pantai, adalah salah satu pilihan favorit. Bermain air, merupakan permainan yang mengasyikkan, tidak pernah membosakankan. Apalagi Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan, sudah pasti memiliki banyak sekali pantai dan wisata laut yang indah, dari yang sudah mendunia seperti pantai Kuta, Bunaken, atau Belitung maupun banyak lagi nama yang kita kenal seperti Parangtritis, Baron, Kukup, Indrayanti di pesisis selatan DIY, Pantai Teleng Ria Pacitan, Tanjung Kodok Lamongan, Pantai Kartini dan Bandengan di Jepara, Pantai Ngliyep di Malang, Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Carita, Karimunjawa, Pulau Seribu dan masih banyak lagi. Namun berita menyedihkan kita baca di media, pada liburan akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 ini. Telah terjadi beberapa kecelakaan, di mana keceriaan berenang atau bermain di air berubah menjadi bencana. Inilah beberapa kutipan beritanya :

Kejadian nahas itu bermula saat para santri Pondok Pesantren Raudlatul Falah, Gembong, Pati, Jateng, mengisi liburan di Pantai Bandengan, pada Minggu, 23 Desember kemarin. Tujuh santri berkelompok bermain menggunakan perahu karet. Namun, ombak besar datang dan menghempas perahu yang mereka tumpangi hingga terbalik. Para santri yang tidak mengenakan pelampung itu pun tenggelam. Lima orang hilang ditelan ombak, sementara dua lainnya berhasil menyelamatkan diri. http://jogja.okezone.com/read/2012/12/24/513/736356/tujuh-santri-tenggelam-di-laut-4-tewas-1-hilang

Miswari (15) seorang santri Ponpes Iskarima, Karangpandan, Karanganyar, Jateng hilang tergulung ombak saat berenang bersama 7 rekannya di Pantai Pancer, Pacitan, Kamis (27/12/2012) pagi. Dalam kejadian itu seorang korban korban lain, Fatih (12) warga Ciamis, Jawa Barat kritis dan dilarikan ke RSUD setempat.http://surabaya.detik.com/read/2012/12/28/095514/2128543/475/santri-hilang-ditelan-ombak-pantai-pancer-ditemukan

Semula hanya ingin merayakan liburan akhir tahun, namun naas bagi empat pengunjung pantai selatan karena Selasa (1/1) dikabarkan hilang ditelan ganasnya ombak pantai selatan. Tiga hanyut di Pantai Simedeng, Kabupaten Gunungkidul di antaranya, Dodo (23) warga Kuningan, Aji (23) mahasiswa asal Karawang, Jawa Barat, dan dan Tridadi (30), karyawan restotan yang ada di Pantai Indrayani, tempat para korban menginap. Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan di tempat kejadian menyebutkan, semula Kedua korban masing-masing Dodo (23), dan Aji (23) asyik mandi di tepi pantai atau yang berdekatan dengan Pantai Indrayani. Semula gelombang laut biasa-biasa saja, namun ketika keduanya baru asyik mandi, tiba-tiba datang ombak besar langsung menggulung keduanya. Kejadian ini diketahui Tridadi (30), karyawan restoran di Pantai Indrayanti, berniat menolongnya namun naas ombak besar justru turut menggulungnya pula.http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/01/01/139950/Empat-Wisatawan-Hanyut-Ditelan-Ombak-Pantai-Selatan

Asep Supriatna (48), wisatawan asal Cirebon, diduga tenggelam di Pantai Citepus, Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat saat berenang, dan hingga Selasa (01/01) petang belum ditemukan.
“Pencarian terhadap jasad korban belum membuahkan hasil karena hari sudah mulai gelap dan kondisi gelombang cukup tinggi,” kata Ketua Forum Komunikasi SAR Daerah (FKSD), Okih Fajri, Selasa (01/01).http://www.beritasatu.com/mobile/nasional/90200-wisatawan-hilang-di-pantai-citepus.html

Membaca berita di atas, tentu sangat membawa kesedihan yang mendalam. Bagaimana tidak, keluar dari rumah dengan maksud berekreasi, bergembira bersama, namun bencana mengubahnya menjadi kesedihan dan tangisan keluarga.
Di sisi lain, bermain di pantai biasanya jadi kurang asyik kalau tidak bermain air, entah itu sekedar membasahi kaki, berenang atau memanfaatkan fasilitas permainan air yang ada seperti banana boat, jet ski, kano, atau berperahu karet. Namun adanya beberapa kecelakaan tadi, apakah memang bermain air di pantai menjadi demikian menakutkan ? Tentu saja tidak, asal kita tetap waspada dan berhati-hati. Berikut ini beberapa tips yang mungkin bermanfaat untuk kita saat berekreasi di pantai :
  • Jangan lupa berdoa.

  • Perhatikan kondisi badan. Kalau anda lagi tidak fit, atau memang tidak bisa berenang  tidak perlu memaksakan diri untuk berenang atau bermain olahraga air. Masih banyak aktifitas lain yang dapat dilakukan di pantai. Misalnya bermain sepakbola, volley pantai, atau untuk anak-anak dapat membangun istana pasir atau berburu batu karang atau kulit kerang untuk hiasan akuarium di rumah, atau sekedar bersantai dengan menyewa tikar dan berkeliling belanja souvenir.

  • Perhatikan cuaca dan ombak, apakah saat itu ombak sedang besar dan berangin atau tenang. Biasanya ombak di pagi hari relatif lebih tenang daripada sore hari.

  • Perhatikan lokasi-lokasi dengan tanda-tanda larangan berenang. Patuhilah tanda-tanda tersebut, karena dibuat untuk keselamatan pengunjung yang tidak menguasai medan. Lokasi yang ditandai biasanya merupakan area yang lebih dalam, dan mengandung bahaya bila berenang atau bermain sampai di situ. Tanda yang dipakai biasanya berupa bendera atau papan peringatan.

  • Sekalipun pandai berenang, bukan jaminan kita pasti baik-baik saja. Berenang di laut berbeda kondisinya dengan berenang di kolam renang.

  • Bila sedang bermain dengan perahu, banana boat, kano atau jetski, pastikan kita menggunakan pelampung dan perlengkapan keselamatan lainnya, sudah melakukan pemeriksaan kondisi peralatan dan memastikannya bekerja dengan baik, selalu pahami instruksi penggunaan, dan mintalah didampingi petugas bila perlu.

  • Jangan menggunakan perahu atau kano melebihi kapasitas. Katakanlah kalau kita ber enam, dan kapasitas perahu hanya untuk empat orang, lebih baik sewa dua perahu daripada memaksakan satu perahu untuk enam orang.

  • Tetap waspada. Bila kita pergi bersama keluarga atau rombongan teman-teman, pastikan mereka tahu kita berada di lokasi mana. Jangan bermain sendiri terpisah dari rombongan, sehingga bila terjadi sesuatu dengan kita, akan segera terdeteksi.

  • Di setiap pantai, biasanya tersedia fasilitas penjaga pantai atau menara pengawas. Namun demikian, berpikirlah bahwa tanggung jawab keselamatan kita secara pribadi sepenuhnya ada di tangan kita. Apalagi pada waktu musim liburan di mana pantai sedang penuh sesak, tidak mungkin sejumlah penjaga pantai dapat mengawasi pengunjung satu demi satu.
Demikianlah, semoga bermanfaat. Tidak lupa dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat tahun baru, semoga tahun 2013 ini kita dapat lebih bertumbuh dan berkarya. Bagi yang suka ke pantai, silahkan ikut berbagi pengalaman dan tips di bagian komentar.

Selasa, 25 Desember 2012

Bertumbuh Dalam Rencana-Nya

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Lukas 2:52)

Baru saja kita merayakan Natal, memperingati hadirnya Yesus ke dunia di kandang domba Betlehem. Dalam injil Lukas 2, dicatat bagaimana bayi itu akhirnya bertumbuh besar. Berbicara mengenai pertumbuhan, pada dasarnya mengandung berbagai dimensi, yang satu dengan lainnya tidak terpisahkan. Seperti apa yang dicatat di Lukas 2:52, dilukiskan bagaimana Yesus bertumbuh. Pertumbuhan Yesus tidak sekedar diukur dari berapa usianya sekarang, berapa tinggi dan besar badan-Nya, namun juga bertumbuh dalam hikmat-Nya, besar-Nya, dan dikasihi Allahs serta manusia.

Pertumbuhan atau bertambah besar yang didefinisikan oleh Lukas merupakan kesatuan dari paling tidak empat dimensi. Pertama, jelas sekali disebutkan adanya pertumbuhan fisik, yang dituliskan sebagai bertambah besar. Tubuh manusia dengan gizi yang baik tentu secara alamiah akan bertumbuh besar, dari fisik bayi, kanak-kanak, remaja dan menjadi dewasa. Kedua, Yesus juga bertambah dalam hikmat-Nya, yaitu bertumbuh dalam kecerdasan intelektualitas, sekaligus kearifan dan kebijaksanaan. Ketiga, Yesus bertumbuh semakin dikasihi oleh Allah, menunjukkan adanya pertumbuhan spiritual, bukan sekedar hikmat beragama, namun juga hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Keempat, Yesus semakin disukai oleh manusia, dalam arti memiliki pertumbuhan kecerdasan emosional, sehingga memiliki kehidupan sosial yang baik.

Dari gambaran tersebut, baik kita secara pribadi maupun sebagai jemaat perlu merenungkan kembali makna pertumbuhan dalam kekristenan kita. Seringkali dalam gereja kita membanggakan dengan pertambahan jemaat sehingga gereja penuh sesak, gereja yang terus menambah bangunan, dan banyak kegiatan. Namun apakah kita sudah mengimbanginya dengan memikirkan bagaimana pertumbuhan iman setiap jemaat, aktifis dan orang-orang yang melayani dan memiliki kerinduan datang ke gereja ? Saat kita mencoba untuk mempedulikan pertumbuhan iman, apakah kita melihatnya sekedar dalam pengetahuan tentang teologi saja, ataukah kita mengajak jemaat menikmati dan merasakan adanya hubungan yang lebih baik dengan Allah? Kalau kita merasa bahwa sebagai jemaat telah menyembah dan beribadah dengan baik, yang perlu kita lihat, apakah hati kita telah berubah memiliki hati Kristus dan memancarkannya hingga dapat dirasakan oleh orang lain, Ataukah jangan-jangan ukuran iman kita itu sekedar dari perkembangan ritual agamawi, namun kering dalam spiritualitas ?

Biarlah itu semua menjadi pergumulan kita sebagai pribadi maupun sebagai jemaat, sekaligus hamba-Nya. Pertumbuhan itu memiliki banyak dimensi, yang harus bertumbuh bersama-sama. Hendaklah kita merenungkan kembali nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose ini : Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (Kolose 3:15). Ya, hendaklah Kristus menjadi Raja, memerintah dalam hati kita, supaya kita bertumbuh dewasa, sebagaimana gambaran Kristus yang bertumbuh dewasa, yang bertambah hikmat-Nya, besar-Nya, dikasihi Allah dan manusia.

Mari kita renungkan : Siapakah Raja dalam hatiku hari ini ?