Minggu, 30 Maret 2014

Aku Hanyalah Caleg Berspanduk


PILEG akan segera digelar tanggal 9 April 2014 nanti. Ditengah hiruk pikuk caleg DPR tingkat Nasional, pertarungan di daerah tidak kalah serunya. Memang dinamika calon tingkat Nasional dan daerah bisa jadi berbeda. Para jurkamnas biasanya mampu berkeliling Indonesia dan membuka lapak panggung kampanye megah berikut dengan perlengkapan orkes dangdut lengkap dan barangkali juga didukung tim kampanye yang solid. Akan tetapi para caleg DPRD tingkat kabupaten, haruslah cermat mengefektifkan pelurunya. Tidak semua caleg di daerah mempunyai amunisi yang cukup untuk membuka lapak kampanye yang mampu menyedot massa yang cukup besar. Karena itu, kreatifitas tinggi pun dibutuhkan agar namanya dapat dikenal dan nanti dicoblos.

Memang masalah permodalan tampaknya perlu menjadi pertimbangan tersendiri. Sebagai contohnya tukang bakso yang nyaleg menurut berita di sini,  tentu modalnya tidaklah cukup untuk mengcover seluruh wilayah kabupaten yang menjadi medan perangnya. Akan tetapi, sebagai penjual bakso, dia cukup kreatif dengan sosialisasi kepada modal dasarnya, yaitu para pelanggan yang datang ke warungnya.

Akan tetapi kalau diamati, semua caleg menggunakan cara yang nyaris mirip, yaitu memasang banner atau spanduk di jalanan. Memang tampak tidak sedap dipandang mata. Karena sebagian besar orang berpikir cara ini efektif, maka semuanya berpikiran sama, sehingga tepi jalan dan panggung spanduk dipenuhi oleh gambar caleg. Ironisnya lagi : khususnya bagi mereka yang hanya mencetak dalam ukuran kecil dan jumlahnya sedikit, menjadi tenggelam ditelan kumpulan banner dan spanduk yang  bertebaran di mana-mana. Jangan-jangan sudah tidak ada orang yang melihat lagi. Bukan apa-apa, karena saking banyaknya !

Karena itu, sebelum menjadi caleg dengan modal minimal, haruslah berpikir bagaimana mengefektifkan modal itu. Inilah beberapa tips bagi caleg dengan modal minimal tapi dapat meraiih suara maksimal :

Pertama, sebelum bicara modal, haruslah punya modal dasar : reputasi baik di mata masyarakat. Kalau anda seorang tokoh yang dikenal baik oleh masyarakat, dengan sendirinya reputasi itu akan mendatangkan dukungan. Kalau anda baru dalam taraf “merasa baik” tapi tidak dikenal, mungkin kebaikan anda belum dirasakan masyarakat. Apalagi kalau anda merasa baik dan sudah terkenal  tapi kok tidak punya pendukung, berarti apa yang anda sebut kebaikan itu bukanlah kebaikan di mata masyarakat. Kenali diri, kenali customer.

Kedua, pemilih hanya mencoblos partai dan tulisan nama, bukan foto anda. Walaupun spanduk memang kelihatan meriah, belum tentu efektif. Spanduk anda tidak akan efektif jika sudah ukurannya kecil, kalah jumlah lagi. Lebih baik kreatif seperti tukang baso tadi, menggarap captive market dengan cara yang sederhana : senyum, aroma baso yang menggoyang lidah plus kartu nama agar diingat.

Ketiga, dikenal konstituen itu penting. Jadi bertemulah dengan mereka. Tidak perlu lebay, karena masyarakat sudah pintar dan tahu bahwa semua caleg itu cari simpati. Daripada berjanji, lebih baik bertanya apa masalah mereka, supaya anda tahu apa yang anda perjuangkan kalau diberi kesempatan duduk menjadi anggota dewan. Berjanji sajalah bahwa anda ingat masalah mereka, dan syukur diberi kesempatan memperjuangkannya.

Keempat, jangan sekali-sekali bermain politik uang, walaupun anda tahu uang anda pasti diterima. Banyak orang yang melakukannya, tapi tidak ada jaminan gara-gara uang itu, anda dipilih. Rakyat sudah pintar untuk mencurigai saat seorang caleg membeli suara dengan uang, suatu saat kalau jadi kemungkinan akan menuntut kembaliannya. Apalagi di jaman di mana korupsi sudah semakin memprihatinkan begini.

Kelima, ora et labora. Jangan lupa berdoa. Jangan berdoa agar Tuhan menjadikan anda seorang anggota dewan, tapi berdoalah meminta kekuatan agar anda tahan uji dan tahan godaan, tetap hidup lurus dan menjaga kepercayaan. Kalaupun Tuhan tidak menjadikan anda seorang anggota dewan, anda masih bisa memperjuangkan nasib orang lemah melalui banyak hal. Hidup ini bisa berharga bagi banyak orang walaupun anda tidak punya jabatan.

Jadi, jadi caleg itu jangan hanya mengandalkan spanduk, karena bukan spanduk yang memilih anda, tapi rakyat.

Menangkan hati rakyat, dan anda akan menang. Selamat menjadi caleg.

Hajatan Pesta Demokrasi


Tanggal 9 April 2014 nanti, hajatan Nasional untuk memilih wakil-wakil partai untuk menduduki kursi dewan akan segera dimulai. Seperti biasa, gegap gempita pesta demokrasi dirasakan bahkan lebih jauh sebelum tanggal 9 April 2014. Memang pesta demokrasi menjadi pusat perhatian tersendiri bagi rakyat banyak, karena biar bagaimanapun nasib rakyat adalah objek yang dikampanyekan untuk meraih suara, sekaligus juga sebagai stakeholder yang harus dipuaskan.

Pemilihan umum juga menjadi moment yang menyenangkan bagi rakyat karena pada saat itulah rakyat benar-benar “dirakyatkan”, karena banyak orang baik yang mendatangi dan berbicara kepada rakyat, menanyakan kabar dan nasibnya. Kalau yang saat ini sudah “duduk”, akan memastikan bahwa apa yang sudah diberikan selama dia duduk sudah memuaskan, sementara yang belum “duduk” akan menanyakan ketidakpuasan apa yang bisa dijadikan materi kampanye dan program perbaikan. Namun intinya, diperhatikan.

Dinamika kampanye tidak melulu bernuansa serius, karena sekalipun materi yang dibicarakan sangat strategis (kepemimpinan Nasional) ternyata bisa juga disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Makanya kita tidak heran kalau nuansa kampanye sarat dengan panggung hiburan dan pawai kendaraan di jalanan. Itulah kita, yang memiliki “kearifan” untuk menyampaikan kerumitan masalah bangsa dengan cara-cara yang sederhana dan menghibur.

Yang patut menjadi catatan kita pula, dampak ekonomi dari Pemilu sekalipun tidak dinikmati semua orang, namun dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi. Jadi kalau anda merasa skeptis dengan Pemilu, bahkan berpikir untuk golput segala, jangan marah, sedih dan kecewa dulu. Kalaupun anda merasa manfaat politiknya tidak signifikan, akan tetapi masih ada dampak positifnya pada sektor ekonomi. Konon, di masa seperti ini, teori trickle down effect baru kelihatan ada benarnya. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, sebagaimana dikutip banyak media  memperkirakan penyelenggaraan pemilu pada 2014 akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia, yang diperkirakan akan menyumbang pada kenaikan produk domestik bruto (PDB) sekitar 0,2 persen. Kalaupun kita bukan orang yang mengerti ekonomi, dampak positif dari Pemilu dapat kita rasakan dari analisis sederhana di bawah ini.

Bagi industri kreatif, Pemilu memiliki dampak yang paling signifikan, khususnya pada subsektor periklanan dan fashion. Bagi subsektor industri periklanan, ramainya caleg beriklan lewat media massa berdampak sangat positif. Advertising agency, media agency dan PR agency mendapat banyak order untuk kreatif dan strategi pemenangan Pemilu dan pembelian slot iklan. Dengan besarnya uang yang dikucurkan, maka industri ikutannya ikut kebanjiran order, misalnya production house kebanjiran order produksi iklan, sementara media seperti TV, radio, dan surat kabar ikut kebanjiran iklan. Insan periklanan di daerah pun ikut kebanjiran order baik itu pemasangan baliho, banner, spanduk sampai umbul-umbul. Sebagai dampak ikutannya, produsen spanduk, bendera, umbul-umbul dan baliho akan sibuk mencetak pesanan para caleg.

Jasa terkait yang bisa kita masukkan adalah idustri perhotelan dan hiburan. Tingginya mobilitas orang akan meningkatkan okupansi hotel. Di industri hiburan, event organizer, orkes melayu, group band pop dan penyanyi baik kelas nasional hingga kelas kampung tidak akan sepi dari order. Pemilik persewaan panggung, soundsystem, disel dan meja kursi pun jadi tidak luput dari cipratan rezeki Pemilu.

Dari industri fashion, tentu saja yang paling kecipratan rezeki Pemilu adalah para produsen kaos. Bisa dibayangkan kalau 10 partai politik memesan kaos untuk masing-masing 1.000 lembar kaos per kecamatan saja, bisakah kita menghitung berapa potong kaos yang diproduksi di seluruh Indonesia sebagai alat peraga kampanye saja? Bisakah dibayangkan berapa uang yang beredar di produsen kaos, distributor bahan kaos, bahan-bahan sablon dan produsen benang  jika selembar kaos nilainya Rp. 15.000,- saja?

Selain industri kreatif, industri rokok, makanan dan minuman adalah industri yang juga mengalami pertumbuhan. Semakin banyak massa dimobilisasi, maka akan semakin banyak logistik konsumsi yang harus disediakan, baik untuk tim sukses, tim pawai maupun untuk pertemuan-pertemuan dengan konstituen. Semuanya butuh nasi kotak, snack, air mineral, rokok ala kadarnya dan mungkin juga sembako untuk dibagikan. Dengan demikian, pengusaha kartering maupun produsen snack akan panen pesanan.

Berikutnya rezeki juga sampai ke sektor transportasi dan ikutannya yang menjadi penyokong kampanye.  Mobilisasi masa jaman kuno (katakanlah pemilu tahun 1970-an) lebih efisien, karena ada yang bersepeda, jalan kaki atau beberapa puluh orang di atas bak terbuka. Namun hari ini, untuk mengumpulkan massa dibutuhkan sewa bus untuk mengangkut massa (agar lebih manusiawi) dan tim sepeda motor yang meramaikan jalanan. Khusus untuk sepeda motor karena supaya seru harus ada modifikasi knalpot, maka pra maupun pasca Pemilu, bengkel akan mengalami kenaikan kunjungan, sekali untuk modifikasi, sekali lagi untuk service. Sementara itu konsumsi BBM bersubsidi juga ikut naik, karena mobilitas orang yang meningkat (walaupun bersifat lokal). Belum lagi pemanfaatan sarana transportasi untuk mobilitas para jurkam, baik itu menggunakan mobil pribadi, kereta api, pesawat terbang, bahkan helikopter sewaan (apakah anda juga merasakan kalau tiket promo pesawat belakangan ini agak sulit didapat?).

Sektor informal juga dapat ikut mengais rejeki Pemilu. Banyaknya event di lapangan menjadi lahan bagi para pedagang asongan untuk beroperasi. Mengingat event ini hanya sekali saja, biasanya harga barang di asongan pun bisa relatif lebih tinggi dari biasa (harga peak-season). Pedagang asongan di sini bukan saja mereka yang berjualan rokok dan permen, termasuk juga tukang baso, tukang kacang goreng, tukang es krim, dan bakul keliling lainnya.

Last but not least, kalau anda lagi tidak ada kesibukan pun masih punya kesempatan untuk mendapat uang, karena Pemilu menciptakan lapangan kerja baru sebagai peserta kegiatan kampanye terbuka. Siapa tahu anda beruntung bukan sekedar dapat nasi kotak, namun juga pengganti uang bensin sekedarnya. Selain itu, jangan tidur cepat-cepat, atau bangun tidur siang-siang, siapa tahu ada ketukan pintu sebelum matahari 9 April menyingsing.

Halah … sudahlah …  Dibalik dinamika dan serba-serbi Pemilu di atas, doa kita semua yang utama adalah semoga Pemilu 2014 ini berjalan dengan lancar, aman, jujur dan adil. Semoga rakyat  dapat menyambut era kepemimpinan yang baru dengan lebih optimistis.

Panggung Politik ala Panggung “YKS”


Acara YKS di TV sempat menjadi perbincangan yang ramai di banyak media termasuk Kompasiana. Muara dari diskusi yang terjadi adalah banyak yang menyayangkan tayangan YKS yang dianggap tidak mendidik, kurang berkualitas dan tidak pantas ditonton anak-anak, tidak berkonsep, asal nyeplos dan sebagainya. Akan tetapi fakta berbicara lain : YKS tetap menduduki rating acara yang cukup tinggi, yang artinya banyak dipilih penonton ketimbang acara lain di jam yang sama. Tampaknya trend rating acara TV berbanding terbalik dengan “kualitas” acara TV tersebut [kalau memang definisi kualitas adalah acara yang “mencerdaskan” penontonnya]. Semakin “berkualitas” acaranya, semakin kecil ratingnya.

Apakah kita harus prihatin? Bisa iya, bisa juga tidak. Di satu sisi TV seharusnya menjadi “agent of change” dan secara moral ikut memiliki peran membentuk budaya masyakarat. Bukankah apa yang terjadi di masyarakat seringkali terbentuk dari apa yang ditonton di televisi? Akan tetapi di sisi lain kita semua harus sadar bahwa kita semua menonton TV secara gratis, tidak membayar. Dengan demikian, pengelola TV swasta harus memutar otak agar ada pemasukan, yang tentu saja didapat dari pemasang iklan, yang biasanya memilih program dengan rating yang tinggi. Jadi, kadang tampak masuk akal juga kalau TV lebih mengejar konten dengan rating tinggi, agar penghasilan lebih tinggi. Dengan begitu, yang penting penonton suka, rating tinggi, acara jalan terus, iklan banyak. Demikian mekanisme sederhananya.

Mengapa ratingnya tinggi? Sebenarnya tidak sulit dimengerti. Memang ada sekelompok “elit” atau orang-orang yang kritis dan prihatin dengan maraknya acara yang demikian. Tapi apa daya, sebagian besar orang suka dengan acara itu. Barangkali, hidup sehari-hari masyarakat sudah lelah dengan berbagai persoalan, sehingga saat menyalakan TV tidak lagi mau dijejali dengan acara yang menambah beban pikiran. Masyarakat lebih butuh hiburan, yang ringan, mengundang tawa dan bahkan larut dalam goyang Cesar ala YKS. Jadi, pilihan mudahnya bagi para pengelola TV adalah mengikuti saja apa yang sedang trend sampai masyarakat bosan (rating turun) lalu membuat trend baru agar rating naik kembali. Seperti YKS yang tiba-tiba menggeser minat orang pada Sinetron, suatu saat nanti YKS pun akan tergeser pula dengan tayangan kreatif lainnya.

Lalu sebagai penonton yang bijak harus bagaimana? Kalau anda suka nontonlah, kalau tidak, ganti saja masih banyak channel lainnya. Kalau anak anda ikutan nonton, tinggal anda masih mau asyik bergoyang, atau ganti dengan channel film kartun, atau matikan saja TV anda dan ajaklah anak anda bermain. Bagi kita selalu ada pilihan, dan setiap pilihan tentu demi kebaikan kita sendiri. Demikianlah singkat cerita tentang TV dan YKS. Apa hubungannya dengan Partai?

Sebulan lagi Pileg dimulai, dan dilanjutkan dengan Pilpres. Seperti biasa, PEMILU selalu dimulai dengan kampanye. Sedari dulu, angan-angan banyak pengamat adalah membudayanya kampanye santun yang sarat pendidikan politik serta bernas dengan pemaparan visi dan misi partai oleh para caleg. Namun apa daya, pengerahan massa di jalanan serta panggung hiburan tampaknya masih menjadi andalan kampanye, sehingga barangkali artis-artis kita siap-siap kebanjiran order Parpol untuk menghibur masyarakat sebelum mendengar pidato politik. Semoga ada yang berubah di 2014 ini.

Barangkali fenomena semacam YKS masih dipercaya ampuh untuk mengumpulkan massa, dan menarik minat masyarakat untuk memeriahkan kampanye parpol. Masyarakat tidak didatangkan untuk dididik, tapi diiming-imingi hiburan dan ujung-ujungnya di kasih pidato dan diminta nyoblos pada hari pemilihan. Tapi, mana yang lebih nyantol, goyang penyanyi atau pidato si caleg, tidak ada yang tahu.

Bisa anda bayangkan pengumpulan massa yang hanya mendengar pidato politik saja saat ini? Tampaknya para caleg masih belum PD kalau tidak didampingi penyanyi dangdut. Hehe, takut bubar sebelum acara selesai. Situasi demikian seringkali membuat kita semua merasa kampanye politik tak lebih sekedar panggung hiburan, bukan media pendidikan politik yang mendorong kita semua semakin maju dalam berdemokrasi dan berpolitik. Jangan-jangan ketakutan parpol adalah kejadiannya akan sama juga dengan YKS: rating panggung kampanye politik berbanding terbalik dengan kualitas kampanye itu sendiri. Semakin berkualitas pendidikan politiknya, semakin sepi peminatnya.

Kalau situasinya ternyata nanti masih demikian, lha pendidikan politik itu tugas siapa? Barangkali para elit pengamat, kompasianer kolom politik, media dan mahasiswa sebagai pilar-pilar demokrasi tidak jemu-jemu untuk melakukannya, walaupun mungkin jauh di bawah sana suara anda terdengar sayup ditengah hingar bingar knalpot motor dan soundsystem musik. Atau barangkali (semoga) para caleg pun punya kesadaran bukan hanya soal terpilih atau tidak terpilih, namun mau berbicara dari hati ke hati dengan rakyat, mengerti persoalan mereka dan mencoba mengulurkan tangan dengan berkarya, bukan sekedar janji-janji panggung yang segera terlupakan saat munculnya goyangan si artis. Model kampanye Jokowi di pilkada Jakarta barangkali bisa dijadikan trend baru, langsung blusukan mendatangi masyarakat dan menggali persoalan mereka, bukannya mendatangkan masyarakat untuk mendengar janji-janji baru. Sudah terlalu banyak janji terlontar, sudah terlalu banyak janji terlupakan.

Lalu sebagai rakyat harus bagaimana? Kalau anda kritis dan peduli, barangkali anda mau berpartisipasi melakukan sesuatu sebagai upaya pendidikan politik bagi orang di dalam lingkaran pengaruh anda, dengan demikian anda secara sukarela ikut menjadi “agent of change” bagi pertumbuhan demokrasi di negeri ini. Kalaupun anda hanya suka goyang, ya sudah nikmati saja. Masalah milih, itu masalah hati nurani di bilik suara nanti. Barangkali anda termasuk orang yang sudah lelah dengan janji-janji, jadi paling tidak bisa joged ketimbang tidak dapat apa-apa.

Pokok-e Joget ! Pokok-e Joget !

Selasa, 25 Februari 2014

Hoax di Sekitar Letusan Gunung Kelud

Malam 13 Februari 2014, dari Solo sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari timur, yang sempat menggetarkan kaca jendela. Mulanya agak ragu mengkaitkan dengan berita di TV apa betul gemuruh letusan gunung Kelud sejauh itu terdengar? Suara gemuruh masih terdengar hingga pukul 00.30.
Berangkat tidur dengan tanda tanya, pagi-pagi bangun dikejutkan oleh hujan abu yang ternyata menyelimuti Solo Raya, hingga Klaten dan Jogjakarta. Dampak letusan Gunung Kelud rupanya dirasakan sampai ke Jawa Tengah, bahkan sebagian Jawa Barat. Informasi kawan di Blitar dan Kediri bahkan di sana terjadi hujan kerikil bercampur pasir. Situasi demikian menggambarkan dahsyatnya bencana alam gunung Kelud kali ini.

Di tengah situasi bencana ini, ternyata masih ada saja orang-orang yang tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab dengan membuat berita bohon (hoax), yang pada akhirnya cepat menyebar melalui orang-orang yang mungkin berniat baik memberi informasi, namun tidak melakukan cek dan re cek informasi yang disebarnya. Ini salah satu contoh hoax yang beredar pagi ini :

Info dari BMKG : “ 2 jam lagi akan ada letusan susulan, status AWAS II, diperkirakan letusan sejauh 20Km dari pusat magma dan diperkirakan terjadi gempa 6-8 skalalighter. Dan setelah ini listrik dipadamkan total untuk wilayah kediri. Lahar dinginmengalir sampai kademangan Blitar, hati2 untuk wilayah aliran lahar, hujan abu dan suara gelegar sampai kota Solo dan Klaten, sedangkan daerah kota Pare Kediri ke utara diselimuti bau belerang yang sangat menyengat. Tolong sebarkan info ini. Info : http//www.BMKG.com
Bila pesan berantai di atas di cermati, tampak sekali bahwa ini adalah hoax. Salah satu yang paling kentara adalah situs http//www.BMKG.com itu tidak ada. Anda tidak akan tersambung ke mana-mana dengan klik link tersebut, dan memang website BMKG bukan yang ini. Lagipula belum pernah ada gempa diukur dalam skalalighter. (cape deh)

Fenomena berita bohong selalu terjadi dalam setiap peristiwa bencana entah itu banjir, erupsi gunung berapi, gempa dan lainnya. Sungguh memprihatinkan saat orang bingung tertimpa bencana dan membutuhkan informasi justru mendapatkan pesan yang tidak jelas seperti ini, yang pada akhirnya hanya menambah kepanikan saja.

Oleh karena itu agar tidak tersesat, kita jangan mudah percaya bila menerima pesan BBM seperti di atas. Biasakan untuk melakukan cek ke berita lainnya di situs berita terpercaya semacam kompas.com atau detik.com, atau cek berita dan running text di TV. Saat kita benar-benar yakin akan kebenaran berita yang kita terima, barulah dengan bertanggung jawab menginformasikan kepada kawan dan kerabat.

Borobudur : Keajaiban Dunia di Tengah Pasar

Liburan akhir tahun 2013 lalu, kami sekeluarga sedang dalam perjalanan dari Magelang ke arah Jogjakarta, tentu kurang afdol kalau tidak menyempatkan diri singgah ke Candi Borobudur, yang terletak di Kabupaten Magelang ini. Apalagi cuaca tampak sangat cerah, matahari bersinar terik. Candi Borobudur sangat kita banggakan karena masuk dalam salah satu dari 7 keajaiban dunia. Sekedar mengingat sejarah, Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada tahun 800-an Masehi pada masa kejayaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Candi Borobudur merupakan monumen, tempat yang suci bagi pemeluk agama Budha yang memiliki makna spiritual yang sangat tinggi.

Siang itu tanggal 26 Desember 2013 kira-kira pukul 12.30 kami sudah masuk wilayah Mungkid dekat Magelang meluncur ke arah Borobudur. Jalan beraspal halus dan lebar, tampak terawat. Namun mendekati wilayah Borobudur jalan menyempit. dan kami sempat mencari-cari arah karena tidak melihat (mungkin juga terlewat) petunjuk arah ke sana. Pada akhirnya setelah bertanya kiri-kanan, kami memperoleh petunjuk arah ke Borobudur. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya melihat papan kecil berwarna biru dengan petunjuk ke arah Candi Borobudur. Spontan saya membelokkan stir ke kanan namun kemudian terheran … kenapa ke candi Borobudur masuk ke kampung begini? Ternyata, kami masuk ke suatu kampung yang di rumah-rumah penduduk yang berhalaman cukup luas diobyekkan menjadi lahan pakrir, dan tampaknya dikelola bersama. Terbukti adanya karcis masuk sebesar Rp10.000,- per mobil, yang kemudian dicarikan parkir di halaman rumah yang kosong. Dari situ kami disarankan berjalan kaki ke Candi Borobudur, karena konon di lokasi sangat macet dan padat. Inilah kesan pertama yang sangat “menggoda”.

Karena malas berjalan, dan merasa kurang nyaman parkir berdesakan di gang-gang sempit, kami memutuskan keluar dan mencari lokasi parkir yang benar. Ternyata memang tak jauh dari lokasi tersebut kami temukan jalan masuk ke Candi Borobudur yang benar. Sesampai di lokasi, benar saja tampak lahan parkir yang penuh karena memang musim liburan. Cukup membayar Rp5.000 kami masuk lokasi, dan setelah berjuang dalam kesabaran, toh dapat parkir juga.

Kesan kedua, adalah cukup bingung juga mencari di mana ini candinya? Yang tampak di depan mata adalah deretan mobil parkir. Setelah lihat sana-sini, ketemulah satu papan petunjuk “entrace/pintu masuk” yang tertutup deretan warung makan dan kios-kios. Rasanya aneh juga memasuki salah satu keajaiban dunia melawati “pasar” begini. Rupanya setelah lapangan parkir masuk melewati deretan kios-kios berdinding papan, barulah kami masuk ke area yang lebih “tertata”, yaitu deretan kios-kios souvenir yang lebih bagus, dan tampak antrian orang di pintu masuk.

Setelah membeli tiket dan masuk ke dalam, barulah kami melihat kawasan Candi Borobudur yang memang lebih asri, tertata dengan baik. Taman yang hijau yang terawat, jalan setapak yang nyaman dan masuklah kami ke kawasan Candi. Di dalam selain mengunjungi Candi Borobudur, terdapat juga arena mengendarai gajah untuk anak, naik kereta semacam “sepur kelinci” yang dapat membawa kita berkeliling kompleks candi, serta tempat untuk nonton audio visual sejarah Candi Borobudur. Dari jalan setapak mulai tampak di kejauhan keagungan Candi Borobudur. Namun untuk mendapatkan view yang lebih luas, disarankan Anda berfoto di lokasi lapangan berumput di area sebelah kiri jalan setapak.

Anda dapat juga naik ke candi Borobudur, dengan terlebih dulu melewati pos, di mana dapat menggunakan sarung batik, sebagai bentuk penghormatan kita pada peninggalan bersejarah dan berbudaya tinggi ini. Dengan mengantri satu demi satu, kita dapat menyaksikan dari dekat relief candi, dengan memutar hingga sampai ke puncak. Dari relief itu, kita seolah memasuki perjalanan ziarah kehidupan, dalam perspektif agama Budha.

Dalam cuaca yang terik di siang hari, rasanya akan sangat panas di kepala. Karena itu, sebaiknya Anda siap membawa payung untuk dapat ke atas, atau kalau mau berbelanja topi yang banyak dijajakan oleh pengasong topi maupun di toko-toko souvenir dengan harga Rp20 - 40 ribu (nego) tergantung modelnya.

Setelah selesai, kita keluar dari kompleks Candi dan di pintu keluar kita mendapati kios-kios souvenir yang cukup banyak. Di situ kita dapat membeli oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di rumah yang bertemakan candi Borobudur. Mencapai lapangan parkir, cukup banyak orang yang mengatur lalu lintas parkir, yang cukup membantu kami untuk mencari jalan keluar dari lapangan parkir, dengan imbalan “seiklhasnya”.

Mencermati pengalaman perjalanan ini, sungguh sayang tidak optimalnya pengelolaan membuat keagungan Candi Borobudur jadi terganggu dengan munculnya beberapa “moment of truth” yang kurang pas di hati. Alangkah baiknya, kawasan ini lebih tertata dan terkelola secara lebih terkoordinasi dengan pihak yang berkepentingan, termasuk masyarakat sekitar yang menggantungkan rezeki dari wisatawan. Dibutuhkan manajemen yang lebih baik agar semua kepentingan terakomodasi tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan. Jangan sampai pengunjung merasa tidak nyaman dan kemudian menjadi sulit merekomendasikan untuk berkunjung ke Borobudur kepada teman-teman yang lain.

Selasa, 31 Desember 2013

Tahun Baru = Kalender Baru Saja ?

Tahun baru 2014 baru saja kita masuki.

Pertama saya ucapkan selamat tahun baru bagi teman2 yang merayakannya.

Malam ini kebetulan kota Solo cerah, sehingga tidak ada salahnya melihat-lihat suasana, apalagi mall baru dekat rumah akan menyelenggarakan pesta kembang api. Tentu tidak ada ruginya menyaksikan hiburan gratis setahun sekali ini. Pukul 10 malam, suasana dalam mall sudah sepi kecuali area city walk yang sedang ada event musik. Kemeriahan suasana berpindah ke luar mall, dari area parkir sampai jalan raya di depan sana. Tampaknya orang sudah tidak sabar lagi menyaksikan pesta kembang api. Suasana lain yang mulai terasa adalah orang-orang mulai tumpah ruah ke jalanan. Ada yang bermobil, bersepeda motor dengan bunyi knalpot yang memekakkan telinga, dan tentu saja pasukan berjalan kaki yang berduyun-duyun menyerbu keramaian. Kemacetan mulai terjadi.Kebetulan cukup banyak event di kota Solo dan sekitar. Selain pesta kembang api, ada pula event car free night dan sekaten. Segala kemeriahan  itu menjelaskan 1 hal : semua orang sedang bersukaria merayakan berakhirnya tahun 2013 dan menyambut 2014.

Satu pertanyaan usil yang sempat saya lontarkan  : mengapa sih ganti kalender saja harus dirayakan, bukannya nanti tanggal 1 Januari 14 akan sama saja dengan 31 Desember 13? Sontak respon muncul :  bukannya pergantian tahun harus kita syukuri? (lha memangnya kalau ganti hari tidak perlu disyukuri?) Tapi ya sudahlah, bukan bermaksud merusak suasana hati teman yang merayakan. kadang muncul pertanyaan dalam hati : mengapa kita harus merayakan tahun baru? Bukannya setiap hari selalu ada hari baru, akumulasi 7 hari jadi minggu baru, akumulasi 30 hari jadi bulan baru, akumulasi 12 bulan jadi tahun baru? Bukankah setiap detik yang akan kita lalui  menjadi sesuatu yang baru buat kita ! Tahun baru dimulai tiap 1 Januari dipikir-pikir jadi tidak ada istimewanya bukan? Wajar kalau setiap bangun di pagi hari, kita menyambut hari baru, tantangan baru, masalah baru sekaligus peluang baru. Dari bangun tidur hingga tidur lagi kita bergelut dengan semuanya itu. Alangkah leganya saat kita menutup hari dengan suasana hati yang nyaman karena telah mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan. Indahlah hari yang seperti itu.

Karena itu, merayakan tahun baru semoga bukan sekedar karena sudah menjadi tradisi yang  disepakati secara internasional. Berbicara tahun baru bahkan kita tidak boleh lupa bahwa masih ada tahun baru yang lain, paling tidak kita mengenal di Indonesia masih ada tahun baru dalam penanggalan Hijriyah, penanggalan Jawa dan penanggalan Cina (tahun baru Imlek). Di balik semua peringatan itu, pastilah ada makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh para penggagasnya. Paling tidak, setiap orang dalam hidupnya membutuhkan suatu moment yang membuat dirinya dibangkitkan kembali, disentakkan kembali akan suatu tujuan besar dalam hidup, yang seringkali terpendam di saat rutinitas hidup mulai membelenggu. Karena itu, tahun baru adalah momentum untuk berhenti, dan melakukan 2 hal : merenungkan apa yang sudah kita lalui dan memperbarui komitmen untuk masa depan.

Jadi, kalau waktu setahun sekali itu kita tidak merasa perlu mereview hidup kita, apalagi memikirkan masa yang akan datang, sejatinya tahun baru itu ya sekedar undangan pesta perhelatan internasional saja. Ketika matahari 1 Januari meninggi, anda bangun tidur, tidak ada yang baru selain kalender baru. Hidup hari ini berjalan sepasti hidup yang kemarin, mengalir ke depan mengikuti air mengalir. Selamat Tahun Baru bagi yang merayakannya, semoga  bukan sekedar mengalir bersama pesta, namun mengalami pencerahan hidup. Semoga nanti 31 Desember 2014 kita  bisa tersenyum melihat diri kita yang sudah jauh bertumbuh lebih baik dari diri kita hari ini, dan kehadiran kita bermakna bagi orang lain.

Senin, 30 September 2013

Serunya Punya Golongan Darah Langka


Pertama kali menjadi kenal aktivitas menjadi pendonor darah dari kegiatan donor darah yang diselenggarakan secara rutin di kantor. Tadinya ikut-ikutan saja, dan mencoba untuk rutin 2 – 3 kali setahun. Mengapa akhirnya jadi rutin? Karena menjadi pendonor darah selain bermanfaat bagi orang yang sedang membutuhkan, rupanya bermanfaat bagi pendonor sendiri. Beberapa manfaat menjadi pendonor antara lain : dengan mendonorkan darah, kita dapat “memperbarui” darah yang ada di dalam tubuh kita. Selain itu untuk setiap darah yang di donorkan, selalu dilakukan pemeriksaan apakah darah kita terinfeksi virus seperti hepatitis dan HIV atau tidak, berapa tekanan darah kita, apakah kadar HB kita normal atau tidak, dan lainnya. Dengan demikian, saat darah kita lolos, berarti juga kita sehat. Adanya pemeriksaan dan nanti ditambah lagi dengan cara penyimpanannya membuat penerima donor harus membayar sejumlah uang. Itu bukan untuk membeli darah, namun untuk mengganti biaya pemeriksaan dan penyimpanannya.

Setelah beberapa lama menjadi donor, suatu ketika ada orang tua seorang rekan yang membutuhkan darah. Karena golongan darah saya sama-sama AB, dan kebetulan bukan golongan darah “favorit” yang banyak ditemukan, berangkatlah saya ke PMI dengan 2 orang teman lainnya. Sesampainya di PMI, seperti biasa diambil sampel darah, lalu kami menunggu kurang lebih 2 jam untuk menunggu hasil pemeriksaan.

Setelah hasil pemeriksaan selesai, dan kami mengantri untuk diambil darah, seorang petugas PMI menghubungi saya dan mengatakan bahwa darah saya tidak jadi di ambil. Tentu informasi ini sangat mengejutkan, dan sudah terbayang apakah ada masalah dengan saya? Ternyata bukan itu persoalannya. Menurut petugas PMI tersebut, darah saya tidak diambil karena dalam pemeriksaan diketemukan ternyata golongan darah AB saya itu tidak biasa di Indonesia, karena ber-rhesus negatif. Konon untuk orang Indonesia, tidak lebih dari 1% orang golongan darahnya dengan rhesus negatif. Akhirnya petugas PMI tersebut merekam data-data pribadi saya, dan memasukkan saya di kelompok “donor darah langka”. Mengapa tidak diperbolehkan menjadi donor sukarela? Karena kelangkaannya, saya hanya boleh diambil bila ada kebutuhan darah yang sama persis, AB Negatif. Akhirnya sampai saat ini, saya bukan lagi pendonor aktif, namun menjadi donor bila hanya ada permintaan.

Memiliki golongan darah langka, membuat saya berpikir, akan menjadi kondisi yang berat buat saya bila suatu saat membutuhkan darah. Namun hal ini dapat teratasi, karena PMI telah memiliki data saya, sehingga dapat menemukan orang dengan golongan darah yang sejenis. Di sisi lain saya bersyukur dan menganggap ini sebagai anugerah, karena entah kapan dan di mana saat ada orang yang berkebutuhan khusus, mungkin saya cocok untuk menjawab kebutuhan itu. Saya hanya berharap, Tuhan tetap menganugerahkan kesehatan kepada saya, dan melaluinya saya dapat membantu meringankan penderitaan orang lain.

Belakangan saya makin bersyukur, ternyata selain rekaman data di PMI, saya menemukan sebuah situs http://www.rhesusnegatif.com/ yang merupakan komunitas orang-orang dengan golongan darah ber rhesus negatif. Di situ ada banyak pengetahuan, informasi dan jalinan komunikasi di antara sesama pemilik golongan darah langka. Jadi, kalau ada diantara kompasioner yang sama-sama memiliki golongan darah langka, barangkali dapat masuk dan bergabung di sini.

Sekedar untuk pengetahuan kita, dari artikel yang saya baca di sini diperoleh informasi sbb :

rhesus darah adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Mereka yang mempunyai faktor protein ini disebut rhesus positif. Sedangkan yang tidak memiliki faktor protein ini disebut rhesus negatif.

Mengenali rhesus khususnya rhesus negatif menjadi begitu penting karena di dunia ini hanya sedikit orang yang memiliki rhesus negatif. Persentase jumlah pemilik rhesus negatif berbeda-beda antar kelompok ras. Pada ras bule (seperti warga Eropa, Amerika, dan Australia), jumlah pemilik rhesus negatif sekitar 15 – 18%. Sedangkan pada ras Asia, persentase pemilik rhesus negatif jauh lebih kecil. Menurut data Biro Pusat Statistik 2010, hanya kurang dari satu persen penduduk Indonesia, atau sekitar 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negatif. Karena persentasenya sangat kecil, jumlah pendonor pun amat langka, sehingga bila memerlukan donor darah agak sulit.

Di dalam sistem rhesus terdapat aturan khusus dalam urusan sumbang-terima darah. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditranfusi dengan darah rhesus positif. Ini dikarenakan sistem pertahanan tubuh si reseptor (penerima donor) akan menganggap darah (rhesus positif) dari donor itu sebagai “benda asing” yang perlu dilawan seperti virus atau bakteri. Sebagai bentuk perlawanan, tubuh reseptor akan memproduksi antirhesus. Saat transfusi pertama, kadar antirhesus masih belum cukup tinggi sehingga relatif tak menimbulkan masalah serius. Tapi pada tranfusi kedua, akibatnya bisa fatal karena antirhesus mencapai kadar yang cukup tinggi. Antirhesus ini akan menyerang dan memecah sel-sel darah merah dari donor, sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel darah merah itu. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan tranfusi darah tak tercapai, tapi malah memperparah kondisi si reseptor sendiri.

Menarik bukan?

LCGC : Murah Belum Tentu Laris

Ditandatanganinya (PP) Program Kendaraan Emisi Rendah (LECP), yang diantaranya mengatur insentif khusus bagi mobil ramah lingkungan seperti hibrida, listrik, teknologi mesin bensin atau diesel turbo dan gas akan mendapatkan insentif khusus, yaitu pengurangan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM). Dengan catatan, mobil dirakit di Indonesia dan memenuhi standar minimum kandungan lokal yang telah ditentukan. PP ini menjadi titik tolak diluncurannya mobil murah semacam Agya, Alya, dan menyusul Brio Satya, Datsun Go+ dan Suzuki Wagon R.

Diskusi yang kemudian menjadi hangat, karena tampaknya akan mendapat sambutan yang sangat meriah dari pasar, ditambah lagi slogan Menteri terkait yang menyatakan inilah mobilnya rakyat kecil, karena murah harganya. Tentu kita tidak perlu memperdebatkan seberapa mahal seberapa murah, karena hakikatnya murah dan mahal itu relatif, tergantung kondisi keuangan, dan performance yang kita dapat dari barang yang dibeli. Antusiasme masyarakat di awal sepertinya cukup tinggi, sehingga dalam beberapa jam saja peluncuran di Jakarta Toyota meraup inden 1500 unit Agya.

Bermacam diskusi sudah banyak mengulas dari sisi potensi masalah kemacetan, urgensi transportasi publik, tepat tidaknya PP LCGC, bener tidaknya arah kebijakan, kerugian negara akibat pengurangan PPnBM dan aspek politisnya. Faktanya produk mobil murah sudah diluncurkan, dan masih akan menyusul merk lainnya. Karena itu, tulisan ini mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, yaitu dari sisi karakter konsumen Indonesia, seberapa antusias menerima produk ini? Apakah city car hatchback dengan harga murah ini nantinya akan benar-benar meledak fantastis?

Data penjualan 20 besar model mobil terlaris di Indonesia seperti pernah dilansir oleh kompas.com, terlihat pada tabel berikut (sumber : kompas.com) :
Dari tabel (dengan mengabaikan jenis kendaraan niaga) dapat kita lihat fakta-fakta menarik :

Dilihat dari jenisnya, mobil-mobil terlaris adalah MPV 7 penumpang (lihat saja : Avanza, Inova, Xenia, Grand Livina, Freed, Ertiga), SUV (Rush, Terios, bahkan Fortuner dan Pajero), hatchback 1500 CC ke atas (Yaris, Jazz) dan minibus/van (APV).

Inova, sekalipun bermain di harga 250-300 jutaan, tetap bercokol di no.3 tidak jauh dari Daihatsu Xenia yang jelas-jelas mirip Avanza.

Tidak muncul jenis city car dalam data tersebut.

Sumber lain (di sini) mengatakan, menurut Gaikindo penjualan city car selama setahun (2012) hanya berkontribusi 3,92% dari total pasar mobil. Penjualan tertinggi diraup Honda Brio (8.002 unit dalam waktu 5 bulan Agustus – Desember 2013), disusul March (7.740), Picanto (7.675), Splash(5.890) dan Sirion(5.474).

Data diatas membuat kita berpikir ulang, apakah karena murah, LCGC ini nanti kemudian akan serta-merta booming dan melenggang di pasar? Berdasarkan data di atas, dapat diraba karakter konsumen mobil di Indonesia paling tidak menimbang kriteria-kriteria tertentu dalam membeli mobil, diantaranya :


  • Merk : dalam hal ini ciri Toyota minded masih terasa. Kalaupun belakangan sudah mulai masuk merk-merk lain, namun terlihat market share Toyota masih sangat dominan. Faktor kuatnya merk Toyota barangkali selain sudah berkiprah lama, service dan sparepart yang ada di mana-mana dan yang jelas re-sale value yang tinggi (memang aneh tapi nyata : baru beli sudah mikir harga jualnya nanti). Pernah dengan mobil Cherry QQ ? Pada waktu diluncurkan harganya 80-an juta saja. Tapi kurang mendapat sambutan karena merk nya bukan? Atau barangkali meluncur terlalu dini. Jadi, akankah Agya dan Ayla meledak karena faktor Toyota dan Daihatsu?
  • Akomodasi : paling tidak muat untuk 5 – 7 orang, bagasi mencukupi. Mengapa ini penting? Karena kalau anda hanya mampu memiliki 1 mobil, maka syaratnya harus all ini one, bisa dipakai sehari-hari, serumah bisa keangkut, asyik di dalam kota, handal untuk perjalanan luar kota, keren dibawa mudik lebaran.
  • Harga bukan menjadi pertimbangan utama, tapi kenyamanan juga penting. Misalnya : sama-sama akomodasi mencukupi, MPV lebih dipilih dibandingkan dengan van. Ingat jaman dulu? Tahun 70-an mobil di jalan didominasi Colt T-120. Kemudian era 80-an berganti Suzuki Carry, dan trend bergeser ke Kijang. Hari ini mobil jenis van seperti APV dan Luxio masih ada. Bahkan Suzuki Carry pun masih ada, dengan harga Rp. 100-juta an. Mengapa kalah bersaing dengan duo Avanza–Xenia? Di segmen city car sendiri, ternyata yang terlaris adalah Honda Brio, yang ternyata bukan produk termurah di katergorinya. Hal ini menunjukkan naiknya pendapatan masyarakat golongan menengah ke atas dan beragamnya penawaran merk dan jenis mobil membuat pergeseran preferensi beli mobil dari yang awalnya fungsional bergeser mencari kenyamanan berkendara.

Kembali pada heboh LCGC ini, tampaknya segmen city car yang nanti paling banyak terpengaruh, itupun data mengatakan bahwa Brio yang terlaris justru merk yang termahal di kategori tersebut. Artinya, di segmen bawah pun, pertimbangan bukan semata-mata harga, namun juga kualitas.

Secara total, pertarungan sesungguhnya di pasar mobil adalah di pasar low MPV (Avanza, Xenia, Ertiga, Spin, Grand Livina dan konon Honda sudah bersiap masuk ke segmen ini). Dengan demikian, dari semua varian mobil murah yang sedang dan akan masuk ke pasar, yang justru patut untuk diamati adalah Datsun Go+, yang satu-satunya mobil murah meriah berjenis MPV 7 seater.

Lalu ke mana LCGC model city car akan dijual ? Tampaknya segmen yang disasar adalah pembeli mobil pertama, bisa keluarga baru yang tidak butuh akomodasi luas, anak muda/mahasiswa, mobil kedua dalam keluarga, dan mungkin juga wanita yang males ribet dengan mobil ukuran besar yang semuanya didukung oleh satu keadaan : budget terbatas. Kalau budget anda lebih, pilihan bisa meluas ke city car lainnya bukan? Dilihat dari sisi wilayah –namanya juga city car– tentu potensi pasarnya ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang rawan kemacetan.

Wacana baru yang mengatakan bahwa mobil ini akan dikuota penjualannya per daerah agar tidak memperparah kemacetan Jakarta, akan menjadi tantangan tersendiri bagi produsen. Mungkin Pak Menteri karena di protes sana sini mulai berubah pikiran dan lagi-lagi mengajukan solusi simplenya (di sini) yaitu mencoba membatasi distribusi. Solusi ini bila benar diterapkan, akan membuat produsen pusing delapan keliling. Mengapa?


  • Potensi pasar terbesar justru ada di Jakarta, karena orang Jakarta (dan kota besar lainnya) lah yang paling mungkin butuh city car : mobil kecil yang lincah dalam kemacetan dan bisa dibawa masuk ke jalur alternatif (gang-gang sempit).
  • Orang kota besarlah (Jakarta salah satunya) yang memang memiliki daya beli kuat karena disitu pula perekonomian berputar. Di sini pula banyak orang merasa perlu punya mobil kedua, atau mobil untuk masing-masing anggota keluarga, karena 1 mobil tidak mampu mengatasi operasional harian untuk seluruh anggota keluarga. Bapak kerja di mana, ibu kerja di mana, anak kuliah di mana : routenya beda-beda. Jadi merasa perlu punya 1 mobil utama plus 1-2 mobil tambahan.
  • Di kota besarlah (terutama Jakarta) orang paling merasa butuh punya mobil biar murah asal mobil karena jarak yang ditempuh dalam sehari cukup jauh dari rumah, dan belum tentu bisa ditempuh dengan nyaman dengan kendaraan umum (misal : berdesakan, beberapa kali ganti kendaraan, pakai taksi mahal sekali).
  • Jadi, dari catatan di atas, tampaknya LCGC yang baru diluncurkan ini akan cukup significant mendorong pertumbuhan pasar city car, namun tidak untuk keseluruhan pasar mobil, karena membeli mobil bukan hanya soal harga, tapi banyak variabel yang dipertimbangkan.


Saya ingin tutup tulisan ini dengan satu pertanyaan : katakanlah anda punya uang untuk beli mobil sebesar Rp. 110 juta, pilih mana : sebuah Agya baru, atau Xenia berumur 2 tahun ?

Rakyat Kecil Berhak Punya Mobil ! Memangnya Kenapa?

Heboh !!

Satu kata yang paling cocok untuk melukiskan gegap gempita launching duo LCGC produksi Daihatsu dan Toyota. Kehebohan yang dibumbui perang komentar Gubernur Jakarta Jokowi dan menteri perindustrian MS Hidayat (di sini), menjadi publisitas atau iklan gratis yang manis bagi mulusnya penjualan kedua produk LCGC tersebut . Bukankah demikian? Seorang teman yang sempat mengunjungi pameran di kota Solo hari Minggu 15/9/13 kemarin, menuturkan kalau indent hari itu, estimasi delivery bulan Maret tahun 2014. Berita peluncuran Toyota Agya sebelumnya konon diberitakan dalam waktu hanya 3 jam menghasilkan penjualan lebih dari 1.500 unit. Berikut kutipan beritanya dari kompas.com :

Toyota Astra Motor (TAM) meluncurkan Agya di Senayan, Jakarta, Senin (9/9/2013). Setelah peresmian dihadapan media, malam harinya, di lokasi yang sama digelar acara khusus konsumen yang dihadiri sekitar 5.000 undangan. Dalam gelaran tersebut pengunjung dihibur oleh performa panggung dari Once, Ungu, Gigi dan Kotak. Selain menyaksikan hiburan pengunjung juga bisa melihat dari dekat semua varian Agya yang ditemani oleh wiraniaga.

“Animo pengunjung sangat besar, bahkan dalam 3 jam, sejak acara dimulai hingga selesai, pesanan mencapai 1.547 unit. Sistemnya masih sama, mereka harus membayar uang tanda jadi yang nominalnya ditentukan oleh dealer,” ujar Widyawati Soedigdo, GM Corporate Planning & Public Relation, GM Customer Service TAM, dalam acara media gathering di Jakarta, kemarin (10/9/2013).

Membaca berita di atas, tampaknya sulit untuk mengkaitkan dengan pernyataan di bawah ini :

Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan tidak setuju jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengenakan pajak khusus terhadap mobil murah yang diluncurkan pemerintah. Salah satu alasannya, mobil murah ditujukan kepada rakyat kecil.

Rakyat kecil?

Tentu murah saja tidak cukup untuk membuat mobil LCGC ini menjadi “hak” rakyat kecil untuk membelinya. Mengapa ?

Kalau yang disebut rakyat kecil adalah mereka pengguna motor yang diiming-imingi untuk beralih menjadi pengguna mobil, rasanya tidak akan semudah itu. Faktanya sebagian besar pembelian motor dilakukan secara kredit, dan nominal uang untuk mengangsur kredit motor dibandingkan dengan mengangsur kredit mobil adalah beda kelas, tidak dapat disamakan begitu saja.

Harga mobil Rp. 80-100an juta selama ini sebenarnya merupakan wilayah pasar jual beli mobil bekas, sehingga sesungguhnya kehadiran LCGC ini akan lebih mengambil konsumen mobil bekas (terutama jenis City Car). Malah nanti para makelar mobil (yang sebagian juga rakyat juga kecil) jadi pusing kepala. (… hehehe …)

Konon kebijakan mobil LCGC yang secara teoritis sangat irit akan disertai kebijakan keharusan menggunakan BBM non subsidi. Dalam hal ini tampaknya cukup relevan dengan keinginan untuk membatasi penggunaan BBM subsidi. Dalam konteks kantong “rakyat kecil” semestinya kebijakan ini menjadi salah satu pertimbangan beli mobil baru, bukan sekedar harga mobilnya yang “murah.” Masih jauh lebih murah beli BBM untuk motor kalau begitu.

Jadi apakah benar rakyat kecil punya hak untuk membeli mobil murah? Tentu saja berhak, walaupun boleh dibilang masih jauh dari terjangkau. “Rakyat kecil” tampaknya masih hanya sebagai jargon yang dilontarkan agar seolah kebijakan ini demi rakyat kecil, pro rakyat kecil, untuk rakyat kecil.

Melihat animo yang cukup besar, dan bahkan inden yang langsung menutup kapasitas produksi sampai dengan akhir tahun menunjukkan pemesan mobil murah ini tetap saja orang berduit. Siapakah mereka ?

Menurut produsen, target pasar mereka adalah kelas menengah baru, yang tergolong “new entry” pada pasar mobil, yang berencana membeli mobil pertama. Sekalipun daya belinya relatif rendah di pasar mobil tidak lalu berarti mereka benar-benar “kecil”. Katakanlah untuk membeli Daihatsu Ayla (yang bakal termurah di kelas ini) seharga Rp. 76.500.000,- dengan DP 30%, berdasarkan simulasi kredit di www.oto.co.id pembayaran pertama yang harus dilakukan (DP+asuransi+angsuran pertama) senilai Rp. 33.721.400,- dan akan mengangsur senilai Rp. 1.835.000,- per bulan selama 35 bulan berikut. Biaya ini belum termasuk anggran Pertamax tiap bulannya. Kalau dengan UMR Rp. 2,2 juta saja buruh Jakarta masih  menuntut kenaikan upah, kira-kira siapa yang sanggup keluar uang Rp. 33 juta di awal dan mengangsur Rp. 1,8 juta per bulan? Paling tidak orang yang memiliki penghasilan minimal Rp. 6 juta per bulan. Itupun harus berpikir ulang kalau sudah berkeluarga dan anak bersekolah bukan? Silahkan hitung sendiri.

Segmen kedua, adalah mereka yang mencari mobil ke dua. Kalau anda punya mobil SUV atau MPV 2000 CC di rumah, yang ber body bongsor dan merasakan galaunya rasio konsumsi bahan bakar 7-8 km per 1 liter bensin, barangkali akan berpikir untuk beli LCGC sebagai mobil kedua. Investasi besar di awal, tapi bisa berhitung untuk beberapa keuntungan : mobil praktis untuk mengantar anak ke sekolah lanjut ke pasar atau sekedar nge-mall untuk para ibu rumah tangga, beli mobil untuk anak yang sudah mulai kuliah, relatif lebih hemat bahan bakar (sekalipun diisi pertamax) dibanding SUV 2000 CC yang dibawa kerja, kecil dan lincah bermanuver di kemacetan (yang akhirnya menambah kemacetan gara-gara main serobot), lincah pula melewati gang-gang sempit sebagai jalur alternatif, cocok untuk yang tinggal di kawasan perumahan atau pemukiman padat.

Segmen ke tiga adalah para spekulan. Dalam kondisi indent yang lama, biasanya para spekulan beradu cepat untuk membeli di awal agar dapat memperoleh keuntungan dari secondary market, yaitu dijual kepada mereka yang tidak sabar antri. Selain itu, berdasarkan pengalaman, sebagai pembeli pada harga launching, akan mendapat keuntungan dari harga jual bekasnya, karena nanti kalau sudah laku biasanya harga akan terkerek naik. Kalau diamati, mobil-mobil baru Rp. 150 jutaan sekarang, waktu peluncurannya dulu harganya tidak lebih dari Rp. 100 juta juga. Dengan menimbang infasi dan umur kendaraan, dihitung-hitung masih untung.

Justru alasan yang sekiranya patut dipertimbangkan Pemerintah adalah, dengan kebijakan mobil murah dalam negeri ini, seberapa besar kans para produsen untuk dapat bersaing di pasar bebas ASEAN 2015, khususnya melawan Thailand yang tidak dapat diremehkan perkembangan industri otomotif nya. Hanya saja, kalau kemudian mobil produksi Thailand dan Indonsia bermain pada merk-merk yang itu-itu juga, sebenarnya bagiamana “persaingan” yang sesungguhnya nanti akan terjadi? Apa beda Honda/Toyota made in Thailand dengan Honda/Toyota made in Indonesia? Bisakah keduanya bersaing? Ataukah justru berkolaborasi mengatur pasar sehingga belum tentu menguntungkan Indonesia? Seharusnya kita mulai sadar untuk memainkan peran Mobil Nasional, yang dalam hal ini harus mengakui kesiapan Malaysia ketimbang Indonesia.

Jadi ?

Semuanya ini adalah soal bisnis, dan bisnis adalah tentang permintaan dan penawaran. Bisnis adalah soal uang. Siapa yang punya uang, harga cocok, anda boleh beli. Kalau anda merasa sebagai rakyat kecil dan mampu beli, ya belilah. Kalau anda kaya dan ingin beli, ya beli saja.

Begitu saja kok repot.

Rabu, 22 Mei 2013

Berhenti Merokok itu Mudah, tapi Jarang yang Berhasil!


Industri rokok memang unik. Di satu sisi, semakin modern orang semakin mengerti bahwa merokok itu lebih banyak ruginya (duit, kesehatan) dibanding kenikmatannya. Tapi di sisi lain, dilaporkan industri rokok di Indonesia terlihat terus menerus mengalami pertumbuhan, rata-rata 4,4% per tahun dari tahun 2005 – 2012. Gappri memperkirakan konsumsi rokok pada 2012 telah mencapai 300 miliar batang. Kalau diuangkan, tentu bukan uang yang kecil. Triliunan.

Memang banyak upaya Pemerintah untuk membatasi konsumsi rokok, diantaranya :
Pencantuman peringatan pada kemasan : “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN JANIN”

Pembatasan iklan Rokok (tidak boleh memperlihatkan produk pada semua media iklan) dan pembatasan jam tayang iklan TV (di atas pukul 21.00).

Toh faktanya : omset rokok naik dari tahun ke tahun. Mengapa? Karena pada dasarnya memang belajar merokok lebih mudah daripada berhenti merokok.

Berhenti merokok? Ini topik yang menarik, karena hanya bisa ditulis oleh mantan perokok. (hehe, just kidding …). Seriusnya : topik ini menarik karena berhenti merokok itu tidak mudah. Banyak orang yang berhenti merokok karena dipaksa keadaan (paru-paru dan jantung bermasalah). Tidak bisa dipungkiri merokok itu memang sangat nikmat, sehingga kalau perokok diminta berhenti merokok, tentu reaksi pertamanya bagaikan menyuruh kucing jadi vegetarian. Akan tetapi, berhenti merokok bukanlah hal yang mustahil, karena faktanya banyak juga yang berhasil.

Mengapa merokok? Karena belajar dari orang tua yang merokok, dan belajar dari teman sebaya yang sebagian besar merokok. Sampai hari ini, banyak kita jumpai perokok di usia belasan di sekitar kita. Saya kira pemicu utama justru dari keluarga dan teman dekat yang memberi peluang untuk belajar, dan pada akhirnya mengalami ketergantungan.

Pada dasarnya, dalam hati kecil seorang perokok itu, masih memiliki setitik rasa bersalah. Bukankah demikian? Terbukti, sekarang banyak kita jumpai perokok yang mengakui bahwa merokok itu merugikan kesehatannya, dan juga kesehatan orang lain (perokok pasif) dan mengganggu kenyamanan orang di sekitar. Karenanya mulai bermunculan perokok yang mau merokok di tempat (kotak kaca/akuarium) yang disediakan, menghidar dari kerumunan (supaya tidak mengganggu orang lain) dan bahkan gosok gigi atau berkumur sehabis merokok(untuk mengurangi bau mulut). Tapi di luar orang-orang ini, banyak juga sih yang cuek bebek, merokok di dalam ruang ber-AC, merokok saat berdesakan ngantri, merokok dalam angkutan umum.

Bagi mereka yang memiliki kesadaran bahwa merokok itu tidak baik, mulai terbesit keinginan, seandainya saja saya bisa berhenti merokok, tentu lebih baik. Tapi apa daya, selalu kalah dari keinginan untuk merokok. Ada yang bilang mulut rasanya menjadi asam tanpa rokok, ide ngga bisa keluar tanpa rokok, udah kecanduan rokok, dan lainnya. Kekuatan keinginan merokok itu memiliki dorongan yang kuat lho, untuk membuat orang bersemangat dan berusaha. Demi memenuhi keinginan merokok, bisa berputar-putar kota pukul 12 malam hanya untuk menemukan secercah cahaya lampu rombong rokok yang masih buka (sad but true … )

Agar sukses berhenti merokok, kita harus tahu kiat-kiat berhenti merokok. Dari pengalaman, ada yang sukses dan banyak yang gagal. Diantaraya :


Berhenti beli rokok, dengan harapan bisa mengatasi keinginan merokok karena tidak ada rokok. Kemungkinan gagal sangat tinggi, karena biar bagaimanapun kita punya banyak teman yang baik hati yang setiap saat bersedia berbagi rokok. Kecenderungan perokok akan semakin senang bila merokok bersama (iklan yang bilang “asyiknya rame-rame” emang bener banget). Akhirnya karena sungkan dengan teman, beli lagi deh.

Mengganti rokok dengan permen. Ternyata belakangan baru tahu rokok dan permen rasa mint sangat enak dikonsumsi bareng-bareng. Gagal lagi.

Mengurangi sedikit demi sedikit. Biasanya hanya berkurang di minggu-minggu awal, setelah itu kembali seperti semula. Tidak berhasil.

Mengucilkan diri dari lingkungan perokok. Namun sebagai makhluk sosial, tidak mungkin kita meninggalkan teman gara-gara rokoknya bukan? Gagal.

Lalu, bagaimana bisa berhasil berhenti merokok ?

Barangkali pengalaman ini dapat membantu :

Semua bentuk pengaruh, alat, metode, dan dorongan dari luar untuk berhenti merokok tidak akan berguna bila tidak ada keinginan dan motivasi yang kuat untuk berhenti merokok.

Karena itu yang kita lakukan adalah, bilang pada diri sendiri “mulai hari ini saya tidak merokok” Begitu saja, berhenti!

Apa betul semudah itu? Memang tidak mudah.

Awali dulu dengan merubah dulu “mindset” anda :


Merokok itu bukan suatu “kecanduan” tapi hanya “nafsu dan kebiasaan” sehingga berhenti itu dampaknya hanyalah anda akan lebih sehat.

Belajarlah dari orang yang anda kenal, berapa banyak dari mereka yang umurnya jadi lebih pendek karena kanker paru-paru dan stroke. Memang sih banyak perokok yang umurnya panjang, tapi tidak ada yang menjamin anda masuk yang berumur pendek atau yang berumur panjang.

Kalaupun anda tidak takut mati, pikirkanlah orang yang anda sayangi. Kalau anda sakit, anda jadi beban mereka. Kalau anda mati, anda membatasi peluang untuk berkesempatan melihat anak anda tumbuh dewasa dan memberikan cucu buat anda.

Setelah itu, carilah alasan apa yang cukup penting, untuk membuat anda harus tetap merokok selain untuk memenuhi nafsu kenikmatan sesaat ? Kalau Anda ngga bisa temukan, maka dengan mudah anda bisa berhenti.

Akhiri dengan keputusan bulat Anda !


Yang penting bukan caranya, tapi niatnya. Selamat mencoba.

Sabtu, 18 Mei 2013

Blackberry, Riwayatmu kini


Dilepasnya aplikasi Blackberry Messenger untuk dapat berjalan dalam platform OS Android dan IOS barangkali merupakan berita mengejutkan dari Blackberry, karena selama ini fitur BBM adalah eksklusif milik Blackberry, dan menjadi salah satu fitur unggulan. Tentu keputusan ini mengundang tanda tanya yang cukup besar, khususnya terhadap masa depan Blackberry OS.

Tentu saja, keunggulan Blackberry bukan hanya pada fitur BBM saja, melainkan juga pada fitur push email nya yang konon masih terbaik. Tidak heran, karena OS dan gadget Blackberry pada mulanya diciptakan untuk segmen bisnis, sehingga kekuatannya terletak pada push email dan messenger. Untuk fitur lainnya, seperti entertainment, games dan browser masih kalah dibandingkan dengan Android maupun IOS. Apalagi dengan jaringan pas-pasan seperti di Indonesia, sudah lumrah keluhan BB lemot.

Di satu sisi, berita munculnya BBM di Android dan IOS mengundang tanda tanya besar, strategi apa yang sedang dimainkan RIM. Paling tidak, pada tahun ini ada berita lain seputar Blackberry yang cukup menarik, yaitu :

Pertama, Peluncuran OS Blackberry. Penyempurnaan OS Blackberry 10 dengan gadget full touchscreen maupun dengan querty keyboard khas Blackberry yang baru diluncurkan awal tahun 2013 ini diharapkan lebih mampu bersaing dengan IOS dan Android. Waktulah yang akan membuktikannya. Namun yang jelas konon perkembangan sampai dengan kwartal 1 2013 ini tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda meledak. Bahkan, menurut artikel ini tampaknya penjualan Blackberry 10 masih di bawah target. Dari rencana produksi 1,5-2 juta unit sebulan, ternyata estimasi analys untuk sales di 2 bulan terakhir baru mencapai rata-rata 1,25 juta unit per bulan.
Kedua, market share Blackberry. Data yang dirilis oleh IDC berdasarkan shipment di seluruh dunia, terlihat perbandingan market share smartphone OS masih di dominasi oleh Android (75%), dan IOS (17,3%) di tempat ke-2. Blackberry pada quarter 1 2013 hanya memperoleh 2,9% market share, bahkan karena mengalami penurunan, dilewati oleh Windows Phone 8. Hal ini menunjukkan adanya tekanan terhadap bisnis Blackberry sendiri, karena data tersebut merupakan warning atas performa buruk Blackberry.
13687827431246182677
source : engadget.com
Berdasarkan kenyataan di atas, tampaknya 2 strategi yang besar yang sedang diambil adalah upaya menyelamatkan Blackberry, adalah peluncuran BB 10 yang didasarkan pada keyakinan bahwa Blackberry masih memiliki penggemar (paling tidak di Asia Pasific termasuk Indonesia). Diharapkan dengan diluncurkannya BB 10, membuat BB masih dapat eksis di dunia smartphone. Tentu dalam hal ini waktu lah yang akan membuktikan.
Strategi lainnya adalah membuka BBM ke platform Android dan IOS, yang barangkali menjadi salah satu upaya yang cukup berarti paling tidak dalam 2 kemungkinan skenario :
  • Skenario positifnya : mempertahankan eksisiting user BBM, dan sekaligus memperluas pasar BBM (yang konon akan dapat diunduh secara gratis untuk layanan messenger dan group). Hal ini dalam jangka panjang akan menguntungkan, karena dengan “teaser BBM” dapat diharapkan pengguna IOS dan Android mau beralih mencoba BB. Agar skenario ini dapat terjadi, OS maupun gadget BB 10 harus benar-benar istimewa, dibandingkan dengan kompetitornya.

  • Atau skenario negatifnya : dengan dapat dipakainya BBM di berbagai macam platform akan menyebabkan orang semakin melupakan Blackberry, karena saat ini adalah jamannya Android. Pada akhirnya Blackberry akan melakukan turn around bisnis dari penyedia OS menjadi produsen software multiplatform. Namun paling tidak secara bisnis belum tentu strategi turnaround ini buruk buat Blackberry, tapi justru semakin memperbesar bisnisnya. Bukankan penggunan Android + IOS + Blackberry saja sudah mencapai 95% market? Peluang pasar yang sangat besar. Siapa tahu suatu saat akan muncul Blackberry rasa Android. Sebagai aplikasi multi platform tampaknya BBM juga harus berbenah, agar tidak kalah bersaing dengan WA, Kakao Talk, dan free aplikasi messenger lainnya. Ke depan seharusnya BBM dikembangkan sebagai aplikasi yang lebih luas, sehingga fitur messaging dan group messaging menjadi standar free aplikasi, namun akan menjadi aplikasi berbayar untuk “extended feature” lainnya. Ini akan menjadi sumber penghasilan baru bagi Blackberry dari pengguna Android dan IOS.
Let’s wait and see.

Senin, 13 Mei 2013

Pesta Demokrasi : Pestanya Siapa ?


Raungan mesin sepeda motor memecah pagi. Rombongan motor itu memenuhi jalan dengan berseragam dan membawa atribut partai tertentu, mendukung salah satu pasangan calon Gurbenur Jawa Tengah. Ah, rupanya pesta itu kembali digelar. Seperti biasa, pesta demokrasi selalu diwarnai dengan pengerahan massa, mendengarkan orasi orang penting, lalu ketika bubaran, dimulailah pawai keliling itu. Jalanan menjadi penuh, dan pengguna jalan harus rela minggir memberi jalan agar rombongan itu lewat. Kadang tidak habis pikir, apakah dengan cara seperti itu lalu rakyat yang melihatnya jadi tercerahkan? Inilah salah satu fenomena politik negeri ini, pesta demokrasi. Mengapa disebut pesta? Karena memang hanyalah pesta. Pesta memang menyenangkan, tapi kita harus tahu tidak ada pesta yang tidak berakhir. Pesta selalu membawa kegembiraan, tapi setelah berakhir, semua kembali seperti biasa.

Proses politik semestinya bukan sekedar bagaimana kekuasaan dibentuk, tapi lebih dari itu mendewasakan rakyat, agar rakyat tidak lagi sekedar dianggap objek politik, tapi juga subjek politik yang berpartisipasi dalam proses politik. Sebagai subjek itu bukan sekedar hak 5 menit di bilik suara yang menentukan nasib 5 tahun ke depan, tapi juga sebagai subjek yang berhak untuk mendapatkan pemimpin yang memikirikan dan memberikan yang terbaik untuk seluruh rakyatnya. Karena itu, rakyat bukan sekedar sebagai pemilih, namun juga berhak menuntuk janji-janji kampanye. Dengan demikian, kampanye politik bukan hanya sebagai cara mencapai jalan menuju kekuasaan, tapi juga mengajak rakyat menyongsong masa depan yang lebih baik. Karena itu, kampanye seharusnya ditempuh dengan cara mencerdaskan rakyat untuk berpolitik secara demokratis rasional, yaitu memilih siapa pemimpin terbaik.

Agar dapat menjadi rasional, bukankah proses politik itu seharusnya adalah suatu pendidikan politik, bukan pesta politik. Tentu membangun awareness dengan beriklan, branding dan pengerahan massa, namun tentu untuk memberi pendidikan dan pencerahan, bukan mengganggu ketertiban. Lalu mengapa dari tahun ke tahun masih begitu juga? Jangan-jangan memang proses politik itu hanyalah sekedar tentang memperoleh kekuasaan. Selebihnya politik itu adalah urusan para elit, sedangkan rakyat tinggal menjadi penonton dan kembali berharap akan perbaikan nasibnya. Pesta telah berakhir, kehidupan kembali normal.
Namun yang menarik, sekalipun bertahun-tahun muncul kritik, toh kampanye politik sebagai hura-huranya pesta demokrasi selalu meriah, tak pernah sepi pengunjung. Barangkali hal seperti ini perlu disikapi secara arif oleh para elit politik. Seolah mereka takut tanpa model kampanye yang demikian, dia tidak akan dikenal, dan pada akhirnya tidak terpilih. Rakyat dianggap tidak memiliki “kecerdasan politik” dan dianggap sebagai pemilih yang emosional, yang terpesona oleh gemerlap panggung, penampilan artis, dan (barangkali) amplop uang capek ala kadarnya. Rakyat dianggap bodoh, atau memang sengaja dibodohi?

Jangan-jangan, dengan cara-cara kampanye politik seperti sekarang ini, ya memang keputusan yang tepat adalah jadi orang yang aktif menghadiri pesta. Toh semua juga tahu, apapun hasilnya, setelah pesta selesai semua kembali seperti bisa : tidak ada perubahan apa-apa. Karena itu, daripada tidak dapat apa-apa lima tahun ke depan, lebih baik ikut pesta ; paling tidak memperoleh paket kaos, uang bensin dan hiburan. Rakyat tidak butuh itu, mereka butuh diperhatikan masa depannya, butuh suatu pengharapan yang bisa dibuktikan.
Semoga pesta ini tidak selesai setelah pencoblosan dengan rakyat yang hanya bisa menunggu pesta berikutnya. Semoga kampanye cagub Jateng menghasilkan pemimpin berkualitas yang betul-betul memikirkan rakyat, dan menggerakkan warga Jateng membangun Jateng. Semoga demokrasi yang dibangun kali ini bukan sekedar hajatan.

Selamat berdemokrasi untuk rakyat Jawa Tengah.

Kamis, 09 Mei 2013

Catatan Masa Kecil : Juwana, Ketika Banjir Mengalir Sampai Jauh

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata “Juwana”? Barangkali sebagian besar orang akan menjawab “bandeng”. Juwana identik dengan bandeng, karena adanya salah satu pusat oleh-oleh di kota Semarang yang berlabel Bandeng Juwana. Dan rasanya memang tidak salah, karena sejak jaman dulu, Juwana terkenal sebagai penghasil bandeng yang konon enak karena tidak “bau tanah”. Juwana bukanlah sekedar bandeng presto, tapi merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Pati yang terletak di 80 kilometer ke arah timur dari kota Semarang. Mengapa tiba-tiba saya menulis tentang Juwana? Banyak yang istimewa dari kota ini, tapi satu diantaranya karena saya besar di sana.

Juwana adalah kecamatan yang dinamis, karena secara ekonomi sangat strategis bagi kabupaten Pati. Selain karena posisinya berada di jalur Pantura yang sudah ramai sejak zaman dulu karena dilalui jalan Deandles, Juwana dengan sungai Juwana atau sungai Silugonggo yang merupakan salah satu muara laut utara Jawa telah lama menjadi salah satu jalur perdagangan kayu dari Kalimantan, memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menampung hasil laut dari kapal-kapal nelayan yang ada. Selain itu Juwana juga merupakan daerah hasil tambak udang dan bandeng yang cukup dikenal, termasuk hasil produksi kerupuk udang dan terasinya yang lezat. Tidak ketinggalan, Juwana pernah dikenal sebagai salah satu pusat industri logam kuningan dan batik khas desa Bakaran. Belum lagi kuliner hasil lautnya yang mak nyus. Inilah yang membuat Juwana yang kecil itu menjadi sangat dinamis.

Sebelum adanya waduk Kedungombo, salah satu trademark dari Juwana adalah banjir tahunan. Jadi, pada waktu itu kalau seseorang dikenal berasal dari Juwana dan tidak bisa berenang, dengan bergurau orang mengatakan, “bagaimana mungkin setiap tahun pekarangan rumah menjadi kolam renang, sampai gede belum juga bisa berenang?” hehe …

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang banjir. Seperti saya ceritakan di atas, banjir merupakan event tahunan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Istimewanya lagi, karena Juwana adalah daerah muara yang menerima semua banjir limpahan dari hulu, biasanya banjir bisa berlangsung lama, bahkan lebih dari seminggu. Untung saja, sejak dibangunnya waduk Kedungombo, banjir tidak lagi datang setiap tahun, tapi hanya kalau debit air benar-benar besar saja. Sisa-sisanya dapat dilihat hari ini, yaitu rumah-rumah warga yang dekat dengan DAS Sungai Juwana biasanya dibangun cukup tinggi dari jalan, karena dipersiapkan sebagai rumah yang kebanjiran. Pada masa itu, stasiun kota Juwana yang lama tidak difungsikan, sering menjadi lokasi pengungsian banjir, terlebih saat banjir besar, seperti tahun 1981 misalnya. Hampir sebagian besar kecamatan Juwana terendam banjir. Tentu banjir menimbulkan kerugian yang cukup besar, namun ada sisi-sisi unik dari warga dalam menghadapi banjir, karena dalam situasi banjir itu, tidak semua warga mengungsi. Biasanya warga yang rumahnya terendam kurang dari 1 meter lebih memilih tidak mengungsi, tapi menikmati saja banjirnya.

Beberapa keunikan dalam menyiasati hidup bersama banjir misalnya :
  • Selalu menyediakan beberapa “dingklik” kayu yang difungsikan sebagai jembatan yang tersebar di dalam rumah, sehingga kaki tidak basah dengan air kotor. Setelah mandi di sumur atau di kamar mandi, tinggal naik ke jembatan dingklik, mencuci kaki dengan air bersih dan bebas berjalan dari satu dingklik ke dingklik lainnya. 

  • Selalu memasang palang bambu atau kayu terapung di depan pintu rumah. Bukan sebagai anti maling, tapi dipakai sebagai penghalang agar sampah yang terbawa banjir di depan rumah tidak masuk ke dalam rumah. 

  • Selalu menyediakan ban dalam mobil bekas, yang dimanfaatkan untuk bermain air atau belajar berenang untuk anak-anak. Tidak perlu ke sungai atau mencari kolam renang (karena memang tidak ada), cukup belajar berenang di depan rumah. 

  • Kalau ban dalamnya kebetulan adalah ban dalam truk, bisa dimanfaatkan sebagai perahu anak kecil, cukup memasukkan 1 buah ember cuci pakaian ke lubang di tengah ban, jadilah sebuah perahu. Atau kalau punya lebih dari 1 ban truk, cukup dirangkai menjadi rakit dengan meletakkan selembar daun pintu di atasnya 

  • Tidak punya ban dalam ? Solusi belajar berenang atau naik rakit adalah dengan memanfaatkan batang pohon pisang. Alhasil, di musim banjir banyak pohon pisang yang ditebang untuk dimanfaatkan batangnya 

  • Untuk anak-anak sekolah yang kebanjiran dan kebetulan sekolahnya tidak banjir, maka solusi untuk dapat tetap berangkat sekolah adalah dengan berlangganan ojek perahu. Biasanya perahu dapat menampung 5 – 8 anak, menjemput dari satu rumah ke rumah lain dan membawa anak-anak sampai ke tempat terdangkal dekat sekolah. Dengan demikian, walaupun bersandal jepit, anak-anak dapat tetap bersekolah dengan seragam lengkap 

Itulah sekelumit kisah masa lalu, di mata saya sebagai anak kecil pada waktu itu. Dalam setiap bencana, memang terjadi banyak duka dan kesedihan, namun juga dapat dinikmati sebagai kesenangan dan bahkan dinantikan. Namun selalu ada hikmah dan perjuangan untuk survive, dan pada akhirnya orang dapat hidup bersama bencana itu.

Kamis, 02 Mei 2013

CSR sebagai Content Brand Building : Ayo Menabung Pohon


Dalam suatu seminar bertajuk 10 karakter dan perilaku khas konsumen Indonesia, founder Frontier Handy Irawan menyatakan berdasarkan temuan data-data marketing research Frontier, salah satu dari 10 ciri khas konsumen Indonesia itu adalah kurang peduli lingkungan (low consciousness towards environment). Walaupun penelitian ini sudah dilakukan lebih dari 5 tahun yang lalu, tampaknya masih cukup relevan saat ini kalau ukurannya isyu-isyu lingkungan di sekitar kita. Dari yang sederhana : membuang sampah. Masih banyak kita jumpai sungai yang beralih fungsi menjadi tempat sampah raksasa. Dengan santainya sebuah sepeda motor yang melintas berhenti sejenak, melempar sekantung plastik sampah ke sungai, dan melenggang santai tanpa rasa bersalah. Kasus yang lebih kompleks : pencemaran. Berapa banyak industri yang concern terhadap pengolahan limbahnya? Atau soal hutan, yang konon adalah paru-paru bumi. Semakin maraknya bencana banjir dan tanah longsor salah satunya dikontribusi oleh penggundulan hutan. Dengan setengah berseloroh, salah satu peserta seminar itu mengatakan “kalau begitu campaign iklan dengan mengangkat isyu lingkungan tidak bakalan laku dong di Indonesia” Bisa jadi.

Oleh karena itu, sekilas melirik tema campaign Bank Niaga yang mengangkat tema Nabung Pohon Yuk, sejenak membuat saya berpikir, ini tema komunikasi yang sangat menantang. Janji Bank Niaga untuk mengajak Nasabahnya mencintai lingkungan dengan cara untuk setiap pembukaan Rekening Tabungan Junior ataupun TabunganKu, CIMB Niaga akan mendonasikan satu bibit pohon, secara bisnis memang menjadi penuh tanda tanya, sekalipun sebagai CSR Bank Niaga patut kita acungi jempol. Bukankah mainstream strategy menarik nasabah baru adalah menawarkan hadiah undian gemerlap atau memberikan bunga tabungan yang lebih tinggi 0,5% - 1% per tahun dibandingkan suku bunga Bank lain ? Selain itu CIMB Niaga juga telah menyediakan rekening CIMB Niaga Peduli Lingkungan. Melalui rekening ini, CIMB Niaga mengajak masyarakat untuk bisa berkontribusi terhadap lingkungan hidup, dengan mendonasikan dananya ke rekening tersebut. Dalam kegiatan CIMB Niaga Peduli Lingkungan ini CIMB Niaga bekerja sama dengan Yayasan KEHATI untuk pelestarian lingkungan di daerah Jawa yaitu di Pesanggrahan Sangga Buana dan Taman Kehati di wilayah Sumatera dengan nilai program senilai total Rp500.000.000.

Oleh karena itu, marilah kita melihatnya dari perspektif yang lain : keperdulian.

Keperdulian, apalagi terhadap lingkungan barangkali menjadi hal yang “mahal” untuk diwujudkan, namun kalau tidak ada yang memulai, dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi di masa mendatang? Bisa jadi lagu Koes Plus Nusantara yang menggambarkan Indonesia yang subur makmur tinggalah kenangan, yang tersisa adalah hamparan beton yang kering, hutan yang gundul dan bencana alam tak berkesudahan. Mengerikan sekali membayangkan sementara peningkatan produktifitas tanaman pangan masih terbatas, ditambah lagi masih terjadinya konversi lahan pertanian menjadi lahan property, atau barangkali pemanfaatan kayu di hutan yang tidak diimbangi dengan konservasi hutan yang memadai. Dari sisi ini kita patut merenung bahwa perilaku kita hari ini menggambarkan yang sedang kita persiapkan sebagai warisan bagi generasi mendatang, termasuk bagaimana kita memperlakukan lingkungan kita. Rusaknya keseimbangan lingkungan hari ini, akan berdampak pada menurunnya kualitas hidup generasi mendatang. Relakah kita ?

Mengangkat isyu lingkungan, barangkali baru menyentuh keperdulian kalangan terbatas, namun selalu harus ada yang memulai. Seringkali pertimbangan bisnis yang berhitung sukses – gagal secara material membuat enggan para pemasar untuk mengangkat isyu lingkungan sebagai tema utama. Namun ternyata itu bukan berarti tidak mungkin. Salah satu contohnya Body Shop yang konsisten mengangkat isyu lingkungan ternyata dapat membentuk market dan konsumen loyalnya sendiri, dan secara bisnis dapat berkembang.

Sekali lagi keperdulian. Semoga ini bukan sekedar tema CSR, namun benar-benar berasal dari hati yang memiliki keperdulian bagi masa depan, melalui kecintaan pada lingkungan. Sekalipun belum populer, namun selalu harus ada yang memulai.

Selamat untuk CIMB Niaga, Anda telah memulai satu langkah kecil menuju masa depan Indonesia yang lebih ramah lingkungan.

Senin, 22 April 2013

Kartini dan Kebayanya




Presiden Soekarno yang mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. (wikipaedia)

Kepahlawanan Raden Ajeng Kartini, sekalipun masih menimbulkan kontroversi di beberapa kalangan, namun saat ini secara umum hari Kartini masih juga dirayakan. Kegiatan yang pada umumnya dapat dengan mudah ditemukan dalam rangka peringatan hari Kartini, adalah kesetaraan gender, dengan mengangkat tema emansipasi, namun diwujudkan dengan dandanan cantik berkebaya. Pendek kata, hari Kartini adalah hari istimewa para wanita; yang dewasa berkebaya cantik ala Kartini, yang kecil pun berlenggok di atas catwalk bertemakan kebaya dan batik. Tentu melestarikan kebudayaan adalah hal yang sangat baik, namun bukankah bukan itu konteks hari Kartini ?

Kartini dijadikan pahlawan nasional tentu bukan karena kebayanya. Kartini dijadikan pahlawan Nasional karena pemikiran dan tindakannya. Barangkali gagasan Kartini hari ini adalah hal yang biasa, namun pada masanya sangatlah kontroversial. Kartini adalah figur wanita cerdas dan kritis. Karenanya sekalipun merelakan pendidikan formal nya terputus karena budaya pada masanya memang demikian, semangat belajar Kartini tidaklah pupus. Kartini melanjutkan belajarnya dengan membaca surat kabar dan berkorespondensi dengan sahabat Belandanya. Barangkali persinggungan antara permikiran Barat dengan semangat belajar Kartini pada akhirnya membuatnya kritis terhadap segala hal : tentang lingkungan budaya Jawa di mana dia hidup, tentang hasratnya untuk bersekolah di negeri Belanda, tentang cita-citanya agar kaum wanita mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Menghayati kepahlawanan Kartini adalah mencoba menyelami hasrat yang mendalam untuk maju, niat yang kuat untuk meraih cita-cita. Kartini dengan pemikiran dan cita-citanya semestinya menjadi inspirasi, bukan hanya bagi kaum wanita, namun juga bagi bangsa yang sedang merindukan banyak hal, yang masih berkutat dengan berbagai macam persoalan ini. Semoga dalam konteks ini kita tidak hanya cukup puas nyaman menjadi penonton dan membicarakan, namun juga mau mengambil hikmah darinya agar tidak tenggelam dalam wacana yang tak berkesudahan.

Kartini bukan sekedar kebaya dan sanggulnya. Kalau inspirasi Kartini diwujudkan hanya dengan mengenakan kembali sanggul dan kebaya Kartini saja, rasanya kita ini masih sekedar menjadi fans Kartini, tidak lebih dari si kecil yang menari berkostum K-Pop setelah menonton tarian gadis-gadis Korea di TV. Memperingati hari Kartini adalah mengingat semangat Kartini untuk menjadikan dirinya lebih baik, lebih bermakna bagi orang lain, dan yang paling penting bertindak untuk memperjuangkannya. Dengan demikian, berbicara tentang Kartini seharusnya bukan lagi berbicara masalah gender semata, namun mengenai semangat Kartini yang dapat menjadi milik semua orang. Kalau hari ini banyak wanita pintar, berpendidikan tinggi dan sukses, itulah hasil dari penghayatan semangat Kartini dari generasi terdahulu. Kartini telah pergi, tapi semangatnya tetap hidup dan menjadi inspirasi.

Selamat Hari Kartini !